Lukisanku

Posted on Posted in Cerpen

Oleh: A. Muhaimin DS

Seperti biasanya, anak-anak itu berkumpul di rumah Kang Sui setiap hari minggu. Mereka datang dengan suka cita untuk belajar melukis. Kang Sui membebaskan anak-anak itu untuk berkreasi tentang banyak hal. Yang paling imajinatif pun akan selalu mendapatkan apresiasi darinya.
Suatu jumat, datang Agi seorang murid di sebuah sekolah dasar di desanya. Tak biasanya ada anak yang datang ke galeri lukisnya selain hari minggu. Karena selain hari minggu Kang Sui akan mengahabiskan waktu untuk pergi ke berbagai tempat. Untuk menemukan inspirasi lukisan yang akan dibuat nantinya. Dan memang kebetulan atau memang sudah takdirnya, jumat itu ia tak pergi ke mana-mana.
“Kang kata guruku, lukisanku jelek”, ungkap Agi setengah terisak juga gelagapan mengatur nafasnya, karena ia menangis sambil berlari. Sebab ia memutuskan melompat pagar dan pergi dari sekolah menuju Galeri Lukis Anak Kampung milik Kang Sui.
***
Aku mendapatkan tugas melukis minggu lalu. Waktu yang cukup panjang tersebut kugunakan dengan amat penuh perjuangan. Aku tak lelah mondar-mandir ke sawah sepulang sekolah. Bahkan aku akan membawa alat lukisku saat menggembala kerbau sore hari.
Teman sebayaku akan sibuk mencari belalang saat menggembala, tapi aku akan sibuk dengan kuas dan kertas gambar di padang gembala. Sambil mengamati hewan-hewan gembalaanku yang sewaktu-waktu bisa kabur atau sekedar makan tanaman milik tetangga.
Kertas yang disediakan dari sekolah hanyalah satu lembar saja. Saat pertama kertas itu ku pegang, dalam hati aku meragukan aku akan melukis di satu kertas saja. Sebab pengalamanku, aku tak akan pernah puas dengan satu gambar saja. Akhirnya kuputuskan, untuk membeli lagi kertas jenis yang sama dari pemberian guruku. Sekitar sepuluh lembar. Aku bertekad menghasilkan lukisan setiap harinya, sehingga ketika waktu pengumpulan telah tiba, aku hanya butuh memilih satu lukisan terbaikku.
Setiap sore, aku akan membawa kerbau-kerbau keluar dari kandangnya. Lima ekor jumlahnya, empat ekor merupakan kerbau milik Haji Sodik sedangkan satu ekor anak kerbau menjadi milik bapak sebagai upahnya. Hanya sebatas itu yang ku tahu, kerbau sebanyak lima ekor di kandang belakang rumah bukanlah milik bapak sepenuhnya. Pagi hari bapak akan menggembalakannya, dan sore hari giliranku yang menjadi gembala kerbau. Sementara bapak akan merawat sepetak sawah peninggalan kakekku. Bapak juga akan mencari rumput untuk kerbau-kerbaunya sepulang dari sawah.
***
Sejak mendapatkan tugas melukis dari guru di sekolah. Aku membawa alat lukis setiap kali menggembala kerbau. Aku akan sibuk menata alat lukisku ke dalam tas plastik setiap akan berangkat menggembala. Tas plastik tersebut akan sangat melindungi lukisanku ketika hujan turun di tengah penggembalaanku.
“Buat apa sih nak?” tanya ibu saat melihat aku menyiapkan alat lukisku ke dalam tas plastik. “Ada tugas dari sekolah bu” jawabku seraya tersenyum padanya. Ibu kemudian akan sibuk dengan menjaga adikku yang masih berumur dua bulan. Adikku yang masih sangat kecil tak memungkinkan untuk diajak ke sawah atau menggembala kambing. Dulunya memang ibu akan menggembala kambing setiap sore, namun kambing-kambing itu telah dijual dan tinggal kerbau-kerbau tersebut satu-satunya tabungan untuk keperluanku sekolah, selain mengandalkan hasil panen dari sepetak sawah peninggalan kakek tentunya.
Sore itu aku gagal melukis. Banyak kerbau yang berkumpul sore itu. Tentunya akan semakin mudah mengawasinya, namun kerbau-kerbau itu saling kejar. Sampai akhirnya sore itu kerbau jantanku harus beradu tanduk dengan kerbau jantan milik Kang Sobri. Tak mungkin bagi kami para penggembala untuk melerainya, itu suatu yang berbahaya dan berisiko tinggi. Sehingga tiada pilihan, selain hanya mengamatinya hingga mereka lelah untuk beradu tanduk dan saling meninggalkan satu sama lain.
Dua hari selanjutnya aku pun gagal untuk melukis lagi. Karena cuaca sore itu gerimis tak berujung. Sampai-sampai kertas gambar yang kubawa ikut basah karena tas plastik yang kubawa sobek saat aku berlarian mengejar kerbau-kerbau gembalaanku yang takut dengan suara petir. Memang kerbau-kerbau itu akan sangat nyaman dengan dinginnya air hujan, bahkan kerbau-kerbau tersebut akan semakin menikmati suasana dingin dengan berkubang pada lumpur, tapi mereka takut kilat dan suara petir.
***
Tiga hari menjelang pengumpulan tugas melukis itu, aku menemukan sebuah objek menarik yang menjadi objek ke sembilan yang telah ku gambar. Kertas terakhir itu amat sangat spesial sore itu. Sekitar jarak sepuluh meter aku melihat Kang Sobri duduk di atas punggung kerbaunya. Kang Sobri memang terkenal ulet dan rajin. Meski ia seorang mahasiswa di satu-satunya kampus di wilayah kabupaten tempatku tinggal. Ia juga satu-satunya pemuda yang memandang pendidikan adalah suatu yang amat sangat penting untuk diperjuangkan. Mungkin juga satu-satunya mahasiswa yang masih menggembala kerbau. Meski tak sesering saat ia masih belum kuliah. Ia masih sering menggantikan bapaknya untuk menggembala kerbau saat ia tak kuliah.
Sore itu, Kang Sobri dengan bukunya, ia menikmati bacaannya di atas punggung kerbau. Dengan topi dari jerami ia nampak seperti koboi. Tanpa pistol dan kuda, Kang Sobri seolah gagah dengan buku dan kerbaunya.
Begitu manarik pikirku untuk melukisnya. Bapak kebetulan pulang agak awal dari sawah. Karena padi yang ditanam tinggal menunggu waktu panennya, sehingga tak memerlukan banyak perawatan lagi. Bapak menemaniku gembala, sepulang dari sawah. Kesempatan berharga itu akhirnya menghasilkan sebuah lukisan dengan objek Kang Sobri membaca buku di atas kerbau.
***
“Kenapa menangis Gi?”
“Lukisan ini bagus” kata Kang Sui dengan penuh kasih seraya mengambil lukisan dari tangan Agi. Seraya menempelkan lukisan itu di dinding, Kang Sui mencoba mengibur Agi yang masih terlihat sesenggukan dengan sisa tangisannya.
“Kamu yang lebih tahu maksud lukisan ini”
“Kamu juga yang tahu betapa berharganya lukisan ini”
“Biarlah gurumu di sekolah mengatakan jelek lukisanmu”
“Kamu harus ingat, lukisan di sini adalah karya terbaik siapapun itu”
“Tdak ada seorang pun yang berhak mengatakan karya orang lain jelek”
“Jadi karya lukismu ini akan kupajang di galeriku ini”
“Semua karya disini adalah terbaik”
Bagitulah Kang Sui mencoba menenangkan dan meyakinkan Agi untuk tak menyerah dalam berkarya. Sebab sejatinya semua karya adalah sebuah bentuk atau produk yang dihasilkan dari sebuah proses panjang. Seorang Agi yang harus menghabiskan sembilan kertas dan dengan kertas ke sepuluh itulah ia akhirnya menemukan sebuah objek lukisan yang begitu indah lengkap dengan pesan moral. Tentang gigihnya seorang Kang Sobri yang tak lelah belajar meski di atas punggung kerbau sekalipun.
***
Malam hari, aku mencoba memilih sepuluh hasil lukisan yang kudapat dari melukis saat di rumah atau di padang gembala beberapa hari ini. Sepuluh kertas gambar telah aku bumbuhi dengan goresan pensil. Dan lukisan terakhir tentang Kang Sobri menjadi daya tarik tersendiri. Hati penuh gelora menyelimutiku pula.
“Aku ingin juga kuliah”
“Aku ingin belajar sampai jenjang perkuliahan”
Dalam hati aku ungkapkan tekat itu dengan penuh keyakinan, tanpa keraguan sedikitpun. Berharap menjadi seperti Kang Sobri, bahkan mampu berbuat dan berjuang lebih darinya. Dan lukisan itu kubawa ke sekolah saat waktu pengumpulan tugas tiba. Namun semua menjadi sangat menyiksa batinku.
“Lukisan jelek”
“Masak semuanya dengan arsiran pensil saja”
“Harusnya pakek pensil warna”
“Biar kelihatan kau bersungguh-sungguh dalam melukis”
“Kalau begini, pasti kau mendadak ya melukisnya”
“Sebab membububuhi dengan pensil warna saja kau tak sempat”
Perkataan yang menyakitkan, sampai akhirnya kuputuskan untuk melompat dan pergi ke galeri lukis milik Kang Sui. Sebab disitulah lukisanku di hargai. Bukan dengan nilai uang yang tinggi. Tapi Kang Sui akan setia mendengarkan maksud dan tujuanku melukis. Dan Kang Sui akan dengan senang hati mengapresiasi lukisanku dengan apresiasi tertinggi darinya, bukan menghakimi seperti guruku yang hanya melihat hitamnya lukisan ini tanpa warna lain.
***
Beberapa tahun kemudian Agi datang ke galeri Kang Sui. Terpampang dengan gagah papan nama “Galeri Anak Kampung” yang di bawahnya telah berkumpul banyak orang dengan pakaian serba hitam. Agi datang dengan kabar duka bahwa Kang Sui telah berpulang. Agi yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Institut Seni Jogjakarta sangat tepukul dengan berita duka itu. Untuk kedua kalinya dia datang ke galeri dengan menangis.
Lukisan Agi yang diapresiasi tinggi oleh Kang Sui beberapa tahun yang lalu. Kini telah terpampang di ruang utama “Galeri Anak Kampng”, sebab pernah suatu ketika Kang Sui memberi kabar pada Agi bahwa lukisannya telah dihargai tinggi oleh orang dari manca negara. Meski berharga tinggi, namun Kang Sui menolak menjualnya. Saat tetes demi tetes air mata Agi turun dari mata beningnya. Ia baru sadar bahwa lukisan itu telah menjadi bukti dan saksi.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *