Jangan Artikan Silaturahmi Terlalu Sempit

Posted on Posted in Artikel, Santri

Oleh : Mohammad Yusuf

Memutuskan silaturahmi adalah salah satu perbuatan yang dimurkai oleh Allah s.w.t. Arti dari kata memutuskan silaturahmi semestinya dipahami secara mendalam dan Islami, bukan secara pendek yang biasa digunakan oleh orang awam dalam memahaminya. Rasulullah s.a.w bersabda :

Dari Muhammad bin Zubair bin Muth’im dari bapaknya r.a bahwa nabi Muhammad s.a.w telah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (persaudaraan). Ibnu Umar berkata, beliau dari Sufyan, beliau mengartikan yakni memutus silaturahmi.” 

Banyak orang awam yang beranggapan bahwa memutus silaturahmi ialah, jika kita bertemu lalu tidak berjabat tangan, jika diundang tidak datang atau jika kita tidak saling bertemu dan saling mengunjungi. Tidak salah dengan anggapan seperti itu, tetapi kurang tepat dan kurang komplit saja. Bagi penulis sendiri orang yang memutuskan silaturahmi adalah apabila seseorang sudah tidak mau tahu keadaan orang lain yang sebelumnya pernah kenal, tidak mau tahu kabarnya, tidak ingin membantunya, tidak ingin menghormatinya, dan kecewa dengannya yang berlebihan.

Jika di dalam Islam diajarkan jangan sampai cuek kepada sesama melebihi tiga hari. Maka bagi orang yang memutus silaturahmi akan cuek selamanya. Lebih dari itu jika kita kembalikan kepada arti silaturahmi yang sebenarnya adalah menyambung rasa kasih dan sayang. Semua hal yang ada di atas, apabila sampai memutuskan rasa kasih sayang, maka itulah yang disebut memutus silaturahmi.

Banyak perantau yang tidak bisa pulang sebab adanya beberapa kendala. Mungkin karena lagi sakit, lagi tidak punya ongkos untuk naik kendaraan, atau mungkin lagi ada urusan yang penting. Dan hal itu bukan berarti mereka tidak mau bertemu dengan keluarga besarnya yang ada di rumah, bertemu kepada gurunya dan sahabatnya. Lalu mereka kita anggap sebagai orang yang tidak mau menyambung silaturahmi. Itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.

Dalam kehidupan, ada dua jenis hubungan. Satu, yakni hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Kedua, yakni hubungan hamba dengan hamba yang lainnya. Hubungan hamba dengan Tuhannya sangatlah penting. Tetapi tidak kalah penting pula hubungan kepada sesama hamba. Sebab dengan tersambungnya tali persaudaraan kita kepada sesama hamba, maka kasih sayang Allah s.w.t yang berupa rahmatnya akan turun kepada hambanya. Dan hal itu bisa dirasakan dalam dhahir maupun batin. Baik di dunia maupun di akhirat. Dalam hal demikian, semestinya kita sandingkan dengan keterangan dari Rasulullah s.a.w, bahwa makna memutuskan silaturahmi yang hakiki adalah memutuskan diri dari rahmat Allah s.w.t.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengatakan dalam kitab Jilaninya “Seorang hamba masuk surga bukan karena amalnya, tetapi ia masuk surga karena rahman, fadhal dan rahimNya”. Begitu juga dengan cerita seorang cendekiawan muslim, beliau adalah imam Ghazali. Dalam kitab Nashaihul Ibad karangan Muhammad Nawawi Ibn Umar al-Jawi diceritakan. Pada suatu malam, ia bermimpi berdialog dengan Allah s.w.t. Tanya Allah kepadanya “Dengan modal apa kamu datang menghadapku?”. Lalu dengan mantap dirinya menyebut satu persatu amal kebajikan yang beliau lakukan sepanjang hidupnya. “Aku tidak melirik deretan amal kebajikan yang kau sebutkan. Tetapi, aku hanya menerima satu amalmu. Yakni saat engkau sedang menulis, dirimu mengasihani seekor lalat yang dengan tiba-tiba masuk ke dalam tempat tintamu dan meminum tintanya saat engkau sedang menulis, tetapi kamu biarkan dan menunggunya sampai lalat tersebut selesai dan sudah tidak haus lagi, maka itulah modalmu untuk menghadapku, dan yang akan menjadi sebab engkau masuk surga.”

Begitu pula dengan silaturahmi, kegiatan ini untuk menyambung rasa kasih sayang kita kepada sesama, lebih-lebih kepada keluarga, kerabat, guru, sahabat dan lainnya. Rasa kasih sayang tersebut tetap kita jaga, dengan tujuan agar kasih sayang Allah yang berupa rahmatnya tetap bisa kita raih dan dapatkan, baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita memutus silaturahmi, oleh Rasulullah s.a.w, kita tidak berhak mendapatkan surga dan surga itu ada, karena atas rahmatnya. Dan rahmatnya ada sebab belas kasih sayang kita kepada sesama makhluk, khususnya manusia. Ada maqalah yang menegaskan “Man la yar hum la yurham”, yang artinya, barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, maka tidak patut untuk dikasihani. Oleh karena itu dengan kita bersilaturahmi (menyambung kasih sayang) kita pun patut untuk menerima hal yang sama. Maka seperti itulah kiranya pemahaman makna silaturahmi yang sebenarnya.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *