Melepasmu

Posted on Posted in Aktif, Cerpen, Karya, Santri

Oleh: Ahmad Ushfur

“Aku tidak pernah berfikir seburuk itu kepadamu, yang aku tahu, kamu adalah Anisa yang selalu menjaga kesucian tubuh. Selama tiga tahun menimba ilmu agama di dalam pesantren, pastilah kamu faham dengan larangan-larangan yang seharusnya tidak kamu lakukan. Akan tetapi kenapa kamu pergi bermain dengan seseorang yang bukan muhrimmu?” Pesan Rofiq di dalam kamar kos kepada Anisa melalui telepon genggamnya.

***

Di bibir pantai, angin terasa sangat kegirangan berlarian ke sana sini meniadakan waktu yang telah berlalu. Anisa yang sedang berbahagia duduk berdua di atas tikar biru terkejut mendapatkan pesan dari Rofiq yang mengetahui bahwa dia sedang memadu kasih dengan laki-laki lain. Seketika itu, semilir angin dingin yang membelai kulit putihnya tak lagi ia rasakan, panas matahari yang membakar tubuhnya tak lagi ia pedulikan.  Hanya resah dan bingung yang menyelimuti jiwanya. Dadanya sesak seakan-akan tenggelam dalam dahsyatnya gelombang di lautan.

Wajah Anisa yang semula terlihat begitu manis berubah menjadi pucat. Anisa memanglah wanita yang sangat cantik. Ia memiliki bola mata yang indah dan hidung yang mancung. Ketika ia tersenyum kedua pipinya berubah lesung, ketika ia tertawa bola matanya menyipit membuat siapapun yang ada di sampingnya bersyukur karena bisa tertawa bersamanya. Tetapi itu semua sirna ketika ia membaca pesan dari kekasihnya. Abdul yang saat itu sedang duduk di sampingnya mulai membuka pembicaraan setelah mengetahui bahwa raut wajah Anisa dirasainya tidak bahagia. “Ada apa denganmu Nis…?” Anisa terdiam, terpaku tanpa bisa berkata apa-apa. Dengan mata yang berkaca-kaca ia hanya memandang samudra yang ada di depannya. Belum sempat Anisa menjawab pertanyaan tadi, Abdul menyambung pembicaraannya. “Apakah kamu tidak bahagia pergi denganku? Bukankah hal seperti ini yang selama ini kamu inginkan, duduk berdua menikmati semilir angin, mendengarkan riang suara ombak, dan menyaksikan keindahan matahari terbenam di sore hari”. Lagi-lagi Anisa hanya terdiam. Matanya yang tadi hanya berkaca-kaca kini telah mengalirkan air mata. Ia menunduk sesenggukan dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Dengan perasaan yang bercampur aduk antara benar dan salah, hatinya berkata. “Apakah yang aku lakukan ini salah? Aku hanya ingin mencari kebahagiaan yang belum pernah kudapatkan dari kekasihku. Aku tidak pernah diajak olehnya berkencan seperti wanita-wanita yang lain”.

Semakin deras air mata mengalir di pipi Anisa. Abdul yang sangat kebingungan melihat Anisa tiba-tiba menangis itu, dengan cepat ia berusaha untuk menenangkannya. Ia menggenggam kedua tangan Anisa kemudian memeluknya dengan mesra. Masih dengan air mata yang mengucur, Anisa melepaskan pelukan Abdul dan meraih telepon genggamnya. Dengan nafas yang sesenggukan Anisa menulis balasan pesan yang dikirim oleh kekasihnya itu. “Darimana mas tahu kalau aku sedang bermain dengan orang lain? Asal mas tahu, aku sudah lama menantikan hal seperti ini bersamamu. Tapi selama itu pula mas tidak pernah mengerti keinginanku. Aku hanya ingin seperti pasangan yang lainnya, bisa bermain bersama, bercanda bersama, bertukar cerita bersama, dan melampiaskan rindu”. Rofiq hanya tersenyum menerima pesan yang ditulis oleh kekasihnya itu.

Ternyata wanita yang selama ini ia puja-puja bukanlah wanita yang selama ini ada dalam angannya. Yang selalu menjaga kesucian tubuhnya. Kini Rofiq tersadar bahwa kekasihnya itu bukanlah  wanita yang selama ini ia idam-idamkan. Setelah beberapa menit berlalu, balasan dari Rofiq pun diterima. “Maaf, bukan aku tidak menyayangimu, tapi asal kamu tahu aku tidak pernah mengajakmu berkencan karena aku selalu menjagamu agar kamu tetap dalam keadaan suci”. Balasan singkat Rofiq itu membuat air mata Anisa mengalir semakin deras. Dirasainya apa yang telah ia lakukan dengan Abdul adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Suasana pantai yang begitu ramai dibiarkan saja menjadi sunyi. Debur ombak, tawa riang sepasang kekasih, dan celoteh bocah yang sedang bermain pasir tak lagi ia hiraukan.  Lagi-lagi air mata Anisa mengalir semakin deras. Kini, tetesnya mengalir membasahi tikar biru yang ada di bawahnya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyesali kebiadaban perbuatannya menduakan Rofiq dan pergi bermain dengan laki-laki lain.

***

Sore itu senja terlihat sangat indah, mengambang gagah di atas luasnya samudera. Saat itu, Rofiq telah memilih sebuah keputusan, sebuah niat untuk melepaskan Anisa. Memutuskan sebuah ikatan yang nantinya akan menyatukan mereka. Dengan menaiki motor tua ia meluncur dengan cepat menuju pantai di mana kekasihnya itu berada. Setelah beberapa menit berlalu, sampailah ia pada tujuannya. Bukan tujuan untuk menikmati senja bersama sang kekasih, tetapi untuk mengakhiri hubungannya dengan Anisa. Rofiq mulai melangkah menghampiri Anisa yang masih duduk berdua dengan Abdul. “Assalamualaikum”. Ucap Rofiq kepada Anisa dan Abdul sebagai seorang muslim ketika bertemu dengan muslim lainnya. Anisa sungguh terkejut melihat Rofiq yang tiba-tiba berada di belakangnya. Tanpa basa-basi ia pun langsung menangis di hadapannya. Meminta maaf atas perbuatan yang telah ia lakukan.

“Mas mohon maafkan aku, aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini. Aku mohon bimbinglah aku, tolong jadikanlah aku menjadi wanita yang shalehah. Sekali lagi aku minta maaf mas”.

“Sudahlah, Kamu rajut saja hubungan yang baru bersamanya. Maafkan aku yang tidak bisa menahanmu tetap tinggal di hatiku. Aku menemuimu hanya ingin melepasmu. Sekarang sudah jelas, tidak ada lagi hubungan diantara kita. Kamu pergilah bersamanya dan biarkan aku sendiri di sini bersama Dzat yang mencintaiku melalui gemuruh ombak, semilir angin dingin, dan matahari terbenam dengan segala keindahan-Nya”.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *