Membangun Kebersamaan di Masa Pandemi (Pelajaran dari Burung Angsa)

Posted on Posted in Essai

Oleh : Mujahidin Nur, Direktur The Islah Centre, Jakarta

 

“Kalau saja burung gagak itu tahu, betapa buruk rupa mereka

itu, maka ia akan meleleh seperti salju, karena rasa

sedih dan malu.”— Maulana Jalaludin Arrumie.

 

*

Di negeri indah dan subur makmur yang dijuluki zamrud khatulistiwa, tidak semua kehidupan penduduknya berjalan membahagiakan. Seperti di hari itu ketika pagi baru saja menyingsing cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang hangat seorang warga terkesiap untuk kemudian dia berlari tergopoh-gopoh sambil berteriak-teriak meminta tolong. Beberapa saat kemudian sejumlah warga berkumpul di hadapan sepasang suami isteri dengan lima orang anaknya yang tergeletak lemas di perkebunan warga di Kelurahan Pemassangan, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

 

Entah sudah berapa lama tubuh tujuh manusia naas itu tergelatak di atas rerumputan sambil melingkarkan badan mereka karena menahan rasa lapar yang tiada terkira. Lebih miris lagi, dua dari tujuh manusia yang tergeletak di bawah pohon itu adalah anak-anak balita yang merintih dan menangis-nangis menahan lapar selama berhari-hari sehingga membuat mereka lemas sebelum mereka sama-sama pingsan.

 

Semua ini bermula ketika ayah mereka, Nurhidayat yang bekerja sebagai buruh tani tidak pernah lagi diajak tetangganya untuk bekerja sejak terjadi pandemi virus Covid-19 melanda negeri ini. Karena tak punya pemasukan, Sang Ayah pun berinisiatif untuk mengajak seluruh anggota keluarganya pindah dari Tolitoli, Sulawesi Tengah menuju Polewali Mandar, Sulawesi Barat untuk mencari pekerjaan pada kerabat ayahnya di Mandar yang konon mempunyai sawah dan kebun yang biasa membutuhkan kuli seperti dirinya.

 

Sesudah berpikir panjang dan berdiskusi dengan isterinya Nurhidayat pun memutuskan untuk mengajak keluarganya berjalan kaki menuju Polewali Mandar karena mereka tidak mempunyai uang sama sekali. Dengan sedikit perbekalan dan air minum yang mereka miliki, mereka pun terus menyusuri panasnya aspal jalanan sambil menahan lapar dan dahaga di tengah panas matahari yang membakar. Namun nasib belum berpihak pada Nurhidayat, sesampainya mereka di Polewali Mandar, kerabat yang dituju ternyata sudah pindah entah ke mana. Mereka pun kebingungan mau kemana sementara mereka tidak mempunyai uang sama sekali untuk kembali atau untuk hidup di Polewali Mandar. Karena kebingungan, akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di bawah pohon sambil meratapi nasib mereka. Anak-anak mereka menangis silih berganti karena menahan rasa lapar yang tiada terperi. Setiap anak mereka menangis, mereka tenangkan dengan membujuknya agar mereka diam, begitu seterusnya sampai akhirnya tubuh mereka gemetar menahan lapar untuk kemudian tergeletak di bawah pohon. Pingsan tak sadarkan diri.

 

Belum selesai perasaan pilu dan kesedihan saya mengikuti perjalanan pahit Nurhidayat dan keluarganya, kisah memilukan lainnya datang dari Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Banten. Seorang wanita yang biasa disebut Yuli,43 tahun bersama dengan suaminya Khalid dan empat orang anaknya ditemukan lemas di dalam rumah mungil mereka di Serang, Banten. Sebelum ditemukan lemas, Yuli sempat berkisah pada pewarta yang menemuinya bahwa dia dan keluarganya sudah dua hari ini tidak memperoleh makanan karena suaminya Khalid yang berprofesi sebagai pemulung dengan penghasilan 25.000 perhari tidak bisa lagi memulung karena efek Covid-19.

 

Berhari-hari mereka berusaha untuk bertahan hidup tanpa ada makanan sama sekali di rumah mereka. Setiap rasa lapar melanda mereka, Khalid hanya bisa membujuk dan menenangkan anggota keluarganya sambil mengatakan sabar kepada Yuli dan anak-anaknya untuk kemudian mereka meneguk air galon isi ulang, satu-satunya rezeki dari Allah yang mereka miliki selama berhari-hari ini.

 

Sebagai manusia biasa, Khalid, Yuli dan anak-anaknya, merasa pedih menjalani kepiluan hidup keluarga mereka. Mereka hanya bisa diam. Berusaha sabar. Sesekali menitikkan air mata melukiskan kesedihan hati mereka. Selama itu, tidak ada tetangga atau aparat desa yang mengetahui kondisi mereka. Sampai mereka kemudian ditemukan oleh warga dalam kondisi lemas tidak berdaya karena kehabisan tenaga. Beberapa hari sesudah ditemukan, Ibu Yuli kemudian diketahui meninggal dunia. Menutup mata selamanya meninggalkan dunia yang seringkali terlalu egois untuk orang-orang papah seperti dirinya.

 

Selain keluarga Nurhidayat dan Khalid, di luaran sana masih banyak keluarga-keluarga lain yang mengalami penderitaan serupa bahkan mungkin lebih sulit dari mereka. Fatalnya lagi, luka akibat kepedihan hidup yang mereka rasakan itu makin menjadi-jadi dengan sikap suka pamer, cuek dan apatis orang-orang kaya yang ada disekitarnya sebagaimana yang dirangkum oleh Association for Pshycological Science, New York. Orang kaya dalam kehidupan kita masih melihat orang miskin sebagai kelompok masyarakat kelas rendah. Cenderung mengganggap mereka tidak penting dan jarang sekali mereka (orang-orang kaya) itu berinteraksi dengan orang-orang miskin. Sehingga solidaritas sosial antara sesama tidak terbangun dengan baik.

 

Ketika membaca kisah pilu keluarga Nurhidayat dan keluarga Yuli saya teringat pada pelajaran indah dari sekawanan burung angsa dalam membangun solidaritas di antara mereka. Seorang bijak pernah melakukan penelitian ketika ia menangkap salah seekor burung angsa kemudian  beberapa helai bulu burung angsa itu dipotong sebelum dilepaskan kembali. Angsa itu pun berlari-lari menuju temannya yang sedang asyik mengais makanan. Sesudah kenyang sekawanan angsa ini pun terbang termasuk yang kehilangan beberapa helai bulunya pun berkali-kali berusaha untuk terbang namun tidak berhasil karena bulunya yang rusak membuat dia bersusah payah untuk terbang tapi usahanya sia-sia belaka.

 

Melihat salah seekor angsa tidak bisa terbang demi solidaritas sekawanan angsa itu pun memutuskan untuk kembali dan menunggu temannya yang kesulitan terbang itu. Nurani mereka tersentuh dan tak kuasa melihat salah seekor angsa mereka tinggalkan sendiri. Mereka pun mengitari angsa yang tak bisa terbang itu sambil sesekali paruhnya mereka sentuhkan ke sayap angsa yang tak bisa terbang. Berusaha menghibur dan memberikan dukungan.

 

Setelah beberapa hari menunggu, mereka baru berhasil meneruskan perjalanan ketika angsa yang tidak bisa terbang itu kembali mampu mengepakkan sayapnya di udara dan terbang bersama membentuk formasi indah mereka; formasi V.

 

Kisah kebersamaan sekawanan angsa ini seumpama sindiran bagi sifat egoisme manusia yang menganggap dirinya berperikemanusiaan dan mempunyai nurani yang lebih tajam daripada hewan. Namun pada prakteknya sering kali kita manusia kalah etis dari angsa yang binatang biasa.

 

Andai tetangga-tetangga Nurhidayat dan Yuli mampu melakukan apa yang sekawanan angsa itu lakukan. Niscaya kisah pilu yang dialami keluarga Nurhidayat dan keluarga Yuli tidak akan pernah terjadi di negeri indah berjuluk zamrud katulistiwa ini. Karena angsa-angsa itu bukan hanya memberikan pelajaran mengenai kesetiakawanan, kebersamaan, namun mereka juga mengajarkan kita bagaimana saling mendukung dan saling mengasihi satu sama lain. *

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *