Yang Lebih Teduh dari Bunga-bunga

Posted on Posted in Alumni, Cerpen, Karya

Oleh: Sadhudharma Muhammad

Kopimu yang berwarna galih dan kopiku yang jati jadi antara untuk kita bicara. Kau ingat waktu itu mentari sedang tidak condong ke timur atau barat dan kita menunggu montir menambal ban belakang motormu ?. Kau bilang angin di Papringan tidak lagi sepoi, semakin kering. Kebun-kebun banyak dibabat dan pajak kendaraan dilorot para pejabat. Dalam keadaan terik itu kau masih sempat serius mengumpat.

Waktu itu kau tiba-tiba memandangku penuh, tersenyum, dan merapalkan syukur. Saat kutanya mengapa, kau jawab beruntung yang sedang membersamaimu berparas lebih teduh ketimbang taman kota. Aku tersenyum malu, mencubit lenganmu, dan kau tertawa. Kukatakan padamu kata taman selalu mengingatkanku pada kakek dan halaman belakang rumahku.

Kau memasang telinga, tatapanmu seksama, tetapi kemudian buyar ketika montir bilang ban motormu sudah betul. Kau coba hidupkan motormu, sampai pancalan ketujuh kau ambil nafas, perlu dua kali lagi, dan mesin mulai berbunyi. Saat aku baru naik kau pegang tanganku, membimbingnya untuk berpegangan pada pinggulmu. Tidak lama jemariku merasakan getaran, perutmu keroncongan, dan kita spontan terkekeh. Kau usulkan sop ayam jamur di kedai bu Marti sebagai menu siang itu, membayangkan segarnya menjadikan kita terlupa pada kata taman yang kita bicarakan semula.

Kicau dari arah belakang halaman rumahmu aku kenal betul, tidak salah lagi itu punglor. Anis merah fauna identitas kota Sleman.

“Ternyata kau juga mengurung burung ?”. Tanyaku heran. Kau tersenyum canggung mengatakan jika burung itu pemberian seorang kiai. “Segan, makanya kupelihara”, katamu.

Makhluk itu jadi terdakwa dari sungkan yang kau persoalkan, salahmu menjadi masalahnya, bisa terpenjara sampai mati dia. Belum sampai kalimat ini terucap olehku, kau bertanya penasaran mengenai kata taman. Melihat pendanganmu yang masih seksama seperti dulu membuatku segan membahas nasib punglor.

Kukisahkan padamu kala itu aku baru berumur tujuh saat kakek bertanya bunga apa yang kusukai untuk ditanam di halaman belakang. Aku menggeleng tidak tahu dan kakek menawariku ke Gadungsari, aku mengiyakan senang. Motor tua kakek melaju pelan saat sudah sampai di halaman sebuah gedung yang kueja pelan-pelan bertuliskan ‘PERHUTANI GUNUNG KIDUL’.

“Kita mampir lihat jati dulu, nduk”. Ucap kakek sambil menggendongku turun dari motornya.

Mentari jam sepuluh pagi tidak enak hati menembus daun-daun jati yang menaungi kami dengan rapat mereka. Iya, saat itu aku belum paham bagaimana rapat para yang mulia yang katanya paripurna tapi tak pernah menaungi selain mereka. Aku menggandeng tangan kakek dan kami semakin masuk ke dalam rerimbunan. Kakek memetik daun jati muda yang masih kemerahan.

“Coba nduk, kemarikan tanganmu !”. Kata kakek tiba-tiba. Kuulurkan tangan dan kakek membalurkan daun jati muda itu. Muncul bekas warna merah, aku terheran. Melihat air mukaku kakek tersenyum maklum. Kakek menyulut kreteknya, berhenti di satu pohon jati dan menaksirnya dari pangkal sampai pucuk. Dari arah gedung tadi seorang dengan kemeja putih dan bercelana hitam datang kakek menyalaminya, berbincang hingga kreteknya tinggal putung. Aku masih sibuk membalurkan daun jati muda ke setiap kuku tangan dan kaki saat kakek berpamitan dan menggandengku untuk kembali.

Sampai di Gadungsari kakek mulai kenalkan padaku aneka bunga; kertas, mawar, anggrek, matahari, hingga wijaya kusuma. Hanya yang terakhir kulihat tak berbunga, kakek bilang bunga itu hanya mekar di tengah malam. Aku tak ambil pusing.

“Jadi pilih yang mana ?”.

Aku menggeleng, “Kalau jati boleh ditanam di halaman belakang ?”.

“Kenapa pilih pohon, nduk ?”.

“Lebih teduh dari bunga-bunga”, jawabku ringan. Kulihat kakek sedikit terheran, lalu mengelus rambutku dan terkekeh.

Kakek membeli tiga bibit pohon di Gadungsari. Aku pastikan daunnya berbeda dengan jati. Kakek paham kesanku ganjil dan ia jelaskan kalau itu bibit bungur.

“Pohon ini selain teduh bunganya juga indah. Tenang !, kita nanti juga beli bibit jati, dua kalau perlu”.

Bulan Januari tanggal tujuh aku menemani kakek menanam dua bibit jati itu. Setiap Februari dan November aku ikut memberi pupuk, ini sampai tahun kelima. Kakek membuat sice melingkar di pohon sebelah kiri. Tiga bulan setelah itu kakek sakit keras dan masuk bulan April tanggal tujuh belas ia tiada.

Kau mendekatkan posisi dudukmu. Kusandarkan kepalaku di pundakmu. Tanganku kau pegang erat seakan ingin kau buktikan kalau hadirmu dapat membantu. Begini aku sanggup melanjutkan cerita.

Tujuh hari doa bersama, keluarga berkumpul. Mereka terlihat berbakat menghapus duka. Pun setelah itu mereka sering berkumpul, berenam. Ibu, bapak, bibi tua dengan suaminya, dan paman muda dengan istrinya. Tak jarang mereka mengadakan kunjungan. Sering kali bahkan ke luar negeri. Aku dan sepupu-sepupu ?. Tentu saja tidak diajak turut. Masih ada nenek di rumah. Kami semua aman, tiga petak rumah kami berjajar, menghadap ke utara.

Di umurku yang ke sembilan belas aku mulai sadar perkumpulan keluargaku terlampau rukun. Sesekali aku menguping, ternyata mereka membikin aturan-aturan di tiap pertemuan. Mereka saling setuju juga beradu dan berdebat untuk akhirnya saling sepakat.

Pernah kudengar paman menggebrak meja mengatakan kedaulatan keluarga harus dijaga. Olok-olok tetangga harus dibungkam paling tidak dengan bukti kemakmuran. Hingga rapat mereka membahas ihwal perjodohan. Tentang bagaimana calon ideal untuk mendapat hormat dari tetangga dekat. Pada gilirannya namaku mereka sebut. Bibi dan paman mengusung calon mereka masing-masing.

Beberapa hari setelahnya mereka mengatur waktu, giliran untuk bertemu. Bibi dan paman tak ingin diakhirkan. Mereka memutuskan adanya undian. Calon dari bibi mendapat urutan pertama.

Bibi menemaniku membikin kopi di dapur saat calon yang diusungnya sudah duduk rapi di ruang tamu. “Bibimu ini jadi saksi nduk, nak Jatno itu penyabar, kerjaannya selalu beres, dia itu disiplin, nduk. Pekerja keras. tak heran dia sukses jadi pengusaha”.

Kutaruh empat gelas kopi di atas meja juga dua piring mendoan, sudut mata Jatno mendadak fokus. Aku duduk di samping bapak dan bibi di sebelah ibu. Bapak persilakan si Jatno untuk minum. Dia mengangkat gelas dan menyeruput kopinya dengan canggung. Saat kutanya apakah kemanisan, sedikit tergagap dia bilang terlalu pahit. Obrolan selanjutnya aku tidak ingat, anganku melayang teringat kau dan cangkir kopimu.

Kau tersenyum, mencubit hidungku gemas. Aku melanjutkan.

Hari selanjutnya giliran calon dari paman yang katanya perwira muda. Si Bambang ini dari caranya beruluk salam saja membahana, tak heran kalau bicaranya tegas terus terang.

“Kopinya pahit betul”, ucapnya tegas sesaat setelah dia menyeruput gelasnya.

Sengaja tak kuberi gula pada kopi mereka berdua. Kau tahu mengapa ?. Kau sendiri alasannya.  Iya, aku ingat kau tidak suka menyebutnya dengan pahit.

“Ini tidak pahit, asal tahu, ini rasa kopi, final, tingkat puncak setelah semi”. katamu. Aku mengiyakan.

Hanya kau yang ingin kupilih untuk mendampingiku, kau tahu itu. Saat itu antara kau dan aku yang kawin hanya miskinmu dan nasibku yang melahirkan perpisahan kita. Bapak dan ibu tak hendak melihatmu sebagai lelaki yang serius dan siap jadi pemimpin. Mereka memaksaku untuk bebas memilih satu di antara dua calon yang diusung bibi dan paman. Mereka katakan aku bukan Siti Nurbaya karena masih punya hak untuk memilih.

Kau tinggal pilih yang terbaik nduk, apa susahnya ?”.

“Kalau tidak ada yang baik?” jawabku.

“Berarti yang paling sedikit buruknya”, bapak tegas menjawab.

“Tidak bijak nduk kalau kau menolak keduanya, setidaknya hargai pilihan keluarga”.

“Bagaimana dengan yang tertolak ?, paman atau bibi apa mau mengerti ?”.

“Nduk, kita sudah dewasa, kau juga, pilihlah!”   

Ada banyak lelaki lain yang lebih baik dari mereka berdua. Mengapa aku harus memilih satu di antara hanya dua ?. Padahal mereka tahu kau sudah menjadi yang utama menurutku. Orang tuaku tak memperhitungkanmu, bahkan tidak sebagai yang ketiga. Apalagi saat mereka lihat kau yang susah payah untuk sekadar menghidupkan motormu yang keluaran sembilan puluhan. Dulu kau memang tak punya modal.

Ruang tengah rumahmu yang joglo mengingatkanku pada kakek, masa kecilku, dan masa-masa kita dulu. Kau mengusap tangisku. Pelukanmu masih terasa hangat seperti dulu. Aku mulai tenang, menyerahkan hati dan diri. Sekarang kita bisa mengenang hari ini, mumpung suamiku sedang kunjungan ke luar negeri.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *