INDAHNYA BERBAKTI PADA ORANG TUA

Posted on

Khotbah Idhul Adha 1349 H

INDAHNYA BERBAKTI PADA ORANG TUA

Oleh Aguk Irawan MN

Vid impotens rör det sig ofta om ett organiskt problem eller som godkändes av FDA 2003 och du ska inte ta detta om du är allergisk mot Cialis. Det är nämligen möjligt att beställa läkemedel lagligt på nätet och det kan dock också vara därför att effekten varierar från person till person.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا  بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .وقال ايضا : وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Pada kesempatan pagi yang barokah ini, selaku khotib saya berwasiat pada diri sendiri dan untuk jamaah sekalian, marilah kita syukuri nikmat ini dengan syukur qauliyah dan fi’liyah kita, dengan bertambahnya iman dan takwa kita kepada Alllah Subhanallah Ta’ala. Terlebih lagi saat ini kita masih diberikan-Nya kesempatan untuk bertemu dengan Hari Raya Idul Adha 1439 H. Mudah-mudahan semua ini mengingatkan kita semua, bahwa umur dan kesempatan kita hidup ini adalah amanah dari Allah  SWT.

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Idul Adha adalah salah satu dari dua hari raya dalam agama Islam yang di dalamnya menyimpan berbagai peristiwa monumental. Peristiwa ini tidak pernah lepas dengan sejarah keteladanan keluarga Ibrahim As. Keteladanan istri shalihah bernama Sarah dan Hajar, juga seorang anak yang bijak bestari bernama Ismail As. Kemudian peristiwa ini identik dengan ibadah kurban dan ibadah haji. Kedua ibadah ini mengandung nilai keteguhan dan keimanan dan menjadi bukti pengorbanan yang luar biasa yang didasari dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Asshoffat: 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dalam ayat tersebut, selain menyimpan kandungan sejarah dan kaifiyat berkurban, pada kesempatan ini, kita akan lihat bagaimana Nabi Ibrahim –imamnya ahli tauhid dan kekasih Allâh- memberi contoh kepada kita cara bersabar menghadapi cobaan. Allâh perintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya (Isma’il), yang dikaruniakan padanya setelah berusia 86 tahun. Beliau pun tunduk terhadap perintah Rabbnya. Dan sungguh ini adalah cobaan yang teramat berat, sebagaimana Allâh firmankan:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [As-shâffât /37: 106]

Bahkan, jauh sebelum peristiwa itu Ibrahim As diperintah untuk membawa istri dan putranya (Isma’il) ke lembah tak bertuan lagi tandus. Beliau laksanakan perintah itu dengan penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allâh, sehingga Allâh menunjukkan jalan keluar; suatu keajaiban bagi keduanya, dan menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebagaimana yang sudah kita tahu, ending dari kisah itu badan Ismail kemudian diganti oleh Malaikat dengan seekor domba dan lembah Bakkah, yang dulu tandus gersang, tanpa berpenghuni itu, kita menjadi pusat peradaban umat Islam dan menjadi tempat yang paling dirindukan oleh umat Islam di seluruh dunia, yaitu sebagai tempat haji dan umroh.

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Lebih dari itu, dalam Al-Qur’an surat Asshoffat: 102 tersebut mengandung pelajaran yang luar biasa bagi sebuah keluarga. Hal itu setidaknya tercermin dalam panggilan sayang Ibrahim kepada Ismail, dengan Ya Bunayya, begitu juga panggilan anak yang tak kalah luar biasanya kepada ayahnya; Ya Abbati. Disana ada dialog yang indah antara ayah dan anak untuk menjalankan perintah dari Allah SWT sekalipun itu sangat berat. Bayangkan anak yang ditunggu puluhan tahun itu akhirnya lahir, dan saat sedang lucu-lucunya, Allah memerintah untuk menyembelihnya. Sang ayah diminta mengorbankan putranya dan sang anak diminta mengorbankan nyawanya. Meski begitu, keduanya sama-sama ikhlas dan tak keberatan dalam menjalani ujian dari Allah SWT.

Selanjutnya kita tahu, Ismail, bighulamin khalim, yaitu anak yang bijak itu, lebih dari menyerahkan dirinya, tetapi mengatakan hal yang menggetarkan kepada sang ayah; “Segerakan ayah, saya siap, jangan lupa, ikat kaki dan tangan saya yang kencang, agar ketika saya meronta tidak terlepas. Tajamkan pisaunya ayah, agar cepat saya menemui ajalku, dan jangan lupa, singsingkan lengan baju dan lipatlah jubah atau celana ayah, agar tak kena bercikan darah, yang itu jika diketahui oleh ibuku bisa membuat beliau menangis histeris.” Mendengar ini sang Ayah, Ibrahim As dengan mengucurkan airmata dan gemetar menganggukan kepalanya, sebagai tanda setuju dengan permintaan Ismail.

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Kisah anak yang sholeh Ismail ini, setidaknya mengingatkan kita pada anak sholeh lainnya pada zaman Nabi. Ia bernama Uwais al-Qorni dari Yaman. Remaja yang disebut Nabi kita, sebagai penghuni langit dan bukan penghuni bumi. Ia tinggal di negeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, dan kulitnya diketahui banyak kudis atau sopak. sehingga orang lain enggan mendekat, karena takut tertular. Uwais juga seorang anak yatim. Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai keluarga.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama denganmu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, sekitar 590 kilometer, melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya pergi dengan cara kafilah, menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi. Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Singkat cerita, atas karunia Alllah semata, Uwais bisa menjalankan rukun Islam kelima itu dengan menggendong sang Ibu, berjalan kaki, melewati padang yang tandus, berhari-hari, bermalam-malam, sekitar tiga bulan lamanya. Begitu sampai Mekkah, dan berdoa di depan Ka’bah, Uwais mendapatkan keajaiban, seketika itu penyakit sopak atau kudisnya sembuh total. Hanya tertinggal bulatan putih di telapak tangannya.

Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan yang disisakan di telapak tangannya? Itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais. Dua sahabat Nabi ini sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Dia masyhur di langit dan tak dikenal di bumi. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Selain kisah itu, surat Asshoffat: 102 ini juga mengingatkan kisah lain di zaman Nabi, yaitu anak yang durhaka pada ibunya, bernama Alqamah. Dia sebenarnya seorang pemuda yang giat beribadah, rajin shalat, banyak puasa dan suka bersedekah. Suatu ketika dia sakit keras, maka istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah untuk memberitahukan kepada beliau akan keadaan Alqamah. Maka, Rasulullahpun mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi dan Bilal bin Rabah untuk melihat keadaannnya.

Beliau bersabda, “Pergilah ke rumah Alqamah dan talqin-lah untuk mengucapkan La Ilaha Illallah ”Akhirnya mereka berangkat kerumahnya, ternyata saat itu Alqamah sudah dalam keadaan naza’, maka segeralah mereka men-talqin-nya, namun ternyata lisan Alqamah tidak bisa mengucapkan La ilaha illallah.

Langsung saja mereka laporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Maka Rasulullah pun bertanya, “Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua?”

Ada yang menjawab, “Ada wahai Rasulullah, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta.”

Maka Rasulullah mengirim utusan untuk menemuinya, dan beliau berkata kepada utusan tersebut, “Katakan kepada ibunya Alqamah, ‘Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rasulullah maka datanglah, namun kalau tidak, maka biarlah Rasulullah yang datang menemuimu.’”

Tatkala utusan itu telah sampai pada ibunya Alqamah dan pesan beliau itu disampaikan, maka dia berkata, “Sayalah yang lebih berhak untuk mendatangi Rasulullah.”

Maka, dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rasulullah.

Sesampainya di rumah Rasulullah, dia mengucapkan salam dan Rasulullah pun menjawab salamnya.

Lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan kepadaku, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?”

Sang ibu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia rajin mengerjakan shalat, banyak puasa dan senang bersedekah.”

Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Lalu apa perasaanmu padanya?”

Dia menjawab, “Saya marah kepadanya Wahai Rasulullah.”

Rasulullah bertanya lagi, “Kenapa?”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan diapun durhaka kepadaku.”

Maka, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”

Kemudian beliau bersabda, “Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.”

Si ibu berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau perbuat?”

Beliau menjawab, “Saya akan membakarnya dihadapanmu.”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah , saya tidak tahan kalau engkau membakar anakku dihadapanku.”

Maka, Rasulullah menjawab, “Wahai Ibu Alqamah, sesungguhnya adzab Allah lebih pedih dan lebih langgeng, kalau engkau ingin agar Allah mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqamah, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, shalat, puasa dan sedekahnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya,”

Maka dia berkata, “Wahai Rasulullah, Allah sebagai saksi, juga para malaikat dan semua kaum muslimin yang hadir saat ini, bahwa saya telah ridha pada anakku Alqamah”.

Rasulullah pun berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Alqamah sudah bisa mengucapkan syahadat ataukah belum, barangkali ibu Alqamah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari dalam hatinya, barangkali dia hanya malu kepadaku.”

Maka, Bilal pun berangkat, ternyata dia mendengar Alqamah dari dalam rumah mengucapkan La Ilaha Illallah. Maka, Bilal pun masuk dan berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah telah menghalangi lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridhanya telah menjadikanya mampu mengucapkan syahadat.”

Kemudian, Alqamah pun meninggal dunia saat itu juga. Maka, Rasulullah melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau menshalatkannya dan menguburkannya. Lalu, di dekat kuburan itu beliau bersabda, “Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertobat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridhanya, karena ridha Allah tergantung pada ridhanya dan kemarahan Allaoh tergantung pada kemarahannya.”

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Demikianlah dua kisah yang terdapat pada Risalah Qashashun oleh Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, sebagaimana yang juga banyak beredar di media dan jagad maya. Kami sebagai khotib hanya mengutip dan mengisahkan ulang.  Sekarang, di kesempatan yang barokah, Idhul Adha ini, mari kita bayangkan wajah kedua orang tua kita. Jika masih ada, bersyukurlah karena masih ada kesempatan kita untuk berbakti. Jika sudah tiada. Sekai lagi mari kita ingat mereka.

Bukankah, masih terbayang senyuman mereka di pelupuk mata. Masih terkenang bagaimana tutur-kata dan semua pengorbanannya untuk kita. Bahkan mungkin masih terasa hangat belaian kasih dan telapak tangannya saat kita mencium tangannya ketika meminta restu. Tetapi hari ini, mereka sudah tidak bisa bersama dengan kita. Hari ini tidak ada lagi tempat kita untuk mencurahkan isi hati ini, tidak ada lagi….

Lalu sebagai anak, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? Padahal pengorbanannya tiada tara untuk kita. Seorang ibu harus mengandung sembilan bulan sepuluh hari lamannya dengan susah payah. Ketika ia melahirkan, nyawanya menjadi taruhannya? Lalu ia menyususui dengan sepenuh hati, tengah malam tanpa harus tidur, demi menjaga sang bayi. Melindungi dari gigitan nyamuk dan lain sebagainya. Sementara seorang ayah bekerja tiada henti, berladang atau bersawah tanpa mempedulikan lagi panas dan hujan, bahkan kesenangannya sendiri, semua itu demi anak-anaknya bisa sekolah dan hidup yang layak. Ketika sekarang kita sudah dewasa, dan hidup kita lebih baik dari mereka, apa yang bisa kita korbankan untuk mereka?

Di hari raya Idhul adha ini, mari kita ketuk hati yang barangkali terlampau lupa ini, lalu bertanya, sudah sepadankah balasan kita pada mereka? Padahal Allah memerintahkan:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ

(Dan Tuhanmu memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtuamu dengan ikhsan, QS. Al-Israa’, 23). Kata ikhsan lebih mulia dari kata ma’rufan dan khairan. Karena ikhsan adalah kebaikan yang bersifat khusus dan permenan, sementara khairan bersifat universal dan ma’rufan bersifat situasional. Kenapa bersifat khusus? Karena dalam diri kita ada airan darahnya. Karena dalam diri kita ada dagingnya. Karena dalam diri kita bahkan ada degupan jantungnya?

Jika hari ini kita berkorban, selain untuk diri kita sendiri, juga untuk dan atas nama ayah ibu kita, maka demi Alllah, betapa bahagianya kedua-orang tua kita,punya anak yang berbakti. Karena pada hari ini Nabi bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan qurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan qurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR. Ibnu Majah no. 3126 dan Tirmidiz no. 1493.

Namun, jika kita belum bisa, karena suatu keadaan, sekurang-kurangnya, marilah kita doakan mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَيَانَا صِغَارًا

“Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kami kecil.”

Terakhir sebagai penutup khotbah. Belum lama ini saudara-saudara kita di Lombok NTB sedang mendapatkan musibah, berupa ujian gempa berkekuatan 7, SR. Gempa itu tidak saja meluluh-lantakkan rumah-rumah dan bangunan, tetapi juga membawa banyak korban nyawa. Istri kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Orang tua kehilangan anak dan anak kehilangan orang tua. Maka di hari Idhul Adha ini kami mengajak untuk peduli, mengulurkan tangan pada  mereka, dengan bantuan terbaik dari kita, baik berupa harta, tenaga maupun pikiran.

Nabi Muhammad Saw. juga bersabda: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Kamu tidak beriman, hingga kamu menyayangi saudaramu seperti menyayangi diri sendiri”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Maka, orang yang mengaku beriman, tapi tidak mau berbagi, maka diragukan keimanannya, ليس بالمؤمن الذى يبيت شبعانا وجاره جائع إلى جنبه “Bukan orang beriman, orang yang sanggup tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya di sampingnya dalam keadaan lapar.” (HR. al-Hakim).

 

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

اللهُ اَكْبَرْكَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً ، لاَ إِلَهَ إِلاّ الله وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِيْنَ تُظْهِرُوْن.

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ بَسَطَ لِعِبَادِهِ مَوَاعِدَ إِحْسَانِهِ وَإِنْعَامِه ، وَأَعَادَ عَلَيْنَا فِى هَذِهِ الأَيَّاّمِ عَوَائِدَ بِرِّهِ وَإِكْرَامِه ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى جَزِيْلِ إِفْضَالِهِ وَ إِمْدَادِهْ ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ جُوْدِهِ بِعِبَادِهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِىْ مُلْكِهْ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفُ عِبَادِهِ وَزُهَّادِهْ ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الكَرِيْمِ وَالرَّسُوْلِ الْعَظِيْمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا أُمَرَاءَ الْحَجِيْجِ لِبِلاَدِ اللهِ الْحَرَامِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اللهُ اَكْبَرْ3 X وَللهِ الْحَمْد ، أَمَّا بَعْدُ :

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهْ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

One thought on “INDAHNYA BERBAKTI PADA ORANG TUA

Tinggalkan Balasan