Belajar Pada Sepi

Posted on Posted in Puisi

Oleh Aguk Irawan MN

Seperti puisi, Ramadhan kali ini begitu sepi
tak begitu ada gegap gempita di rumah ibadah
berisik berita ta’jil, gema talbiyah, juga terawih
pandemi Corona bagai lemari es yang terbuka
membekukan terminal, bandar udara, pelabuhan
Restoran, swalayan, cafe, mall dan aneka desir syiar

Allah, pelajaran apa yang mesti kami dapat dalam keheningan ini?
apakah tasbih, tahmid dan tahlil kami selama ini hanya untuk memuja diri kami sendiri?
ataukah khauf dan raja’ kami selama ini sekedar pura-pura dan topeng belaka?
Oh, apakah masjid dan mushalla yang kami singgahi
hanya sebagai tempat berbangga diri dan uluk kesalehan?
Astagfirllah…, alangkah dzalimnya diri kami ini padamu?

Sembari kami merebahkan diri, dikeharibaan-Mu
menginsafi dosa-dosa kami dan menyesapi sunyi
izinkan kupantulkan asma-asmaMu ke batinku yang kosong ini
sebagai pernyataan penyesalanku yang sungguh
juga, biar cintaku pada-Mu membaur ke udara dan dimana-mana

Allah, kini perkenankan aku belajar pada bukit dan pohon
yang tahan hening merawat kerinduannya bertahun-tahun
izinkan pula, aku berguru pada bangau yang tahan bersabar
dan tahu kapan saatnya harus berkerumun menaklukkan pulau
atau menikmati sunyi pada waktu yang memendamnya

Allah, inilah ruang relung dari hela nafas kami yang khudu’
sebagai pengakuan khilaf, dosa-dosa dan harapan ampunan-Mu
berilah kami dunia baru yang penuh rahman dan rahmatMu
rabbana la tuzigh qulubana ba’da id hadaitana
wa hab lana min ladunka rahmah innaka antal wahhab. Amin

Pajangan, 8 Ramadhan 1441 H.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *