Alarm Nostalgia

Posted on Posted in Cerpen, Karya

Oleh: Jamal M

06.55

“Sial, alarm laknat !” gumamku dalam marah. Aku terhuyung-huyung bangun serentak dari dunia malamku. Tak kupedulikan lagi bekas-bekas tidurku. Tubuhku berlari menuju kamar mandi yang jauh berada di belakang rumah. Sepanjang jalan, aku masih menggerutu pada alarm laknat yang lupa membangunkanku. Padahal sudah kuatur jarumjarum jam sedemikian rupa agar berbunyi keras saat berdiri di angka enam. Kesal memang, aku sudah menyuruh ibuku sedari lama untuk membelikan alarm baru untukku.

“Alarm itu adalah kenangan, satu-satunya peninggalan ayahmu sepuluh tahun yang lalu”. Samar-samar kudengar celoteh yang sudah bosan kudengar. Entah kenapa setiap aku menghardik alarm laknat itu, kembali terngiang-ngiang celoteh itu.

Begitulah alarm itu, tua dan keropos oleh waktu, tergerus oleh alarm-alarm baru yang berbadan ramping dan bermuka lebar. Memang begitulah sesuatu yang tua, walaupun antik dan menyenangkan untuk dimiliki, namun sering kali malas untuk menikmati hari ini, mereka lebih senang menyendiri di sudut etalase untuk ditatap mata-mata jalang yang mengagumi umurnya, bukan kenangannya.

Namun hanya itu cara buatku untuk menggapai langit di pagi hari. Terlebih setelah perginya ibuku ke ibu kota tiga tahun lalu. Yang sampai saat ini belum tampak secuil pun kabar darinya.

“Apakah dia sudah mati?, apa sudah kawin lagi?, atau apakah aku sebagai perwujudan anak sudah tergantikan oleh birahi ibukota?”. Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu menggelayuti pikiranku.

Lima menit itu terlalu sedikit bagiku untuk sekedar membasuh badan, memakai seragam, dan berjalan ke sekolah yang berjarak lima ratus meter. Terlebih tiga menitku sudah terbuang untuk memikirkan hal yang sama tiap harinya. Sudah kubayangkan bagaimana wajah Yanto di belakang gerbang yang sudah tertutup. “Ngeri gila” menggambarkan apa yang kurasakan ketika membayangkan lagi wajahnya.

Seragamku berlari berat dengan badan tambunku. Kaki-kakiku melesat hebat jauh meninggalkan perut berlemak. Tak kuhiraukan tali sepatu kiriku yang terlepas. Begitu pula dengan hilir celana kanan yang masih terangkat, merekat kuat di benalu bulu betis gelapku. Sembari tetap berlari kuperhatikan tubuhku.

“Sial, kancing laknat”. Teriakku kencang ketika pandanganku menyasar pada kancing-kancing bajuku yang naik satu tingkat. Orang-orang di bibir jalan tak heran melihatku begitu.

Aku berhenti sejenak untuk menyesuaikan pakaianku agar sesuai dengan batas kerapian seorang murid SMP. Rambut klimis berminyakkan air, yang mengering menjelang siang. Baju rapi yang tak harus bersetrika. Tak lupa sabuk almamater sekolah yang menjaga agar celana kumalku tak merosot. Begitu pun sepatu lengkap kanan-kiri dengan kaos kaki.

“Sip, sudah ganteng”. Ungkapku lirih ketika selesai merapikan diri dan berkaca di kaca samping mobil yang terparkir di tepi jalan.

Kaki-kakiku berhenti tepat di depan gerbang yang tertutup bibirnya. Seperti yang kuharapkan, Yanto berdiri sangar di belakangnya.

“Alarm laknat”. Gerutuku ketika Yanto menatapku tajam, dengan tangan yang saling berpangku. Memang, semua kesalahanku tak lain adalah karena kelaknatan alarm tua itu. Dan sama seperti biasanya, kulakukan ritual harian di halaman sekolah. Lari-larian bersama Yanto, hormat kepada tiang, push-up, sit-up adalah hal yang membosankan.

******

Malam mulai menghitam, ketika matahari sudah lelah menggagahi separuh bumi. Berjalan perlahan menuju separuh yang lain. Aku sering membayangkan, apakah matahari tidak bosan setiap saat bergantian menggagahi separuh demi separuh bumi. Apakah tidak ada peraduan yang nyaman baginya untuk sekedar melepas penat dengan pekerjaannya? Apakah tidak ada pengganti ketika dia jatuh sakit ? Selalu saja dia memaksakan diri untuk bekerja.

Seketika kuteringat kepada ibu di ibukota. “Apakah ibuku juga matahari?, pekerjaan saja yang ada di pikirannya?, tak memedulikan diriku sebagai eksistensi keberlanjutan cerita hidupnya” gumamku perlahan saat kaki-kakiku menyusuri setapak batu yang memisahkan tidurku dengan lalu lalang orang.

Lelah penatku setelah seharian bermain dengan Yanto dan berjualan aneka gorengan titipan bu Imah selepas sekolah. Kulucuti baju sekolahku. Kulemparkan di pojok pintu, dengan harapan sempat dicuci akhir pekan. Tubuh tambun merebahkan diri tanpa disuruh. Tak lupa jemari kakuku menyetel alarm tua, jarum kecil menunjuk angka enam, jarum panjang menunjuk angka dua belas. Entah di mana jarum detik, sudah lupa aku sejak terakhir kumelihatnya.

“Besok bangun pagi”. Harapanku dengan badan yang belum tersentuh air sejak mandi pertama hari ini.

Kelopak mata perlahan menutup netra. Membawaku cepat ke dunia malamku.

*****

Pagi menjelang, awan-awan berjalanan lambat beriringan satu dengan yang lainnya. Kuncup-kuncup daun perawan tampak indah di induk mangganya. Burung tak pernah lupa mempersembahkan kicauan orkestra. Sementara itu, surya masih samar-samar terlihat di balik pepohonan bambu halaman belakang. Pecahan-pecahan cahaya merengek masuk ke celah-celah batang bambu. Membutakan sebagian mata. Jarum jam saling menunjuk satu angka dengan yang lainnya. Menunjuk angka enam. Menunjuk angka dua belas. Aku masih terlelap dalam tidurku. Begitu pun alarm itu, yang masih setia untuk membangunkan emosiku ketika aku terbangun.

06.30.

“Alarm laknat!” teriak pertamaku hari ini kudampratkan pada alarm tua, yang membangunkanku ketika pecahan cahaya menyilaukan mata.

Emosiku yang meledak perlahan mereda ketika kutatap jarum-jarum itu yang saling menunjuk angka. “Pertanda apa ini?” Gumamku merasa heran ketika melihat alarm menunjuk angka 06.30 yang mana ini adalah pertama kalinya aku terbangun sepagi ini sejak terakhir bangun pagi untuk sholat ied 4 bulan yang lalu. Aku tersenyum sendiri menahan malu pada alarm itu.

“Ayo bertaruh Yanto” pikirku sambil membayangkan wajah Yanto sekali lagi sembari berjalan ringan ke arah pemandianku di bawah rimbunan bambu.

“Mandi sudah, rambut klimis, baju rapi, kancing sempurna, sepatu berpangku kaki sudah bertali rapat”.

Setengah jam merupakan waktu yang lebih dari cukup bagiku untuk mengejek Yanto. Aku berjalan santai di bibir beton jalan. Orang-orang terheran melihatku tak tergesa-gesa.

Setibaku di gerbang yang masih menganga, kulihat sekali lagi keheranan menghampiri wajah Yanto yang menatapku berulang-ulang, sambil mengucek-ucek mata seakan tak percaya apa yang terjadi hari ini. Iya, benar, aku pertama kali tidak telat di tahun ketigaku.

“Selamat pagi, pak”. Ucapku sambil tersenyum kecut ke arah Yanto.

*****

“Sialan, kamu kenapa ?” tanyaku pada alarm tua sembari membolak-balikkannya. Aku masih tidak mengerti kenapa dia berhenti orbitnya. Aku menggoyang-goyangkan tubuh bulatnya. Berharap bisa berputar lagi. “Masih tidak bisa, alarm laknat”. Aku bergegas pergi mencari pertolongan untuk alarm tua. Berharap dia masih bisa diselamatkan. Entah kenapa kali ini aku begitu khawatir dengannya. Berulang kali aku menghardiknya, tapi kenapa aku merasa sedih ketika melihatnya tak berdaya menggerak-gerakkan jarum jemarinya.

“Untung saja sore ini aku tak menjaja gorengan”. Aku berlari ke jalan raya untuk mencari pertolongan. Aku teringat pernah melihat toko reparasi arloji tak jauh dari tempatku berlari. “Semoga belum tutup”. Gumamku ketika melihat langit sudah hampir maghrib. Entah masih jam empat atau sudah jam lima. Entah pula langit gelap karena mendung. Aku tak ingat berapa jam tadi aku membolak-balikkan alarm itu.

Senyumku tersimpul ketika toko reparasi masih terbuka setengah pintunya. Langsung saja kuserahkan alarm tua kepada tukangnya. Berharap bisa berputar lagi jarum jamnya. “Hanya habis baterainya ini dik”. Ucap si tukang sambil membongkar punggung alarm tua.

“Ganti baterai beres”. Ucapnya kali ini membuat kecemasanku perlahan menghilang. Membayangkan bisa melihatnya hidup kembali. Dengan sigap si tukang mengganti baterai alarm. Aku tersenyum ketika melihatnya tersenyum ketika bautbaut punggung alarm sudah selesai dipasangkan di tempatnya.

“Loh, kok ngga nyala?” Ucap si tukang lirih. Namun aku masih bisa mendengarnya. Aku bingung dibuatnya. Aku merengek memohon agar bisa dihidupkan lagi alarm tua itu.

“Wah, kalau sudah kayak gini saya tidak bisa dik” “Mesinnya sudah tua, saya tidak punya sparepart-nya, barang langka ini”. Si tukang meneruskan omongannya.

“Sudah saatnya dimuseumkan ini dik”. Glek. Aku pun membawa pulang alarm itu tanpa membayar. Tanpa pula berterima kasih. Gontai jalanku sudah membayangkan omongan si tukang. Kulemparkan alarm tua ke kasur. Begitu pula tubuhku yang melemparkan dirinya sendiri. Seketika kuteringat ayahku yang mati overdosis sepuluh tahun yang lalu. Juga ibuku yang tiga tahun tak berkabar dari birahi ibu kota. Mereka sudah lupa denganku. Hanya alarm tua itu yang menghubungkanku dengan mereka. Sekarang sudah tak ada lagi alarm tua. Tidak ada lagi kenanganku bersama mereka.

“Ini alarm antik dik, setahuku ini produksi terakhir di pabriknya, lihat saja tahun pembuatannya”. Omongan tukang reparasi mengganggu lamunanku. Aku terheran melihat tahun pembuatannya. London, 1850.

“Lebih tua dari ayahku”. Gumamku sambil menatap alarm itu.

Memang ayahku pernah menjadi kuli bangunan di Inggris jauh sebelum kumelihat hingar-bingarnya dunia. Tapi bagaimana bisa dia mendapatkannya? Aku menepuk kedua pipiku.

“Sudahlah, sekarang waktumu untuk menjadi benar-benar tua”. Ucapku sembari meletakkannya di pojok etalase kayu.

Aku pun kembali pada rutinitas pagiku, tanpa alarm tua. Yanto pun tersenyum.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *