Rumah Kata-kata

Posted on Posted in Aktif, Cerpen, Santri

Oleh : A. Muhaimin D.S

Siapa yang tidak tahu rumah itu? Rumah dengan pendopo kayu di halaman depannya. Berada di tengah-tengah kampung yang dikelilingi hutan jati. Rumah itu tampak berwibawa di antara rumah-rumah lainnya. Jumlah pohon jati di kampung itu jauh lebih banyak dibandingkan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Itu menjadikan suasana sepi menyelimuti kampung itu. Tapi lagi-lagi rumah itu menunjukkan keistimewaanya. Rumah itu tidak pernah sepi dari tamu. Lalu untuk apa sebenarnya tamu-tamu itu mendatanginya?

Aku termasuk tamu yang mengunjunginya. Sebelumnya aku tahu tentang rumah itu dari seorang teman. Saat itu sama-sama sedang menikmati kopi di sebuah warung kopi di tengah kota. Di tengah obrolan itulah ia menceritakan sebuah rumah ajaib, yang tidak pernah sepi dari tamu. Tamu-tamu dari berbagai daerah itu sengaja mengunjunginya untuk mendapatkan sebuah solusi dari berbagai macam masalah. Melihat aku yang sedang dirundung masalah soal pekerjaan. Akhirnya sebuah alamat kudapatkan dan mengunjungi rumah itu atas saran temanku.

“Datanglah ke rumah itu, kamu akan diajak merefleksikan diri,” tegasnya padaku, sambil menepuk pundakku yang kedapatan meragukan sarannya itu. “kamu akan melakukan refleksi diri lewat kekuatan rahasia dari sebuah kata-kata, yang tidak semua orang beruntung mendapatkannya.”

Kata-katanya itu membuatku yakin sekaligus meragukannya. Ia memang seorang yang kukenal sejak kecil. Bahkan aku tahu kalau ia memang punya cita-cita menjadi seorang motivator saat SMP dulu. Maka kata-kata dengan nada yang lebih tepat disebut motivasilah yang menjadikanku ragu atasnya. Jangan-jangan apa yang ia katakan hanya sebuah motivasi yang belum tentu benar-benar terbukti keberadaanya. Aku pun takut, ia hanya membesar-besarkan cerita saja tentang rumah itu. jangan-jangan itu hanya bualan. Sebab, meskipun ia lebih cocok disebut sebagai motivator, nyatanya saat ini justru memilih pekerjaan menjadi seorang desainer sampul buku.

“Tenang saja, aku telah membuktikannya. Aku pernah bertamu di sana dan merasakan langsung keajaiban dari kata-kata. Jika kau masih ragu, cari tahulah tentang rumah itu di internet. Kau pasti akan menemukan banyak persaksian dari orang-orang yang pernah mengunjunginya,” ucap temanku sambil meninggalkan secarik kertas bertulis alamat rumah itu.

Sejak pertemuanku itu, aku sering menghabiskan waktu di depan laptop di warung kopi. Aku yakin, jika bukan aku yang mendapatkan bualan aneh dari temanku itu. Pasti orang lain tidak akan benar-benar mencari tahu tentang rumah itu. mereka akan mengabaikannya, dianggap membuang waktu. Lebih baik hidup dengan yang pasti-pasti saja. Fokus bekerja dan terpenuhi kebutuhan untuk makan dan belanja saja sudah cukup.

Akhirnya kutemukan sebuah persaksian dari seseorang tentang rumah itu. Dalam persaksiannya ia hanya menguraikan tentang satu metode yang belum pernah aku temui selama ini. “Dari kata-kata turun ke hati” kurang lebih itu yang menjadi penggalan yang menurutku penting yang kudapat dari persaksiannya. Dan darinya aku menemukan identitas rumah itu, yaitu rumah yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Kata-kata.

Mendapati sebuah fakta baru tentang Rumah Kata-kata aku langsung menelepon temanku. “Di internet aku menemukan seseorang bercerita tentang pengalamannya tinggal di Rumah Kata-kata. Berapa hari kamu dulu tinggal di sana?” Tanyaku mendesak.

“Rupanya kamu mengikuti saranku. Hehe”

“Sudahlah jangan bercanda, aku sangat ingin tahu tentang pengalamanmu tinggal di sana?”

“Buat apa kamu tahu apa yang kulakukan di sana. Mending kamu secepatnya saja ke Rumah Kata-kata itu!”

“Tapi aku perlu tahu sedikit saja tentang rumah itu dari kamu. Soalnya kamu yang dulu kukenal sebagai orang yang memiliki cita-cita sebagai motivator, kenyataannya saat ini berubah menjadi seorang desainer sampul buku. Meski gayamu bicara yang mirip motivator masih melekat padamu.”

“Haha, sudahlah! Berangkat saja! Besok aku antarkan kamu ke terminal bus jam delapan pagi. Biar nanti kamu tiba di Rumah Kata-kata masih sore, dan bisa merasakan nuansanya yang indah. Tidak semua orang diperkenankan untuk mengutarakan pengalamannya tinggal di sana”.

“Tapi, yang kutemukan itu?”

“Iya, tenang saja. Bisa dipastikan orang itu benar-benar pernah tinggal di sana. Karena setiap orang yang berhasil berproses di Rumah Kata-kata diharuskan untuk membagikan pengalamannya.”

“Kamu gagal? Kenapa tidak ada persaksianmu?”

“Sudahlah, ke sana saja dulu. Nanti kamu akan tahu apa yang terjadi padaku.”

***

Keesokan paginya pun aku berangkat ke terminal diantarkan temanku dengan naik vespa miliknya. Dengan secarik alamat yang dituliskan temanku saat di warung kopi waktu itu. aku akhinya memilih sebuah bus dengan tujuan Kota Istimewa. Tak lupa temanku pun menitipkan sebuah buku yang ternyata baru selesai ia tulis, sekaligus ia sendiri yang mendesain sampulnya.

“Jangan lupa salam dan titipanku pada Romo!” katanya lalu berlalu, keluar terminal dengan vespa bututnya. Sedangkan aku melangkah masuk ke dalam bus biru dengan gambar lumba-lumba di bodi sampingnya. Memandangi punggung temanku dengan vespanya yang semakin menjauh, lalu lenyap melesat meninggalkan lampu merah di pertigaan sebelah terminal.

Delapan jam diombang-ambingkan bus berwarna biru itu. aku melesat dengan tujuan sebuah kampung yang dikelilingi hutan jati, yang berada di sudut barat Kota Istimewa. Tampaknya gambar ikan lumba-lumba yang ada di bodi samping bus itu dipasang bukan tanpa alasan. Nyatanya kurasakan sebuah pacuan adrenalin yang sangat kuat saat duduk di salah satu bangku di dalamnya. Melaju, hingga bodi bus pun seolah diombang ambing gelombang laut, karena sangat kencangnya sopir dalam mengendarainya. Kulihat dibeberapa bangku justru seorang menikmati ngebutnya bus yang membawanya melesat itu. Tapi beberapa orang justru duduk meringkuk dan tegang penuh ketakutan. Sedangkan aku justru sibuk membayangkan Rumah Kata-kata yang sebentar lagi akan kulihat dan tinggal di dalamnya.

Sampai di Terminal Gondelan, aku melanjutkan perjalanan dengan naik ojek menuju sebuah alamat, Kampung Wit Jati, Kecamatan Lukisan. Benar saja, rasa raguku tiba-tiba muncul saat kudapati aku masuk di sebuah hutan jati. Ada beberapa rumah, tapi jaraknya sangat berjauhan. Tak sedikit pun menggambarkan bahwa aku sedang masuk ke sebuah kampung, melainkan lebih mirip masuk hutan.

“Pak mboten salah niki kampunge?” tanyaku pada tukang ojek yang membawaku masuk ke hutan jati.

Mboten dek, kulo sering teng alamat niki

Nggeh pak” jawabku, yang masih saja merasa ngeri dengan kondisi yang lebih cocok disebut sebagai hutan bukan kampung. Tapi karena takut menyinggung tukang ojek yang mengantarku. Aku memilih diam sambil merapal doa apa pun yang pernah diajarkan oleh guru mengaji di masjid dulu.

Mas niki tempate” sambil menunjuk sebuah bangunan yang di halamannya terdapat pendopo kayu yang penuh wibawa. “matur nuwun nggeh Pak”. Sambil memberikan sejumlah uang sebagai ongkos ojeknya.

Monggo mas” kata tukang ojek yang mengantarkanku tadi.

Belum sempat memberi jawaban untuk tukang ojek itu. tiba-tiba suara teriakan terdengar dari pendopo.

Mboten mampir kang Ri” seorang kakek menawarkan tukang ojek tadi untuk mampir.

Ngapunten Romo, niki badhe jawah. Lintu dinten mawon kulo tak mampir” kemudian tukang ojek itu kembali lenyap di balik pohon-pohon jati yang menjulang. Kebetulan karena musim hujan, pohon-pohon jati itu terlihat mulai merimbun karena daun-daunnya yang mulai bersemi. Kemudian aku melangkahkan kaki dan memberi hormat lalu menyalami tangan kakek yang tadi meneriaki tukang ojek yang mengantarkanku tadi.

Usai menyampaikan salam dan titipan buku temanku tadi. Baru kutahu, jika kakek  itulah yang disebut Romo Agung. Beliau adalah pengasuh di Rumah Kata-kata. Rumah Kata-kata ternyata tidak seperti yang kubayangkan saat membaca beberapa persaksian orang-orang yang pernah tinggal atau sekedar bertamu di sini. Ternyata benar-benar sepi suasananya. Dan yang tinggal di dalamnya tidak lebih dari dua puluh orang. Bahkan usai menyambutku dan berkenalan. Mereka pun langsung kembali ke sudut-sudut ruangan dengan meja kecil sekaligus tumpukan buku di depannya.

“Akhirnya Si Tama berhasil menyelesaikan bukunya”

“Memangnya Si Tama berapa lama tinggal di sini Romo?” tanyaku penuh selidik.

“Ia tidak lama. Setelah beberapa kali mengikuti refleksi kata-kata di rumah ini. Ia memilih langsung pulang.”

“Lalu buku ini?”

“Buku ini adalah hasil refleksinya. Sebelum pulang, ia telah memilih jalan untuk berbagi rasa lewat kata-kata yang ia rangkum dalam kisah perjalanannya. Dan kini ia berhasil.”

***

Usai mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke Rumah Kata-kata pada Romo Agung. Aku disambut seorang berambut panjang dengan kopiah hitam sedikit miring.

“Kebetulan sekali kamu datang hari ini” membuka pembicaraan.

“Memangnya kenapa mas?” tanyaku penasaran, dan penuh selidik.

“Nanti Romo Agung mau mengajak kita semua merefleksikan kata-kata yang pernah kita ucapkan, tulis, atau bahkan kata yang sebatas kita rangkai dalam angan saja.”

“kegiatannya seperti apa ya mas?” tanyaku sekali lagi dengan penuh rasa penasaran.

“Sudahlah!, nanti ikut saja. Intinya Romo Agung selalu mengajak kita semua yang tinggal di sini untuk menerjemahkan setiap kata yang kita ucapkan ataupun tulis. Sebab baginya, memahami proses awal hingga terbentuknya kata-kata pasti ada refleksi untuk memenuhi kebutuhan nurani agar tetap terjaga kesadarannya.”

Penuh selidik, kusisir seluruh ruangan dengan pandanganku, di mana kulihat hampir dari semuanya sedang melakukan proses kreatif merangkai kata beserta filosofinya. “Mungkin inilah alasan rumah ini disebut Rumah Kata-kata?” karena dari sudut-sudut ruangan di rumah itu, tercipta sebuah kata yang lahir dengan bebagai macam perenungan. Lalu menjadikannya sebuah jawaban untuk berbagai permasalahan yang sedang dihadapi.

Karya: A. Muhaimin D.S

Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *