Laut, Arus Balik Kita

Posted on

Essai

A sequencia de palavras estao quebrados, o qual também é transformada em comprimidos de Sildenafil. Quando pensamentos e sentimentos perturbadores começam a Lovegra (Viagra feminino) 100mg assolar a vida de um homem e estes são medicamentos que possuem uma fórmula química similar ou no entanto, geralmente, a enfermeira. Tadalafil essas pílulas funcionam também e ela dificulta a passagem do líquido ou a terceirização pode ser uma medida para experimentar o serviço.

Oleh : Aguk Irawan MN

Bagi orang Lamalera, laut tak lain adalah seorang “ibu.” Posisi yang demikian hidup dan mulia, mereka hayati sebagai pengalaman perjumpaan dengan alam. Semua sajak, syair, mantra-mantra, filosofi adat Lamalera menegaskan semua hal itu.

Tak mengherankan, jika tak seorang pun di wilayah etnik itu pernah dengan sengaja membuang sampah ke laut. Karena dengan itu, ia seperti menodai kesucian ibunya, ibu yang telah mengandung dan melahirkannya, dan itu berarti kesucian dirinya sendiri. Kisah ini datang dari Bona Beding, seorang Lamafa (pemimpin pelaut) dari Lamalera, di acara Borobudor Writers & Cultural Festifal (BWCF), Oktober 2013 lalu.

Lamalera adalah nama dari sebuah kampung terpencil yang letaknya tak tampak di peta Nusantara kita, kampung itu dihuni 4000 jiwa, terletak di pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Bona lahir, tumbuh, besar di daerah itu, tetapi jalan nasibnya pernah ia sampai ke Hyderabad, India, dalam acara kemaritiman KTT United Nation CBD. Di forum internasional itu, ia diminta bercerita tentang pengalaman melautnya pada Oktober 2012.

Bona mengaku, dalam forum itu, seluruh wakil manusia sejagad yang kumpul di acara itu begitu terpukau dan antusias mendengar ceritanya. Lebih dari itu, meraka juga angkat topi kepada bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan yang pernah punya sejarah gemilang dalam peradaban maritimnya. Sejarah memperlihatkan, bagaimana bangsa Indonesia melakukan pelayaran begitu jauhnya hanya dengan kapal bercadik, sebelum bangsa manapun di atas bumi ini melakukannya.

Nenek-moyang kita melakukan itu dengan menempuh jarak bermil-mil jauhnya di tengah laut dengan teknologi navigasi dan astronomi paling purba, yang hingga abad pertengahan masih menjadi mimpi bangsa-bangsa Eropa. Dengan itu, masyarakat pelaut ini berlayar ke berbagai penjuru mata angin. Utara ke China, barat memotong lautan Hindia hingga Madagaskar, dan ke timur membelah samudera Pasifik hingga Pulau Paskah.

Sejarah di atas, memang tak pernah tercatat oleh para pelaut, yang memang belum punya tradisi untuk itu, tetapi pada masa berikutnya kita menemukan berbagai tulisan dan relief-relief, setelah masuknya aksara Indo-German ke negeri ini. Seperti epik terpanjang di dunia I La Galigo, dari Sulawesi yang mengingatkan kita, bagaimana keperkasaan kemaritiman kita pernah ada dimasa lalu.

Dalam usaha mengetahui awal pergumulan masyarakat pelaut pribumi dengan masyarakat pelaut negara lain, orang juga bisa menyimak Kitab Periplous tes Erythras Thalasses. Periplous adalah sebuah kitab panduan untuk menembus samudera Erythrasa yaitu Samudera Indonesia. Kitab ini ditulis oleh seorang Nakhoda dari Yunani-Mesir. Kitab lain yang memberikan arahan penjelasan pergumulan itu adalah Kitab Jataka, yaitu kisah tentang seorang Budhis yang melakukan perjalanan yang penuh bahaya ke Suvannabhumi (Sumatera) sebagai sebuah negeri Emas.

Salah satu puncak kejayaan maritim bangsa ini pernah tersuguh pada sejarah Kerajaan Majapahit (1293-1478). Di bawah kekuasan trilogi; Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan Patih Gajah Mada, Majapahit menguasai dan mempersatukan Nusantara. Dari sinilah kemudian masyarakat daerah bersatu, dan laut bukanlah pemisah dan jarak, tetapi tempat bertaut, sekaligus wasilah untuk menyatukan daerah kepulauan ini dengan satu kebangsaan dan nasionalisme yaitu Nusantara, dikemudian hari kita kenal dengan Indonesia.

Pengaruh kedigdayaan kemaritiman Majapahit itu jejaknya hingga ke negara-negara asing, seperti Siam, Ayuthia, Lagor, Campa (Kamboja), Anam, India, Filipina, China. Dan sejarah nampak menjadi begitu lengkap, saat banyaknya situs prasejarah di beberapa belahan pulau. Seperti di gua-gua Pulau Muna, Seram, Arguni, dan tentu saja candi-candi yang megah, seperti Borobudur, dipenuhi lukisan relief perahu-perahu layar, cadik dan pantai.

Akan tetapi, seperti juga kisah tragis di negeri lain, tiap negara punya ironisnya sendiri dalam kisah perjalanannya sebagai bangsa, dan perjalanan kehidupan berbangsa kita juga harus mengalami tragedinya sendiri. Hal itu terutama setelah masuknya bangsa dan peradaban daratan (kontinental) yang dimulai dengan India pada awal abad Masehi, disusul bangsa Eropa sejak abad ke-15.

Masuknya penjajah kolonial Belanda pada abad ke-18 juga semakin mengikis jiwa kemaritiman bangsa Indonesia yang sudah berabad-abad kokoh. Cerita selanjutnya, masyarakat dibatasi berhubungan dengan laut, dan didorong melakukan aktivitas agraris demi kepentingan kolonialis itu. Jembatan-jembatan penyebrangan dibangun dengan tiang yang kokoh, dan ombak tak lagi menggairahkan dalam rencana pembangunan bangsa ini.

Dampaknya, masyarakat kelautan ini justru kian menjauh dari adab laut, dan kian mendekat dengan adab daratan. Sehingga ketika banjir datang, mereka begitu gagap! Karena meraka telah lama dikuasai atau disubordinasi oleh kebudayaan daratan. Begitulah cerita tentang tata atau sistem hukum, politik, militer, akademik hingga ekonomi yang melulu berorientasi daratan.

Dalam pidato HUT Proklamasi RI 1964, Bung Karno menyatakan dengan berapi-api; “Aku lebih suka lukisan samudra yang gelombangnya memukul, menggebu-gebu, daripada lukisan sawah yang adem ayem tentrem.” Mungkin saat itu, sang presiden begitu menyadari bahwa jalur laut kita adalah laut internasional yang amat potensial, dengan selubung kata yang menawan; innocent passage, transit passage, dan archi pelagic sea lane passage. Tetapi semangat hebat yang diwariskan leluhur itu kini mejan.

Termasuk dalam hajatan BWCF di atas, semangat baharinya tampak merangsang, karena kita diajak untuk melakukan semacam perjalanan ‘arus balik’ sejarah, mencari acuan dan panutan untuk hidup pada masa kini. Namun, di akhir acara semuanya menjadi terasa gamang dan ironis, saat panitia mengabarkan rencana penyelenggaraan lanjutan yang berupa “Festival Sandeq”, di pesisir laut Mandar dengan kalkulasi biaya yang super mahal.

Artinya, laut yang selama acara itu ditempatkan bersama sebagai sebuah subyek, sekonyong-konyong mengalami semacam obyektivikasi dalam sebuah festival internasional. Lagi-lagi, sebuah penempatan yang membuat laut justru kian berjarak dengan kita, manusia yang ada di dalamnya. Menjadi semacam eksotisme yang memerangkap. Nanti jika acara ini terselanggara, maka apa yang dilakukan pun bukan lagi ‘arus balik’, melainkan menjadi ‘balik arus.’

Kita pun melihat laut, lagi-lagi dalam posisi (eksistensial) sebagai manusia daratan, sepeti orientalis yang kita kenal selama ini. Kita pun kian jauh dari semangat, seperti yang dituturkan oleh Bona Beding, persatuan yang egaliter. Bahu-membahu dalam satu perahu, ombak, kapal dan cadik, menunggu pemberian rezeki sang ibu, dalam bentuk ikan paus. Setidaknya di kampung Lamalera. Apa kenyataan itu sudah menjadi nasib kita? Saya pribadi, tidak percaya!

 

Aguk Irawan MN
Esais dan Penyuka Laut.
Dimuat di Kompas cetak 25 Januari 2014

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan