Perbedaan Ulama Asli dan Palsu

Posted on Posted in Artikel

Oleh : Mohammad Yusuf

Zaman akhir banyak ulama gadungan. Di mana sekarang banyak juru dakwah, tetapi sangat sedikit sekali yang berilmu. Tidak pernah menimba ilmu ke pesantren, tidak bisa baca kitab kuning yang tidak berharakat. Tidak memiliki sanad (guru) yang jelas, tetapi sangat percaya diri dengan kemampuannya berorasi. Walaupun demikian, apa yang disampaikan kepada para jamaah tidak akan pernah bisa Tarasuf (meresap) ke dalam hati. Al-Qur’an dan Hadis hanya terletak dalam tulisan belaka, tidak pada hatinya. Begitu juga soal orientasi ulama zaman sekarang sangat jauh berbeda dengan ulama-ulama jaman dahulu. Jika ulama dahulu menyalurkan ilmu lillah, mungkin sekarang liddunya. Ulama masa dulu hidup dengan cara berdagang, ilmu ikhlas mereka salurkan kepada yang membutuhkan dan meminta penerangan. Sekarang, menjadi seorang pendakwah bagaikan lahan untuk bertahan hidup. Pada jaman dahulu jika ingin diakui sebagai ulama yang berkompetensi, mereka harus menguasai beberapa keilmuan. Tidak mandeg pada Al-Qur’an dan hadis terjemahan saja, tetapi juga mempelajari tafsir-tafsirnya terutama karangan ulama-ulama terdahulu. Kenapa harus ulama terdahulu? Sebab mereka lebih wira’i (hati-hati) dalam berprilaku, kuat hafalannya, adil orangnya, matang ilmu bahasanya (Mantiq, Balaghah, Sharaf dan Nahwunya), paham dan mengenal sumber-sumber hukumnya.

Kitab apa saja yang menafsiri Al-Qur’an? Salah satunya adalah tafsir Jalalain karang imam Jalaluddin as-Syuyuti dan Jalaluddin al-Mahalli, kitab yang dikarang menjadi satu kitab saja dan ukurannya agak lebih besar sedikit dibandingkan Al-Qur’an yang hanya berupa teks. Jangan hanya berhenti dan berpatokan pada satu tafsir saja. Sebagai seorang ulama harus banyak referensi, agar lebih luwes lagi dalam memahami dan bijak dalam berfatwa. Jika kitab Jalalain masih pada tataran pemahaman fikih, kita bisa naik kelas ke ranah tasawuf. Di antaranya ada tafsir Jilani karang sulthonul auliya Syaikh Abdul Qadhir al-Jilani. Ada juga tafsir Al-Misbah karangan ulama Indonesia, yaitu Syaikh Quraisy Shihab, kitabnya ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan maksud agar orang awam yang kurang pandai dalam bahasa Arab bisa memahaminya. Dan masih banyak tafsir-tafsir Al-Qur’an lainnya yang bisa diakses oleh calon ulama-ulama jaman sekarang, agar lebih bijak lagi dalam berdakwah.

Begitu juga dengan Hadis. Kitab apa saja yang menjadi pendukung Hadis?. Sangat banyak sekali, sebagai seorang murid, harus mempelajari ilmu pendukungnya seperti ushul Hadis. Salah satu kitab yang berkaitan adalah Khasyiah karang imam Itsbih al-Jauhari, beliau mensyarahi (meringkas dan menjelaskan). Karang imam Muhammad az-Zarqani pada kitabnya yang berjudul Mandhumah al-Musmah bil Baiquniyah. Begitu juga dengan cara mengambil hukum, kita tidak bisa mengambil langsung dari Qur’an maupun Hadis. Sebab, di dalamnya masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat mujmal (global), ditambah setiap saat pasti dan selalu ada masalah baru. Maka tidak cukup berbekal terjemahan saja, kita perlu ilmu pendukungnya yakni ushul fikih, salah satu kitab yang bersangkutan adalah Lathaiful Isyarah, karangan imam Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad al-Qudsi, kitab ini juga syarah dari kitab Nazham Warqat fi Ushul Fikh, kitab tersebut pengarangnya adalah Syaikh Syarifuddin Yahya al-Imriti.  

Pada umumnya setiap ulama Islam mempunyai pengetahuan, wawasan dan keterampilan agama yang tidak diragukan lagi. Integritas kepribadian mereka betul-betul teruji dan terbukti, sehingga memang patut untuk diteladani. Perkataan dan perbuatan mereka selalu sejalan, bahkan pola pikir mereka selalu dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Begitu pula segala sifat, sikap dan prilaku selalu dihiasi dengan akhlak yang terpuji nan mulia.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *