Perang Proxy Amerika vs Iran dan Pembunuhan Jenderal Qassem Sulaimani

Posted on Posted in Essai

Oleh : Mujahidin Nur, Direktur The Islah Centre, Jakarta.

 

Kota seribu satu malam dini hari itu masih terlelap. Embun pagi mulai menitis membasahi hangar pesawat dan jalanan beraspal di sekitar bandara internasional Sulaimaniyyah, Banghdad, ketika rudal dari Drone angkatan udara Amerika Serikat menghantam konvoi iring-iringan mobil yang menjemput pemimpin tertinggi pasukan elit Quds, Garda Revolusi Iran (sepah-e-Qods), Jenderal Qassem Sulaimani setibanya di Irak usai melakukan lawatan di Libanon. Seketika iringan konvoi mobil itu meledak diiringi suara dentuman keras, mobil yang dikendarai sang jenderal luluh lantak untuk kemudian terbakar. Asap mengepul hitam membumbung ke angkasa.

 

Seketika tubuh sang Jenderal hancur bersama serpihan mobil yang dikendarainya sebelum akhirnya ikut terbakar. Jenderal jenius, kharismatik dan pendiam yang selama ini ditakuti oleh Amerika dan aliansinya di Timur Tengah ini meregang nyawa. Di samping Jenderal Qassim Sulaimani, komandan milisi Syiah Irak, Kataib Hizbullah, yang menjemputnya, Abu Mahdi al-Muhandis pun tewas terbakar bersama dengan jasad jenderal berperawakan ‘mungil’ yang lahir di kaki gunung, Kerman (Cermania), bagian utara Iran.

 

Jenderal yang dalam orasinya selalu berharap bisa menghancurkan dominasi Amerika di Timur Tengah dan menciptakan perdamaian di kawasan ini dikagumi karena keberhasilannya memimpin pasukan rahasia yang bernama Pasukan Quds dengan jumlah pasukan sekira 3000an orang. Pasukan ini merupakan bagian dari pasukan elit Garda Revolusi Iran yang bertanggungjawab langsung pada pemimpin tertinggi Iran, Ayatuallah Ali Khameinie dan bertugas untuk melakukan operasi-operasi rahasia Iran di luar negeri.

 

Penamaan Quds sendiri diambil dari misi pembentukan pasukan ini yakni untuk membebaskan tanah umat Islam yang dijajah oleh Israel yakni al-Quds atau Yerusalem, di Palestina. Pada perang Iran dan Irak, baik selama dan setelah perang, pasukan ini memberikan bantuan persenjataan, pelatihan dan logistik kepada pasukan Kurdi untuk melakukan perlawan terhadap Saddam Hussein. Setelah invasi AS ke Irak berhasil menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein (2003), Pasukan Quds mulai membantu milisi Syiah Katibah Hizbullah, Irak di negara ini yang kemudian menjadi proxy Iran di Irak.

 

Pada tahun 1982, Iran melakukan operasi rahasia melalui pasukan Quds yang dikerahkan ke Lebanon untuk membantu pembentukan Hizbullah. Pada masa itu Iran melalui Qassem Sulaimani meminjamkan setidaknya 5000 pasukan Garda Revolusi Iran untuk melawan Israel yang saat itu masih menduduki Libanon. Alasan pasukan Hizbullah yang belum terorganisir dan terlatih seperti saat ini membuat Qassem Sulaimani muda mengeskspor tentara elit Iran ke Libanon. Disamping Hizbullah memperoleh pasokan ribuan roket buatan Rusia, kemewahan yang pada 1980-an tak dimiliki organisasi perlawanan Israel lainnya. Serangan sporadis dengan gaya gerilya dilakukan Hizbullah pada personil militer Israel.

 

Qassem Sulaiman jualah yang melakukan pelatihan terhadap milisi-milisi Syiah yang dipimpin oleh Hassan Nasrallah ini sampai menjadikan Hizbullah sebagai salah satu milisi sipil bersenjata paling aktif dan paling disegani di dunia yang dilengkapi dengan berbagai macam skill setara pasukan elit Garda Revolusi Iran dan juga persenjataan memadai termasuk mempunyai rudal anti tank Sagger buatan Rusia yang mampu menghancurkan kendaraan tank paling moderen milik Israel, Humve dan Merkava. Sehingga menjadikan Hizbullah menjadi milisi sipil proxy Iran satu-satunya yang bisa menandingi kekuatan Israel (1982, 2006) di dunnia.

 

Operasi rahasia Iran dibawah komandan Qassem Sulaimani juga merangsek ke negara tetangga Iran dengan mengirim pasukan rahasia Quds ke Afghanistan pada tahun 1980-an, terutama untuk membantu organisasi Hezbe Wahdat yang dipimpin Abdul Ali Mazari melawan pemerintahan Mohammad Najibullah. Kemudian Pasukan ini mulai mendanai dan mendukung Aliansi Utara yang dipimpin Ahmad Shah Massoud untuk melawan Taliban. Namun, baru-baru ini, Pasukan Quds diyakini telah membantu para gerilyawan Taliban (milisi sipil berideologi Sunni) untuk melawan pemerintahan Hamid Karzai (2004-2014) dan Presiden Ashraf Ghani (2014-Sekarang) yang dianggap oleh Thaliban sebagai boneka Amerika. Bahkan secara rahasia Imarah Islamiah Thaliban mengirimkan kader-kader terbaik mereka ke Mashad untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari Garda Revolusi Iran. Sehingga menjadikan Thaliban sebagai proxy Iran di Asia Tengah. Ada juga laporan yang menyatakan bahwa pasukan ini membantu Muslim Bosnia melawan Serbia Bosnia selama perang Yugoslavia.

 

Di bawah kepemimpina Jenderal Qassem Sulaimani, Iran memperkuat kehadiran militernya di Suriah dan menjadi figur kunci dalam upaya Suriah menggempur ISIS di Suriah dan kelompok-kelompok pemberontak lainnya yang diyakini oleh Iran sebagai proxy bentukan Amerika, Israel dan sekutunya di Timur Tengah. Iran sendiri secara resmi mengakui peran Pasukan Quds dalam rangkaian konflik di Suriah. Pasukan Quds bertugas memberi konsultasi kepada pasukan yang setia terhadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad, sekaligus mempersenjatai ribuan milisi Syiah di Suriah dan Irak. Khusus di Irak, Pasukan Quds memberi sokongan kepada paramiliter Syiah yang membantu melawan ISIS. Konflik-konflik ini menjadikan Soleimani semacam pesohor di Iran karena kesuksesannya mengagalkan upaya Amerika, Israel dan sekutunya yang ingin menumbangkan rezim Bashar al-Assad.

 

Pada tahun 2017 Jenderal Qassem Sulaimani melakukan operasi rahasia paska pertemuan dengan pimpinan tertinggi Garda Revolusi Iran. Kedua belah pihak membicarakan mengenai bagaimana cara memperkuat kemampuan tempur pasukan pemberontak Houthi dan menjadikan kelompok Houthi sebagai proxy Iran di Yaman untuk memperkuat pengaruh Iran di negara tersebut. Paska pertemuan itu, Jenderal Qassem Sulaimani bukan hanya memberikan dukungan finansial, pelatihan militer, bahkan melalui pasukan Quds Qassem Seulaimani menyelundupkan Tank Kornet untuk menumbangkan pemerintahan sah Presiden Abdu Robou Mansur al-Hadi.

 

Di Palestina sendiri, Qassem Sulaimani berhasil menjadikan pegerakan HAMAS yang notabene milisi sipil berideologi Sunni (Ahlu Sunnah wa al-Jamaah) di Palestina sebagai patner Iran di kawasan untuk melakukan perlawanan terhadap Israel. Di bawah komando Qassem Sulaimani-lah hubungan HAMAS dan Iran makin menguat. Quds memberikan dukungan finansial dan pelatihan terhadap pejuang-pejuang HAMAS. Puncuk keharmonisan hubungan Qassem Sulaimani dengan HAMAS adalah keberhasilan Qassem Sulaimani membawa tokoh-tokoh HAMAS untuk melakukan ke lawatan ke Iran (26 Juli 2019) beberapa waktu lalu yang dipimpin oleh Saleh Arouri (wakil kepala biro politik).

 

Sejumlah analis bahkan menilai Soleimani memiliki pengaruh diplomatik yang lebih besar ketimbang Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif. Bahkan timbul spekulasi, jangan-jangan jenderal kelahiran Kerman itu berniat menjadi Presiden Iran, apalagi dia merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam pembentukan Republik Islam Iran. “Lebih dari siapapun, Soleimani bertanggung jawab atas penciptaan ‘arc of influence’ atau ‘axis of resistance’ yang membentang dari Teluk Oman melalui Irak, Suriah, dan Lebanon ke pantai timur Laut Mediterania.”

 

Di Irak, milisi Syiah bentukan Qassem Sulaimani melontarkan serangan demi serangan ke pihak AS. Setelah salah satu serangan menewaskan seorang kontraktor asal Negeri Paman Sam, AS melancarkan serangan udara terhadap pangkalan militer di sepanjang perbatasan dengan Suriah yang digunakan kelompok Kataib Hezbollah. Serangan itu menewaskan 25 anggota milisi dan melukai lebih dari 50 anggota milisi.

 

Puncak kemarahan Donald Trump pada Qassem Sulaimani adalah ketika pada malam tahun baru lalu, milisi Syiah dan pendukungnya menyerbu kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad. Walau tidak ada yang terbunuh dalam insiden itu, Trump menyebut Iran harus bertanggung jawab atas tindakan tersebut.

 

Para analis sepakat Soleimani adalah sosok yang unik dan mungkin tidak tergantikan di Iran. Dialah yang mampu membangun ring of fire (titik api) yang membahayakan Israel dan kepentingan Amerika di Timur Tengah. Tetapi, setelah kabar kematiannya, banyak yang bertanya apa efek dari kematian sang jenderal dalam percaturan politik di Timur Tengah. Akankah kematiannya akan meletupkan perang dunia ke III? Akankah Iran melakukan serangan balasan dengan menyerang negara yang menjadi proxy Amerika di Timur Tengah yakni Israel atau akankah Iran akan membalas dendam dengan melakukan penyerangan pada sekutu dekat Amerika di Timur Tengah yakni Arab Saudi? Ataukah Iran akan melakukan balas dendam dengan melakukan penyerangan terhadap pangkalan militer Amerika di Irak atau Arab Saudi? Semua itu mungkin saja terjadi dan andai itu terjadi maka perang dunia ketiga tinggal menunggu waktunya saja! *

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *