HUDA S NOOR: BAKAT SENI, CINTA DAN KESENDIRIAN

Posted on Posted in Esai, Karya, Orbituari, Pengasuh pesantren

Oleh Aguk Irawan MN

Pada hari Selasa, 6 April 2021 kemarin adalah hari duka bagi bangsa Indonesia. Dua putra terbaiknya, Umbu Landu Paranggi
dan Daniel Dhakidae meninggalkan kita untuk selamanya. Kita tahu Umbu, reputasinya bukan hanya seorang penyair legendaris Maliboro, tetapi ia juga paus dan begawan puisi, begitu halnya dengan Dhakidae, ia lebih dari seorang intelektual, tapi juga Sang Pamomong melalui Prisma yang komandani.

Rasa duka hari itu kian lengkap, karena sebelumnya, tengah malam menjelang pagi hari itu, seorang seniman asal Temanggung juga telah dipanggil Allah, almarhum adalah Huda S Noor (HSN). Sahabat karibnya sering menjuluki almarhum adalah seniman abadi kampus.

Untuk mengenang Penyair Umbu dan Cendekiawan Dhakidae, senior saya Mas Hairus Salim, sudah menuliskannya pada laman fb-nya dengan sangat ciamik. Catatan kecil ini hanya akan sedikit menyinggung almarhum Huda S Noor. Ikwal pertama yang perlu disinggung adalah, kenapa sahabat karibnya sering menjuluki almarhum adalah seniman abadi-kampus?

Ini bisa dijawab dengan bukti, bahwa sejak HSN turut mendirikan Sanggar Nun di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, pada tahun 1992, hingga hari ini Sanggar Nuun masih eksis dan telah memproduksi ratusan karya, baik karya teater, musikalisasi puisi, etno-musik shalawat, kesusastraan dll, nyaris HSN ikut terlibat di dalamnya secara aktif. Iapun tak sungkan dengan mahasiswa baru yang umurnya jauh lebih muda darinya.

Salah satu karya dramawan besar berkebangsaan Mesir Taufik El-Hakim: “Ashabul Kahfi” ia sutradarai dan pentaskan di Gedung Kebudayaaan (Sosietet) Yogyakarta, suatu malam menjelang Ramadhan pada tahun 2000. Selain karya bersama di Sanggar Kampus Nuun, iapun menjadi pemegang paten hak atas karya film dokumenter “Nyadaran di Sorowajan”, produksi LKiS Yogya. Sebuah film yang merekam tentang kerukunan umat beragama disalah satu sudut kota Yogya.

Film dokumenter tersebut telah mendapat banyak apresiasi dan penghargaan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sementara diantara karya bersama yang perlu disebut karena ia terlibat menjadi salah satu penulis naskah dan pengambilan gambarnya, yang sebagian pernah ditayangkan di TVRI dan bioksop seluruh Indonesia adalah “Menur Pudak Wangi”, “Dawai Jiwa Bergerimis Rindu”, “Pintu Tanpa Kunci”, “Pantai Ibu”, “Lampor”, “Sotong di Papua”, “Wali-Wali Jawi, dan lain sebagainya.

Hal lain yang menarik dari HSN adalah jalan hidupnya yang tak biasa. Dengan segala ironi, Allah telah memberi HSN tiga hal: bakat seni, cinta dan kesendirian. Bayangkan, pada usia setengah abad, HSN memeilih hidup dengan membujang tanpa beban.

Bakat seni tentu saja, saat itu kita bisa bayangkan mahasiswa IAIN yang kuliah jurusan Adab (agama), tapi aktifitasnya adalah kesenian, terutama film, yang pada saat itu sebuah “profesi” yang sangat asing di telinga mahasiswa IAIN. Karenanya tak berlebihan, kalau HSN termasuk pengagum berat sosok Asrul Sani, seorang kiai dan aktivis legendaris yang menampilkan islam washatiyah dan pendiri Lesbumi PBNU.

Menurutnya pada banyak kesempatan, Asrul Sani wajib diusulkan menjadi Pahlawan Nasional, karena jasa-jasanya yang berjibun, hal lain yang penting adalah supaya ia bisa lebih menginspirasi santri untuk berkarya. Karenanya ketika kami menjadi bagian dari Lesbumi, HSN selalu mendesak agar Lesbumi, sebagai bagian dari aspirasi ulama-budayawan di PBNU agar secepatnya mengusulkan Asrul Sani secara resmi ke negara sebagai pahlawan.

Begitupula yang kami tahu saat HSN mendapatkan sowan beberapa kali dengan Ketua Umum PBNU, Prof KH. Said Aqiel Siraj, nama Asrul Sani selalu ia singgung dalam kesempatan yang sangat terbatas itu.

Selanjutnya soal cinta, setahu pendek kami, ia hanya pernah jatuh cinta sekali pada seorang mahasiswi ketika sama-sama masih aktif kuliah dahulu, dan cinta itupun mekar-bersemi, tetapi takdir berkata lain, HSN tak dapat restu dari orang tua mahasiswi tersebut, dan mungkin inilah salah satu yang menjadi alasan kenapa sampai pada usia setengah abad HSN masih menikmati kesendiriannya.

Sebagai karib, tak jarang kami dapatkan hal yang ganjil, saat HSN tiba-tiba menghentikan sepeda montornya, lalu berteduh dibawah pohon sejenak, kemudian tersenyum, dan ia mengaku sedang melepaskan rindu sejenak dengan orang yang dicinta itu, lalu tak jarang pula ia berseloroh dengan puisi yang mirip karya IBnu Arabi:

Aku masih akan mabuk cinta.
Kemanapun cinta bergerak
Langkahku akan bersamanya
(“al-Hubb wa al-Mahabbah al-Ilahiyyah”)

HSN begitu meyakini bahwa dengan tulus mecintai seorang hamba, bisa menjadi wasilah mecintai-Nya. Karena semesta cinta itu satu, yaitu terambil dari nafas af’al-Nya. Sementara bagi HSN cinta dan jodoh, itu dua hal yang berbeda, meskipun sama-sama misteri.

Menurutnya cinta lebih dari rasa. Karena essensinya tak diketahui dan selalu sungguh menakjubkan. Sementara jodoh adalah “tanasub al-ruhain”, kesesuaian dua ruh yang punya chemistry. Maka bagi HSN bersyukurlah bagi yang mudah dipertemukan jodohnya, bila sulit seperti dirinya, maka sabar dari ujian cinta adalah pintu lain.

Karenanya ia selalu mengulang-ngulang kalimat: “Dari hujan aku belajar bahasa air bagaimana berkali-kali jatuh tanpa sedikitpun mengeluh pada takdir. Dari air aku belajar tenang, dari batu aku belajar tegar.” Perkataan ini juga mengingatkan akan nukilan dari Ibnu Arabi.

Aduhai, air yang mengalir
menembus akar dan dahan-dahan
Engkau menemuinya
Bersumber dari satu mata air
Dan Kau lihat ia merekahkan bunga
berwarna-warni. (Tarjuman al-Asywaq)

Karena perjalanan cintanya yang tak biasa ini, kami menjadikan HSN sebagai tokoh inspirasi pada dua novel kami: “Patah Hati yang Terindah” (Dolphin), dan Maha Cinta (Glosaria Media). Ketika kami memberinya novel itu di kediamannya di Desa Glondong, Temanggung, ketawanyapun meledak.

Apalagi saat itu kami lengkapi hadiah buku penting karya Buya Husain Muhammad, “Ulama-lama yang memilih Menjomblo Sepanjang Hayat”, dan buku Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis sebuah buku khusus yang menarasikan beberapa ulama lajang berjudul al-Ulama’ al-Uzzab alladzina atsarul Ilmi alaz Zawaj.

Beberapa ulama yang melajang hingga akhir hayatnya tersebut sangat kita kenal bahkan karya-karyanya kita telaah saat belajar di pesantren, seperti Ibn Jarir at-Thabary (mufassir), al-Zamakhsyari (mufassir Muktazilah), Imam an-Nawawi, Ibn Taimiyah, Abul Ala al-Maarri, Khadijah bin Suhnun, Jamaluddin Al Afghani, Abbas Aqqad, Abdurrahman Badawi, Karimah al-Marwaziyyah, Said Nursi dan beberapa ulama besar yang lain.

Diakhir perjumpaan menjelang senja itu, HSN berseloroh sambil ketawa pada kami saat itu, “Nuwun buku-bukunya ya Guk, nanti akan saya bacakan di depan ibuku, ha ha ha…” Selamat jalan kawan, senior, bahagia disisi-Nya. Amin

Gua-Kidul, Cirebon, 7 April 2020

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *