Tragedi Haringga Sirla dan “Keprimitifan” Kita

Posted on

Oleh : Aguk Irawan MN.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana seandainya antropolog Claude Lévi-Strauss itu masih hidup dan ada di tengah-tengah kita, terlebih ditengah suporter sepak bola antara Persib-Persija yang amat fanatik itu? Ia yang menjadi masyhur, lantaran meneliti orang-orang suku Amazon pada tahun 1930an, lalu menuangkan pengalamannya itu dalam bukunya yang terbit pada 1955, dengan judul: Tristes Tropique. Strauss dalam buku ini menyatakan dengan tegas, bahwa ciri masyarakat primitif secara intelektual adalah mendasarkan prilakunya atas berbagai mitos, termasuk ketika saling serang dan membunuh. Sikap demikian Strauss menyebutnya sebagai unimaginative dan temperamental irasional.

Lévi-Strauss menyematkan perspektif yang terbatas ini, setelah bertahun-tahun hidup dan bergumul dengan suku Caduveo, Bororo, Nambikwara dan Kawahib di kawasan Mato Grosso, Brazil. Dari sini ia juga menyimpulkan, bahwa hanya manusia primitiflah yang mungkin bisa menghilangkan nyawa sesama manusia hanya karena mitos, atau dalam arti lain, membunuh tanpa adanya unsur “salah” secara rasional. Logika dari term ini, Strauss seakan berkata, bahwa manusia modern atau post-modern mustahil bisa melakukan pembunuhan tanpa logika modern; atas dasar batil dan salah. Disinilah, salah satu jurang perbedaan antara masyarakat ‘beradab’ dan masyarakat ‘primitif’ menurut Lévi-Strauss.

Tetapi nyatanya, teori antropologi ini tak sepenuhnya bisa dibenarkan secara sosial. Setidaknya, jika itu dikaitkan, –jika benar kenyataan sosial yang akhir-akhir ini kita dapati, yaitu suporter Persija, Haringga Sirla (23 thn), terbunuh dengan cara dikeroyok oleh oknum suporter Persib. Bayangkan lagi, terbunuh dalam kerumunan massa, bukan sebagai pencopet atau penjambret, tetapi hanya karena hendak menonton sepak-bola. Anehnya, tidak ada satu pun yang menolong, tidak ada satu pun yang bisa menghentikan, juga, tentu saja tidak ada satu pun yang berusaha melerai. Sekai lagi, saya tidak bisa membayangkan seandainya Lévi-Strauss itu masih hidup dan ada di tengah-tengah itu?

Sebab itu, ”Jangan-jangan kita ini sejatinya masyarat primitif yang bedebah, tetapi mengaku beradab…,” kata penyair Anis Syausan, asal Tunisia dalam sajaknya “Salam Damai.” Kita pun lantas bergulat untuk menjawab deretan fakta yang ganjil ini. Kekerasan dalam bentuk pengalaman yang menggelikan ini seakan melampaui dunia imajinasi, sekalipun itu imajinasi-diskursif antropolog. Di luar lapangan sepakbola, akhir-akhir ini, kita memang sering disuguhi discourse, atau wacana verbal-kekerasan yang menggunakan media sosial seperti sebuah ring-tinju; tempat untuk saling mengejek, memukul lawan dengan terang dan dipertontonkan.

Setelah terlanjur ada korban, dengan nyawa hilang, orang-orang hanya bisa setuju dan saling bicara untuk dan atasnama keadaban. Dalam sajaknya Anis Syausan, berseru kepada zaman pasca-perang:

Kitapun menerima perbedaan, tetapi itu kulit luarnya saja!

Buktinya, perbedaan warna masih melukai kita

Perbedaan pilihan masih melukai kita

Perbedaan agama masih melukai kita

Bahkan maaf, perbedaan jenis kelamin pun, masih melukai kita

Benarkah apa yang diteriakkan penyair Anis itu kini nyata dalam masyarakat kita? Anda semua boleh percaya atau tidak. Tetapi saya, mengikuti logika Habermas, tiap adanya aksi komunikatif pasti ada unsur aksi-konsensus di tengah masyarakat. Selamanya apa yang tersirat selalu terdapat hubungan yang tersurat. Buktinya hadirnya bani kampret dan bani kecebong sudah bertahun-tahun belum juga berakhir. Bahkan daya saingnya itu terus mempengaruhi sekeliling arena tempat berlangsungnya penilaian dan keputusan politik yang cenderung berebut “baik” dengan cara ngasoraké. Bahkan lagi, kata ”baik”, “buruk”, “dosa”, “pahala”, “surga” dan “neraka”, sudah menjadi bagian konsensus dan perjalanan demokrasi kita. Wallahu’alam Bishawab.

 

Kasongan, 28 September 2018.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan