Santri Berjubah Malaikat

Posted on Posted in Aktif, Cerpen, Karya, Santri

Oleh: Ahmad Shobirin ZA

Begitu kentalnya fanatisme masyakat di kampung itu terhadap pendididikan agama, sampai-sampai orang yang tidak memondokkan anaknya ke pesantren dianggap tidak Islam, dan bahkan bisa dikatakan radikal, begitu kah? Iya, karena bagi masyarakat di kampung itu orang bisa paham agama dari pesantren, sumber pengetahuan agama itu didapatkan di sana, dari pendidikan madrasah-madrasah yang diasuh langsung oleh para kiai dan ustad. Tanpa bimbingan mereka, jelas santri tidak akan bisa menjadi orang yang alim (paham agama).

Tentu saja, masyarakat menganggap bahwa mereka yang belajar dari pesantren pasti paham tentang agama, minimal bisa baca Al-quran dengan fasih meskipun tidak bisa membaca kitab kuning secara mendalam. Kali ini lain halnya dengan pak Hamid yang tidak ingin memondokkan anaknya ke pesantren. Menurutnya belajar tidak harus di pesantren, belajar bisa di mana saja asalkan ada kemauan.

Aruf yang terkenal cerdas di antara teman-teman lainnya, ia sangat ingin belajar ke pesantren. Akan tetapi harus dihadapkan dengan kehendak orang tua yang tak memperbolehkannya. Orang tuanya meminta Aruf tetap ngaji dan belajar di madrasah diniyah (Madin) di kampungnya. Menurutnya belajar di Madin bimbingan ustad Amin juga sama halnya di pesantren. Karena apa yang diajarkan pelajaran-pelajaran di Madin tersebut sama seperti halnya di pesantren.

“Nak, bapak minta kamu gak usah ke pesantren dulu. Kamu tetap ngaji di Madin, di tempat ustad Amin.”

Aruf tak sanggup menatap wajah sang bapak, ia hanya menunduk dan hanya menganggukkan kepala tanda ia manut.

“Ayah, bukannya pendidikan pesantren itu yang bisa melahirkan kiai dan ustad, bukannya ustad Amin juga lulusan pesantren?” sanggah Aruf.

“Iya nak, bapak juga tahu. Tapi tidak semua seperti itu, ke sana juga butuh biaya besar. Kamu juga tahu, ayah dan ibu masih kesulitan membiayai adik-adikmu di sini.”

Suatu ketika di Madin tempat Aruf mengaji dan belajar kitab-kitab klasik dasar itu mengadakan acara haul. Pagi sampai siang dilaksanakan khatmil Qur’an. Yang demikian itu sudah menjadi kebiasaan orang setempat, bila ada di antara keluarganya yang meninggal dunia, para ustad di kampung pun diundang tak terkecuali para alumni Madin yang udah keluar dari pesantren dan juga santri Madin yang dianggap sudah bisa baca Al-Quran dengan fasih. Diantaranya Aruf dan kedua temannya Hasan dan Bakri. Mereka bertiga terlihat canggung dan grogi di hadapan para ustad dan alumni yang notabenya pernah nyantri. Setelah beberapa ustad dan alumni secara bergiliran membacanya. Tibalah giliran tiga santri Madin itu untuk membacanya. Mereka bertiga saling melempar pandangan tanda menyuruh salah satu di antar mereka untuk membaca duluan. Akhirnya, Bakri lah yang pertama membaca, selanjutnya Hasan dan terakhir Aruf. Setelah giliran Aruf membaca, sontak orang yang ada di luar emperan mushalla yang sederhana itu saling bertanya siapakah gerangan yang membacanya? begitu fasih dengan suara yang indah dan mendayu-dayu. Rupanya suara itu adalah suara Aruf yang berada di pojok pintu, sengaja dirinya menghindar dari para tamu lainnya, karena merasa dirinya tidak pantas berada di ruang yang hampir semua alumni pesantren, para ustad serta tokoh agama ada di dalamnya. Karena kefasihan dan mentalnya yang kuat, tak lantas itu semua membuatnya grogi, justru dirinya makin percaya diri untuk membaca dengan fasih.

“Siapakah yang membaca itu?” Tanya salah seorang.

“Bacaannya kok membuat orang lebih tenang, ayem dan menyejukkan hati.”

“Di pesantren manakah ia belajar?” Tanya orang tersebut.

Ia mengira bahwa Aruf adalah alumni pesantren, karena hampir semua anak seusinya yang ada di kampung tersebut pernah belajar di pesantren.

“Bukan, dia hanya belajar di Madin As-salam asuhan ustad Amin.” jawab pak Saminto yang ada di samping orang itu.

“Benarkah?”

“Iya”.

Tutur kata dan tingkah laku Aruf layaknya santri yang pernah nyantri di pesantren bahkan ia sering menjadi satu-satunya perwakilan dari kecamatan itu dalam lomba MTQ dan sering menjuarainya. Mendidik memang bukanlah pekerjaan yang mudah

apalagi mendidik yang jauh dari sarana dan prasarana yang tidak memadai seperti tempat yang seadanya, mendapatkan alat tulis dan buku saja susahnya minta ampun. Apalagi, tempat yang nyaman. Tentu hal itu menjadi kendala tersendiri bagi Madin As-salam yang berada di desa terpencil dan terisolir oleh sungai-sungai.=

Demi keberlangsungan aktivitas belajar mengajar di madinnya, tak jarang ustad Amin menyuruh salah satu santrinya itu untuk membelikan kebutuhan madin, seperti kapur tulis dll. Biasanya jika persediaan kapur tulis sudah hampir habis, jauh-jauh hari ustad Amin mengingatkan ketiga santrinya untuk membelikannya. Karena jarak tempuh yang jauh dan medan jalan yang menantang, mereka bertiga harus berangkat sejak pagi-pagi.

Nahas di tengah perjalanan menyeberang, perahu yang ditumpangi bocor dan mengakibatkan perahu itu tenggelam. Allahu akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Sontak gema takbir saling bersahutan terdengar dari arah sungai. Arus sungai yang

kencang, lebar sungai yang luas, membuat mereka kesulitan untuk menyelamatkan diri. Aruf dan Bakri selamat dari arus sungai yang mencekam. Aruf yang sejak kecil pandai berenang ia bisa menyelamatkan diri dan bahkan membantu temannya, Bakri, yang tidak bisa berenang. Tentu saja dalam situasi bersamaan Aruf tidak bisa menolong Hasan. Dari pengakuan Aruf dan Bakri, Hasanlah sebenarnya yang membantu keduanya sampai di pingiran dan bisa selamat.

Sesampainya di pingir sungai keduanya berteriak meminta tolong. Tak berselang lama datanglah bapak-bapak menolongnya. Iya, sungai itu memang dikenal angker oleh masyarakat setempat. Sungai itu telah menelan banyak korban, mulai dari sepasang suami istri yang meninggal bersamaan ketika mereka hendak pergi kerja, sampai seorang bapak bersama anaknya yang pergi ke sekolah. Entahlah, apakah itu sebuah mitos atau fakta, katanya sungai itu ada penunggunya sosok wanita cantik berpakaian mahkota berekorkan buaya. Hal itu pernah diceritakan oleh seseorang yang pernah tenggelam di sungai itu, menurut pengakuannya, ia dibawa ke dalam dasar laut. Sesampainya di sana terdapat istana megah yang lengkap dengan para permaisurinya.

Peristiwa yang menimpa tiga santri itu mengundang reaksi masyarakat kepada kepala daerah setempat, mereka menuntut janji-janjinya mengenai pembangunan jembatan sebagai penghubung antara daerah yang tak kunjung terealisasikan. Janji tinggallah janji yang hanya menyisakan luka dalam hati masyarakat.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *