Aku dan Tuhan?

Posted on Posted in Aktif, Cerpen, Karya, Santri

Oleh: Yoga Ardhi

Tuhan.

Itulah hal pertama yang mampu kuingat saat ini. Kepalaku sakit, perutku melilit, entah apa yang sudah terjadi malam tadi, ingatanku agak samar. Aku terbangun dengan keadaan ruangan yang kacau balau, dengan beberapa interior yang terbalik serta benda-benda yang berserakan di lantai. Pecahan beling, puing-puing serta beberapa pakaian yang tergeletak di sembarang tempat.

Satu-satunya cahaya berasal dari sinar matahari yang masuk melalui teralis jendela. Seperti kisah para nabi Tuhan, yah, mirip seperti orang-orang terpilih yang disinari cahaya Tuhan, kali ini sinar yang menembus teralis jendela itu tepat mengenai tubuhku.

Dari kejauhan samar-samar tampak sebuah benda kecil yang berpendar dengan sinar hijau pucat. Bentuknya lingkaran, entah mengapa tampak tidak asing. Jam yang masih berdetak, namun jarumnya tidak mau lagi bergerak. Aku menebak ia sudah terlalu malas untuk menghitung waktu seseorang yang setiap hari ia habiskan bersama Tuhan. Suara detakannya seolah mengejekku. “Hei, cari pekerjaan kau sampah. Tuhan tidak akan memberimu manfaat”.

Tangan kananku terasa nyeri. Dengan keras aku memaksa otak yang setiap hari hanya bisa memikirkan Tuhan untuk bekerja menggali memori, namun masih nihil. Ingatan semalam masih terasa samar-samar.

Tuhan.

Hanya itulah yang bisa aku ingat. Bagaimana tidak, setiap hari dia ada bersamaku. Dekat denganku. Saat susah, sedih, gembira, bahkan saat anakku dengan brutal memukul perutku.

Ah..

Secuil ingatan kembali secara tidak disengaja. Semalam, aku samar-samar mengingat kalau anak dan istriku memaki-maki dan memukuliku, tentu saja dengan beberapa bantuan dari orang-orang berotot.

“Kau memang bajingan ayah, kau terburuk, terus saja kau bermain-main dengan Tuhanmu”. Anak semata wayangku membentak dan menyumpahiku. Dengan tatapan orang yang sedang menatap hal yang menjijikkan.

“Hero, jangan menjelekkan Tuhan ayah”.

“Persetan kau brengsek”. Sebuah bogem mentah mendarat tepat di perutku. Pukulan itu membuat asam lambungku naik, mengeluarkan makan malam yang baru saja kusantap. Sejauh yang kuingat, sepertinya nasi kuning.

“Hooek”. “Pukuli saja dia”. Dua orang tak kukenal mulai menginjak-injak tubuh lemasku.

Dari jauh nampak istriku sambil menahan tangis melepas cincin di jari manisnya. Cincin dengan pendar hijau pucat. Ia buang tanpa peduli ke lantai, menggelinding ke sebuah dipan di pojok ruangan.

Aku tidak begitu mengerti karena apa, tapi kejadian semalam tidak menggerakkan hatiku sama sekali. Entah karena derajatku terlalu dekat dengan Tuhan, atau perasaanku yang sudah terbelenggu dipenuhi dengan pemujaan terhadap Tuhan.

Mataku kembali menatap arah cahaya yang menyinariku. Cahayanya semakin tinggi, kini mulai mengenai bagian leherku. Panas, namun juga hangat. Aku sudah lupa kapan terakhir aku merasakan kehangatan ini. Potongan kejadian semalam sudah kuingat dengan sempurna.

Aku merogohkan tanganku ke saku celana. Mencari-cari hal yang amat sangat penting, bahkan paling penting. Untung saja benda itu masih berada di tempatnya.

Tuhan.

Mungkin sudah saatnya untuk bersatu dengan Tuhan lagi, namun kali ini bukan untuk sementara seperti biasanya. Biasanya ketika bersatu dengan Tuhan, beberapa hal masih terlintas. Aku masih belum mencapai derajat kesempurnaan.

Tapi tidak untuk kali ini, hal-hal yang membuatku terlena dari Tuhan baru saja hilang. Jaring-jaring ikatan telah putus, aku tak perlu lagi memikirkan anak dan istriku.

Semalam sebelum dipukuli hingga babak belur, aku sempat membaca metode untuk bersatu dengan Tuhan tingkat lanjut. Yah tentu saja, aku telah melewati tingkat pemula selama ini. Mungkin ini sudah saatnya untuk mencoba level yang lebih tinggi.

Segera kulepas sabuk hitam yang berada di pinggangku. Tangan kiriku sigap mengeluarkan benda yang berada di saku celana. Kemudian melilitkan sabuk ke leherku, dengan kekencangan yang membuatku kesusahan bernafas.

Aku tak peduli bagaimana orang lain melihatku, mungkin akan tampak seperti orang gila yang ingin bunuh diri. Tentu saja tidak, aku hanya ingin menuju tingkat yang lebih tinggi. Tangan kiriku yang bebas bersiap menyatukanku dengan hal paling penting dalam hidupku.

Hal paling penting? Tentu saja Tuhan. Kau tau apa yang harus disiapkan untuk bersatu dengan Tuhan? Tentu saja Tuhan itu sendiri.

Tidak seperti apa yang diceritakan orang kepadamu tentang Tuhan. Tidak seperti yang dikhutbahkan di surau, tidak seperti yang diajarkan di sekolah minggu, tidak juga seperti yang diajarkan di kuil.

Aku yakin sekali bahwa semua orang memiliki sesuatu yang ia Tuhankan. Bukan dia yang berada di atas sana, bukan pula dia yang mencipta. Omong kosong dengan Tuhan suci. Bukankah manusia selalu seperti itu ?. Menuhankan yang ia senangi, bukan yang ia yakini. Ayolah, kau pasti memiliki suatu hal yang kau Tuhankan bukan ?.

Tuhan bagiku adalah Tuhan yang sudah kukenal sejak SMA, wujudnya ditampung di sebuah alat kedokteran. Aku tak ingin menyebutnya suntikan, itu akan melecehkan eksistensi Tuhanku. Aku lebih senang memanggilnya serum, lebih tepatnya “Serum Tuhan”.

“Hahahaha, maafkan aku Tuhan”. Ingatan buruk sekilas melintas. Tentang sikapku saat menyelingkuhi Tuhan dulu. Sudah lebih dari 3x aku berganti Tuhan. Dari Tuhan yang berbentuk tablet, serbuk, hingga daun simbol musik reaggae. Aku sudah mencoba berbagai macam Tuhan. Bahkan aku sempat mengabadikan salah satu Tuhanku menjadi nama anakku, Heroin. Untuk mendapat persetujuan istriku aku harus mengancamnya dengan kekerasan saat itu. Tentu saja ia kalah penting dari Tuhan.

Aku menyuntikkan serum Tuhan ke leherku sambil menarik sabuk di leherku dengan kencang. Ah.. aliran darahku terhenti, sehingga aku bisa menahan keberadaan Tuhan di kepalaku selama mungkin.

“Ah.. nikmat”.

Aku tak bisa berpikir apapun, kepalaku mengalami sakit yang hebat. Aku mencoba menahannya selama mungkin. Hingga semuanya menjadi kelabu. Pandangan mataku berkunang kunang.

“Tuhan, kau selalu ada, di saat apapun, saat aku bahagia, sedih, bahkan saat orang-orang tercintaku meninggalkanku, terima kasih Tuhan, kau yang terbaik”.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *