Pelajar sebagai Roda Pergerakan Kemajuan Bangsa

Posted on

Oleh: Ahmad Radhitya Alam*

 

Dengan modal pendidikan yang mutakhir melalui berbagai sumber informasi dan semangat pemuda yang secara dialektis sanggup untuk membuat perubahan yang nyata, pelajar adalah paket komplit kemajuan bangsa Indonesia yang dinanti-nantikan. Sejak jaman pra-kemerdekaan, para pelajar di Indonesia telah berhasil membuktikan hipotesis berikut. Para terpelajar seperti Soetomo, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka telah menjadi pelopor-pelopor gerakan perubahan. Semangat pemuda dilanjutkan pada angkatan ’65. Kemudian meletus kembali di akhir Orde Baru yang menyambut era baru Reformasi di tahun 1998. Hampir di setiap periode, pelajar selalu memberikan warna bagi sejarah. Begitu juga di luar negeri, cerita Revolusi Kebudayaan di Cina dan The Great Refusal di negara Barat yang dicetuskan oleh pemikir Herbert Marcuse adalah secuil dari beragam bukti nyata kedigdayaan para pelajar. Pelajar adalah pembelajar yang sejati. Itu pula yang membuatnya menjadi penggerak yang paling kredibel. Memasuki era revolusi teknologi dan komunikasi yang membanjir, pelajar diharapkan dapat memberikan kontribusi yang maksimal demi kemajuan kedaulatan bangsa.

 

Namun, ada satu hal yang kerap kali luput dari perhatian mereka yang sangat optimistis dengan generasi muda, mungkin juga termasuk saya. Bahwa siraman informasi dan kemudahan komunikasi tersebut membuat generasi Z semakin majemuk, semakin Bhineka. Hal ini tentu menjadi sebuah tantangan yang menarik. Tidak menutup faktisitas sejarah, para Bapak Bangsa kita juga mengalami tantangan-tantangan menghadapi perbedaan yang sifatnya sebenarnya masih berdasarkan ras, etnis, asal muasal, keyakinan, dan sejenisnya yang bersifat menggolongkan. Namun, kini para pelajar harus terpecah dan terbagi menjadi berbagai fragmen, bukan hanya karena latar belakangnya berbeda, namun karena pilihan-pilihannya berbeda-beda. Cara berpikirnya berbeda-beda. Sikapnya berbeda-beda. Hanya untuk bertukar pikiran antara seorang pelajar beragama saja ragam pikirannya banyak bukan main. Belum lagi alirannya, perbedaan asupan informasinya, dan sebagainya.

 

Berbeda dengan para pelajar di jaman dahulu yang sumber informasinya terbatas, yang probabilitas kemungkinan perbedaannya terbatas pada beberapa sekat-sekat tertentu saja. Saya kira prinsip ‘Tabula Rasa’ John Locke bisa lebih fasih dalam menjelaskan perkara ini. Ihwal ini tentu harus kita anggap sebagai tantangan. Karena kalau kita sebut potensi, saya kira kita agak kurang berhati-hati dan kurang mencerminkan kerendahan hati. Sebagaimana semua tantangan selalu berposisi, ia bisa dengan mudah menjatuhkan suatu angkatan generasi. Kita lihat sendiri bagaimana terbukanya keran informasi telah berdampak pada derasnya banjir berita (bohong kadang-kadang), hoaks, (mis)komunikasi, dan selebihnya. Namun, sejujurnya, sebagaimana Tuhan selalu menyediakan hitam dan putih, tantangan ini juga menyediakan bagi kita peluang-peluang kemajuan sejarah.

 

Rasa ingin tahu yang dapat dengan mudah dicarikan penawarnya dapat menjadi pembuka pintu karsa inovasi. Platform komunikasi yang tak berpagar dapat menjadi wahana pertukaran gagasan-gagasan kebaikan. Kehadiran tagar berantai dapat menjadi penyatuan simpul-simpul gerakan solidaritas. Tawaran aplikas-aplikasi rovolusioner dapat memaksa para pengambil kebijakan untuk berlari tergopoh-gopoh menyesuaikan ketertinggalannya. Semua dialektika sejarah ini harus diposisikan sebagai satu kesatuan dengan fase remaja bangsa Indonesia yang sedang mencari kedewasaan jati dirinya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah terkabulkan. Generasi muda tidak pernah lebih majemuk deri sekarang. Namun dengan segala kecermatan, harus kita akui, frasa Tan Hana Dharma Mangrwa masih dalam proses penciptaannya. Masa-masa “alon-alon asal kelakon” harus berganti dengan langkah-langkah “maju tak gentar”. Pelajar haru saling bersinergi, bergandeng tangan, bergantian mengisi peran dalam hari-hari kemerdekaan bangsa, memimpin arus kendali lokomotif kemajuan bangsa. Pelajar dengan segala hak istimewanya dalam rel sejarah, sedang menyongsong hari-hari emas di mana perbedaan adalah sebuah kata kunci dalam dahsyatnya lesatan Negara Republik Indonesia. Nanti-nantikan, kebangkita generasi muda sudah dekat!

 

*Alumni Forum Pelajar Indonesia

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan