Antara Nalar Fiqih, Medis dan Aqidah

Posted on Posted in Essai

Oleh: Aguk Irawan MN

Beragam fatwa ulama yang sangat kredibel ilmunya sudah beredar luas dan viral, baik dari individu kiai, MUI, dari versi ulama Al-Azhar maupun kalangan ulama Arab Saudi. Logika fiqih, baik dzanni dan qat’i sudah dijelaskan dengan detail. Begitu juga penjelasan dan nalar medis, mulai dari dokter spesialis, Kemenkes maupun badan tertinggi kesehatan dunia (WHO).

Lebih dari itu, sejarah Islam di masa lalu juga turut andil dalam memberikan arahan terkait wabah ini, dua diantaranya yang penting adalah buku Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam karya Abdus Salam Harun yang mengisahkan Rasulullah melarang Aisyah menjenguk ayahnya sendiri yaitu Abu Bakar yang terkena wabah demam. Bahkan kisah ini bersumber dari Aisyah sendiri, dan ulama hadis mengkategorikan hadis ini sebagai hadis shahih.

Selain itu, tentu saja kisah Sayyidina Umar yang viral itu, yaitu ketika beliau dan rombongan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanannya ke Syam dan kembali ke Madinah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab al-Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal, kitab al-Muwatha’ karya Imam Malik, dan kitab Shahih al-Bukhari karya Imam al-Bukhari.

Semua sudah dijelaskan dengan komplit baik dalil naqli maupun aqlinya. Yang perlu disoroti adalah anjuran untuk tidak berkerumun tidak saja menghalangi orang yang berniat baik ke masjid, mendatangi majelis taklim atau silaturahmi di mana hal itu merupakan sunah yang dianjurkan, bahkan kewajiban, misal Shalat Jumat. Tapi tolak ukurnya adalah ketika berkerumun atau silaturahmi itu bisa menjadi sebab madharat bagi diri kita maupun orang lain, inilah titik tekannya. Karena itu Nabi pernah melarang istrinya, Aisyah RA. untuk menjenguk ayahnya ketika sakit akibat terkena wabah. Padahal bukankah birrul walidain adalah kewajiban?

Di situlah kiranya Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 195 menemukan konteksnya:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (berbuatlah) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Ayat di atas menemukan konteksnya dengan hadis Nabi yang menjadi kaidah ushul fiqh: La darar wa la dirar “لاضرر ولاضرار”. Darar adalah perbuatan yang bisa menimbulkan kerusakan pada orang lain. Sedangkan dirar adalah dampak lain yang terus membuat kerusakan, baik disengaja maupun tidak.

Maka tidak boleh tidak, penyebab kerusakan itu harus dihentikan, meskipun di dalamnya mengandung kebaikan. Kaidah ini bisa diterapkan dalam upaya pencegahan virus Covid-19 yang sedang menjadi momok dunia. Jika tidak, maka virus itu akan membuat bahaya, menambah kerusakan dan memperluas cakupan dampaknya.
Adapun cabang dari kaidah di atas oleh ulama ushul dirinci menjadi 5 yaitu:

1. Kerusakan ditolak sebisa mungkin (الضرر يدفع بقدر الإمكان‏).
2. Kerusakan dapat dihilangkan (الضرر يزال.‏)
3. Kerusakan yang parah dihilangkan dengan kerusakan yang lebih ringan (الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف‏).
4. Kerusakan yang khusus ditangguhkan untuk menolak kerusakan yang umum (يتحمل الضرر الخاص لدفع الضرر العام‏).
5. Menolak kerusakan lebih utama daripada mendatangkan kebaikan (درء المفاسد أولى من جلب المصالح).

 

Tetapi permasalahannya sekarang adalah, kenapa ada yang seperti tidak peduli dengan nalar sejarah Islam, fiqih atau nalar medis? Itu karena mereka lebih menggunakan nalar aqidah secara dominan, bahwa kematian itu soal takdir. Dengan adanya keadaan darurat maka sudah saatnya berkumpul dan munajat bersama. Nalar aqidah ini memang tidak salah, tetapi jika terlalu dominan, bisa menabrak nalar sejarah, fiqih dan medis. Inilah masalahnya.

Padahal kata Imam ‘Izzuddin bin Abdis Salam ( w. 660 H./1262 M), antara fiqih dan logika sains (medis) punya nalar sendiri. Logika fiqih dan sains ada di wilayah publik, sementara aqidah ada di wilayah privat. Keduanya tidak pernah bertentangan jika kita menggunakan nalar fiqih dan sains lebih dulu, dan bukan sebaliknya, apalagi mendominasi dan dijadikan nalar publik.

Kenapa demikian? Sebab nalar fiqih dan sains lebih menyandarkan pada al-hukm al-‘adi (umum), yaitu sebuah ikhtiar yang tidak mengkhianati hasil jika dilaksanakan.

وإنما اعتمد عليها -أي الظنون- لأن الغالب صدقها عند قيام أسبابها. (القواعد الكبرى: 1/6.(

Meskipun nalar fiqih dan medis masih bersifat dzan (sangkaan), tapi kita tidak bisa melepaskan dari hal itu. Karena yang berlaku secara umum, sebab dan akibatnya terukur dan teruji secara nyata. Kendati demikian, saya pribadi meyakini bahwa nalar aqidah bisa membuat imunitas tubuh dari penyakit. Wallahu a’lam bishawab.

Kasongan Pagi, 21 Maret 2020.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *