Virus Corona dan Kesiapan Indonesia Menghadapi Perang Bio-Terorisme

Posted on Posted in Essai

Oleh: Mujahidin Nur, Direktur The Islah Centre, Jakarta

 

Seorang laki-laki berumur sekira 60 tahun menatap ruangan rawat inap Dr. Mohammad Solaiman, Jedah, tempat di mana dia  diisolasi. Tatapannya kosong, otaknya berpikir keras penyakit apa gerangan yang ia derita. Tidak pernah dia merasakan dirawat selama ini. Sudah lebih dari tujuh hari tujuh malam dia dirawat tanpa  diagnosis yang jelas dari dokter yang merawatnya. Dia hanya merasakan demam tinggi disertai  kepala pening, batuk-batuk dan sesak napas.

 

Sebagai orang yang menerapkan gaya hidup sehat dan sama sekali tidak pernah merokok, dia merasa sakit yang dialaminya bukanlah jenis penyakit yang biasa dialami oleh para perokok. Sehingga dia tidak terlalu khawatir dengan sakit yang dideritanya. Apalagi dalam hidupnya dia mengaku tidak mempunyai sejarah dirawat di rumah sakit selama ini dan tidak pernah ada masalah pada ginjal maupun paru-parunya.

 

Kebingungan paramedis dalam menangani kasus yang diderita laki-laki ini, membuat manajemen rumah sakit Dr. Mohammed Solaiman pun harus mendatangkan ahli virologi terkemuka dari Ain Shams University, Mesir, Prof. Dr. Ali Mohamed Zaki. Dia dikenal sebagai seorang ahli virologi ternama di Mesir dan kawasan Timur Tengah.

 

Di samping sampel darah, Dr. Ali Mohamad Zaki juga memeriksa sampel dahak pasiennya untuk kemudian ia secara intensif memerika dan mengisolasi pasiennya dalam sebuah ruangan khusus sampai akhirnya Dr. Ali Mohamed Zaki menemukan di paru-paru orang tua ini terdapat sebuah virus mematikan yang ia sebut Corona. Menyadari bahwa kasus yang ditanganinya merupakan kasus pertama di Timur Tengah dan tergolong virus mematikan, dia pun melakukan observasi secara intensif pada pasiennya dan berusaha melakukan diagnosa untuk mengetahui apa penyebab virus Corona ini. Namun, sesudah berkali-kali dia melakukan observasi dan diagnosa pada pasiennya, dia gagal  menemukan penyebab  virus pada pasiennya.

 

Dalam kebuntuannya, Ali Mohamed Zaki pun mendiskusikan kasus yang dialami oleh pasiennya itu kepada seorang kolega dekatnya, Dr. Ron Fouchier, ahli virologi ternama yang bekerja di Erasmus Medical Research Rotterdam, Belanda. Ali Mohamed Zaki berpikir, laboratorium yang dimiliki oleh Ron Fouchier lebih modern, di samping para peneliti senior dalam masalah virologi yang membuat Ali Mohamad Zaki merasa yakin temannya bisa membantunya menemukan penyebab virus ini.

 

Nahas, pada hari kesebelas dari perawatan, pasiennya menutup mata, meninggalkan dunia selama-lamanya tanpa mengetahui penyebab virus yang dideritanya. Ali Mohamed Zaki pun mengirimkan sampel dahak pasiennya ke Dr. Ron Fouchier untuk dilakukan penelitian lanjutan pada virus ini dengan memberikan pesan pada Dr. Ron Fouchier agar berhati-hati dalam melakukan penelitian virus mematikan ini.

 

Oleh Dr. Ron Fouchier, virus Corona milik pasien Ali Mohammed Zaki pun diobservasi pada alat yang sangat modern yang disebut RTPCR (Real-Time Polymerase Chain Reaction) untuk mengidentifikasi penyebab munculnya virus. Namun selama berhari-hari melakukan penelitian untuk menemukan penyebab  virus Corona yang menyerang manusia, Dr. Ron Fouchier dan koleganya tidak mendapatkan hasil apa-apa. Mereka tidak mampu mengidentifikasi penyebab munculnya virus mematikan itu. Hasilnya buntu sama seperti yang dialami oleh Ali Mohammed Zaki.

 

Dr. Ron Fouchier kemudian mengontak koleganya yang bekerja di National Microbiology Laboratory, Kanada, Dr. Frank Plummer, seorang peneliti virus ternama di dunia yang berhasil menciptakan vaksin antivirus mematikan Bimabol Ebola yang telah membunuh 11.000 lebih masyarakat di daratan Afrika bagian barat. Dia juga merupakan peneliti virus HIV/AIDS yang juga  mematikan itu. Di tangan Dr. Frank Plummer dan timnya, Ron Fouchier berharap ada jawaban akan misteri yang meliputi virus yang dikirim oleh Ali Mohammed Zaki, koleganya di Mesir itu.

 

Bulan Mei tanggal 4 tahun 2013, Dr. Frank Plummer menerima virus yang dikirimkan oleh Ron Fouchier dari Belanda. Sesudah dilakukan diskusi awal mengenai perjalanan virus Corona ini dengan Ron Fouchier, para ilmuwan virologi Kanada dipimpin oleh Dr. Frank Plummer pun kemudian berusaha melakukan penelitian jenis virus ini untuk mengetahui jenis hewan apa yang bisa menginfeksi manusia melalui virus ini.

 

Peralatan laboratorium mutakhir, para peneliti terkemuka dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sini. Di samping pengalaman mereka melakukan penelitian virus HIV/AIDS, keberhasilan mereka membuat vaksin Bimabol Ebola yang mematikan itu membuat National Microbiology Laboratory, Kanada disegani oleh ahli-ahli virus dari berbagai penjuru dunia. Tak berselang lama dari tahun kedatangan virus Corona di Kanada, para ilmuwan di National Microbiology Laboratory mampu dengan cepat menemukan jenis baru dari virus Corona yang mereka sebut genom SARS Coronavirus dan Coronavirus NL63 yang ditemukan pada tahun 2014. Kemampuan National Microbiology Laboratory Kanada dalam melakukan penelitian virus inilah yang diduga menjadi alasan kenapa China dan negara-negara lain yang berambisi membuat senjata bio-weapon menjadikan laboratorium prestisius National Microbiology Laboratory ini sebagai target intelijen-intelijen mereka.

 

VIRUS CORONA DICURI?

 

Keengganan China untuk bersama 109 negara-negara di dunia yang menandatangani konvensi pelarangan pembuatan senjata biologi menimbulkan spekulasi dan pertanyaan dari berbagai kalangan ketika virus Corona menjadi epidemi mematikan di China. Apakah benar China sedang berusaha untuk mengembangkan senjata biologi?  Benarkah undangan yang dilakukan oleh Wuhan Biosafety Laboratory selama dua kali dalam satu tahun ada kaitannya dengan pencurian virus Corona yang dilakukan oleh ilmuwan China yang bekerja di National Microbiology Laboratory, Dr. Xiangguo Qui dan suaminya. Keduanya diduga merupakan ilmuwan China yang bekerja untuk melakukan spionase bio-weapon (senjata biologi).

 

Saat virus Corona tiba di National Microbiology Laboratory, semua maklum, Dr. Xiangguo Qui dan suaminya bekerja sebagai salah satu peneliti di laboratorium ternama tersebut. Karenanya, paska epidemis Corona di Wuhan, Biosafety Laboratory yang terletak 32 KM dari Wuhan Institute of Virology di Jiangxia, Wuhan, Provinsi Hubei mendadak menjadi sorotan dunia. Laboratorium paling modern dengan klasifikasi P4 yang mempunyai makna laboratorium yang dipakai hanya untuk melakukan penelitian pada virus-virus mematikan di dunia. Laboratorium inilah yang diduga merupakan laboratorium yang mempunyai kemampuan mengembangkan virus Corona untuk senjata biologi yang menjadi kecurigaan sejumlah ahli mikro-biologi di berbagai penjuru dunia saat ini.

 

Dugaan berbagai ahli mikro biologi dunia terhadap aktivitas rahasia dan mencurigakan yang dilakukan oleh laboratorium yang terletak tidak jauh dari Wuhan Institute of Virology ini bukan tanpa alasan. Sebelum kasus virus Corona ini menggemparkan dunia dan merenggut ribuan nyawa serta menginfeksi ribuan lainnya, Dr. Xiangguo Qui yang diduga bekerja untuk intelijen China untuk melakukan spionase pengembangan senjata mikro-biologi tertangkap mencuri virus mematikan Coronavirus dan beberapa virus mematikan lainnya; Bombali Ebola dan Nipah dari Canada’s National Microbiology ke China.

 

Lalu pertanyaannya, kenapa virus ini malah menyerang warga China sendiri? Seorang Youtuber kenamaan dan influencer media sosial, Blue-Ribbon mengatakan bahwa virus Corona yang menghancurkan China saat ini dirilis oleh intelijen-intelijen Amerika sebagai bentuk multi-pronged war, peperangan proxy multidimensi untuk melemahkan dan menghancurkan sendi-sendi perekonomian China.

 

Analisa yang disampaikan oleh Blue-Ribbon bisa saja benar adanya, kendatipun sulit untuk mengkonfirmasi apakah benar Amerika adalah negara yang menjadi aktor pelaku peperangan proxy multi dimensi di China. Andai benar virus Corona itu dijadikan senjata oleh Amerika, setidaknya ada beberapa target yang ingin dicapai oleh Amerika melalui penyebaran virus itu. Pertama, Amerika ingin melemahkan sistem perekonian mikro dan makro China. Konsekuensi paling pahit yang dirasakan oleh China saat ini adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat di bawah 5% pada kuartal pertama di tahun 2020 ini. Kedua, Amerika ingin memutuskan konektivitas jalur sutra perdagangan dan investasi China atau yang disebut OBOR (one belt one road) dengan negara-negara lain di dunia. Keetiga, Amerika ingin mengisolasi China dari konektivitas perekonomian dunia. Keempat, mendisrupsi arah pembangunan yang sedang dilakukan oleh pemerintah China yang saat ini mengkarantina lebih ari 50 juta penduduknya akibat epidemi Corona.

 

Virus Corona yang mematikan dan terus merajalela kini telah benar-benar membuat perekonomian China limbung. Pendapatan dari sektor manufaktur dan wisata negeri tirai bambu ini menurun lebih dari 80%, jumlah korban yang meninggal dan terinfeksi oleh virus mematikan ini pun terus bertambah setiap harinya, utamanya dari kota Wuhan, kota yang menjadi jantung 1.6 % pemasukan negeri Tiongkok ini.

 

Menurut laporan AFP, per Selasa (28/1/2020), jumlah korban meninggal akibat virus yang mirip Server Acute Respiratory Syndrome (SARS) telah mencapai setidaknya 1000 orang lebih di China saja. Sementara kasus terkonfirmasi sebanyak 2.900 orang di seluruh dunia. Jumlah negara yang melaporkan wabah Corona juga terus bertambah. Di China setidaknya 2.839 masyarakat terinfeksi virus mematikan ini, Hongkong 8 kasus, Makau 6 kasus, Taiwan 5 kasus, Australia 5 Kasus, Amerika 5 kasus, di samping Corona juga sudah menyebar ke berbagai negara; Kanada, Perancis, Jepang, Malaysia, Nepal, Korea Selatan, Thailand, Vietnam dan terbaru, ada Kamboja dan Sri Lanka.

 

KESIAPAN INDONESIA

 

Bioterorisme merupakan penggunaan mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit, produk biologi lainnya seperti toksin) atau spesimen infeksius yang digunakan jaringan teroris atau negara tertentu untuk menyerang, menghancurkan dan menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat atau sebuah negara. Artinya, aktor pelaku penyerangan bio-terorisme, sebagaimana terorisme itu sendiri bisa dilakukan oleh perorangan, organisasi teroris atau sebuah negara yang ingin menghancurkan negara lain. Lalu sejauh apa kesiapan Indonesia, andai Indonesia mendapatkan serangan bio-terorisme seperti yang terjadi di China yang telah merenggut korban 907 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya terinfeksi? Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan ketika China diserang wabah virus SARS tahun 2003 yang menyebabkan 774 orang meninggal dunia.

 

 

Andai serangan bio-terorisme terjadi Indonesia, apakah pemerintah Indonesia sudah siap menghadapinya? Sampai saat ini salah satu masalah terbesar pemerintah Indonesia adalah belum adanya undang–undang yang mengatur penggunaan agen biologi dan larangan penggunaan bahan biologi sebagai senjata biologi. Kelompok orang yang mempunyai potensi menyalahgunakan agen biologi adalah orang yang bekerja di lingkungan laboratorium biomedis (peneliti, perekayasa, petugas laboratorium), karena mereka yang mempunyai akses penggunaan agen biologi.

 

Sampai kini belum ada aturan jelas dari pemerintah terkait sistem pencegahan serangan senjata biologi. Dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2012, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memiliki tugas dan fungsi menghadapi terorisme, tapi tidak disinggung sedikit pun tentang aturan pencegahan terorisme yang melibatkan agen biologis serta cara koordinasi lintas kementerian/lembaganya.

 

Faktor lainnya yang mengharuskan Indonesia menyiapkan segala infrastruktur dan UU terkait serangan bio-terorisme adalah ketersedian bakteri antraks. Secara geografis, kondisi lingkungan Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, sebagian Jawa, dan Sulawesi merupakan daerah endemik antraks. Ini berarti sumber agen bakteri patogen yang mematikan seperti bakteri antraks telah tersedia, tinggal diperbanyak secara massal. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh petugas laboratorium biomedis.

 

Lalu bagaimana?

 

Penggunaan senjata biologi sebagai bio-terorisme tidak mudah dibedakan dari wabah penyakit atau sebuah serangan teror yang direncanakan. Terlebih bila serangan itu dilakukan di ruang terbuka yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat.

Karena itu, ancaman ini perlu ditanggulangi secara sistematis, termasuk segera membuat regulasi dan infrastruktur untuk mencegah serangan senjata biologi, yang melibatkan banyak institusi terkait di bawah koordinasi Badan Intelijen Negara (BIN).

 

Sangat mungkin Indonesia menjadi sasaran terorisme yang melibatkan agen bakteri antraks atau virus lainnya di masa depan. Satu hal yang pasti, saat ini Indonesia belum siap menghadapi ancaman bio-terorisme secara terintegrasi yang melibatkan banyak institusi, sementara unsur-unsur penunjang akan timbulnya bio-terorisme sudah ada di depan mata.*

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *