ICMI dan Ideologi Islam Moderat

Posted on Posted in Alumni, Essai

Catatan hari lahir ICMI, 7 Desember

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

Almarhum Prof. Dr. Nurcholis Madjid atau yang akrab dipanggil Cak Nur, di tahun 1999 pernah melontarkan kritik terhadap ICMI. Dalam ceramah Ramadan di museum Bayt Alquran Taman Mini Indonesia Indah (TMII), cendekiawan asal Jombang itu mengingatkan agar ICMI kembali ke khittahnya sebagai organisasi cendekiawan Islam yang memperjuangkan pemikiran Islam moderat. Dalam pandangan Cak Nur saat itu, ada indikasi bahwa ICMI cenderung reaksioner.

 

Pernyataan Cak Nur itu kemudian ditanggapi oleh Adi Sasono yang saat itu sebagai Sekum ICMI. Sayangnya, sebagai Sekum ICMI, respon Adi Sasono terhadap statemen Cak Nur saat itu  cenderung  reaksioner sehingga justru semakin meneguhkan apa yang dikatakan Cak Nur tentang perkembangan ICMI tersebut. Intinya, sebagai pengurus ICMI, Adi Sasono menolak keras pandangan Cak Nur yang menyebut ICMI cenderung reaksioner. Dengan nada geram Adi mengatakan bahwa anggota ICMI sangat heterogen latar belakang dan pandangan politiknya. Karena itu, pendapat Cak Nur itu dinilainya terlalu memukul rata. Penyangkalan senada juga diungkapkan oleh tokoh ICMI lainnya, Dr. Dewi Fortuna Anwar.

Lontaran Cak Nur yang mendapatkan reaksi keras dari beberapa kolega seorganisasinya itu akhirnya memunculkan pertanyaan tentang komitemen idiologi yang diperjuangkan oleh ICMI secara institusional. Kritik yang dilontarkan oleh Cak Nur di atas bisa dikatakan sebagai kritik idiologis terhadap ICMI. Dalam kerangka kritik itulah, dasar ideologi ICMI secara implisit dipertanyakan kembali justru oleh tokohnya sendiri yang selama ini menjadi simbol bagi organisasi yang didirikan pada 7 Desember 1990 di Malang, Jawa Timur itu. Persoalan ini memang sangat penting, karena menyangkut hal yang sangat fundamental dan prinsipil. Organisasi apapun, termasuk ICMI, harus mempunyai landasan idiologi yang jelas. Karena idiologi merupakan dasar pijakan dan komitemen nilai yang menjadi basis perjuangan untuk mencapai tujuan besarnya (final goal).

 

Seluruh kebijakan, sepak terjang dan visi-misi organiasi ICMI sangat ditentukan oleh komitemen idiologinya. Dalam konteks inilah, alasan yang dilontarkan oleh Adi Sasono—ketika mereaksi kritiknya Cak Nur—-bahwa anggota ICMI itu sangat beragam, nampak tidak relevan. Cak Nur dalam kritiknya itu tidak bicara soal individu, melainkan soal organisasi. Jika bicara orgnisasi maka yang harus dilihat adalah ideologi, platform, program dan arah perjuangan organisasi secara umum, bukan individu-individu yang ada di dalamnya.

 

Sebuah organisasi jika mempunyai dasar ideologi jelas dan kuat, para anggotanya yang mempunyai keberagaman karakter dan pandangan politik akan tetap menunjukkan sikap yang relatif sama karena diikat oleh semangat ideologi yang sama. Ideologi adalah dasar sekaligus cita-cita yang membuat para anggota dari sebuah organisasi berada pada garis dan haluan yang sama, meski karakter dan latar belakang politik dari para anggota itu berbeda-beda.  

 

Islam moderat sekaligus Membebaskan

Saran Cak Nur untuk kembali kepada pemikiran Islam moderat yang ditujukan terhadap ICMI tersebut, pada hakekatnya perlu dicamkan bukan hanya oleh ICMI tetapi juga oleh semua organisasi Islam di tanah air. Mengapa demikian? Karena idiologi Islam moderatlah yang paling cocok, utamanya dalam kehidupan kebangsaan Indonesia saat ini. Dalam konteks Indonesia, idiologi Islam moderat itu bukan hanya sebuah keharusan melainkan sebuah tuntutan bagi organisasi-organisasi Islam Indonesia. Fakta membuktikan bahwa hal-hal yang berbau ekstrim, baik esktrim kanan maupun ekstrim kiri, umumnya sekarang ini tidak begitu laku di Indonesia.

 

Ketegangan antara Islam dan Negara dalam konteks keindonesiaan dari dulu hingga sekarang sesungguhnya lebih dipicu oleh ekstrimitas idiologis. Dalam arus ekstrimisme itu, Islam cenderung dijadikan sebagai jalan alternatif atau malah kekuatan penggusur terhadap nilai-nilai lokal-keindonesiaan dan bukannya sebagai aspek kompelementer terhadap nilai-nilai  yang sudah lebih dulu ada dalam kehidupan bangsa Indonesia.

 

Ekstrimisme kemudian menggiring Islam menjadi idiologi tandingan yang cenderung eksklusif dan tidak toleran. Padahal seharusnya umat Islam Indonesia bisa bersikap inklusif dan terbuka dengan kelompok-kelompok lain, sehingga Islam bisa menjadi kekuatan yang merekatkaan antar elemen masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan kehidupan kebangsaan yang diliputi semangat perdamaian, keharmonisan dan keadilan. Inilah salah satu nilai yang ditegaskan oleh almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) termasuk terhadap ICMI sejak awal berdirinya. Menurut Gus Dur (1995) akan sangat bagus jika kaum intelektual Islam mengambil sikap integratif, dengan memasukkan diri pada mainstream kehidupan bangsa yang memperjuangkan demokrasi serta tatanan yang lebih adil di kemudian hari.

 

Dari pandangannya yang seperti itu, apa yang diserukan Gus Dur secara implisit sesungguhnya bukan sekedar Islam moderat, melainkan Islam moderat yang membebaskan. Unsur “spirit pembebasan” karenanya harus menjadi bagian integral dari Islam moderat. Hal ini sebagai upaya untuk menegakkan kehidupan yang bukan saja damai, tetapi juga berkeadilan. Artinya selama ketimpangan sosial masih ada dan penindasan satu kelompok atas kelompok yang lain terus terjadi, maka tidak mungkin tercipta perdamaian.

Kehidupan yang damai bisa terwujud hanya keadilan terlebih dahulu ditegakkan. Misi Islam moderat dengan demikian adalah membebaskan manusia atau masyarakat dari berbagai keterkungkungan dan penindasan, baik yang sifatnya kultural maupun struktural, demi terciptaanya keadilan dan perdamaian. Islam moderat akan selamanya kurang dan pincang, jika semangat pembebasan tidak terakomodir di dalamnya.

 

Spirit moderasi dan liberasi Islam ini hendaknya menjadi nilai esensial yang menjadi komitemen perjuangan ICMI. Sebagai gerbong intelektual muslim di negeri yang plural dan multi kultural, ICMI tentu sangat paham tentang Islam yang cocok bagi kehidupan kebangsaan di Indonesia. Usaha kompromi antara keislaman dan keindonesiaan telah lama diperjuangkan oleh tokoh-tokoh intelektual muslim yang menjadi funding fathers negeri ini. Kalau ICMI mengklaim dirinya sebagai komunitas intelektual muslim Indonesia, maka pola-pola cerdas yang sudah dipelopori oleh para pendiri bangsa kita tersebut patut diteruskan dan dikembangkan.

 

Sebagai organisasi cendekiawan muslim, ICMI hendaknya menjadi garda depan dalam memperjuangkan Islam moderat yang membebaskan dengan senantiasa menjunjung tinggi keadilan, toleransi dan perdamaian. Ini sekaligus wujud dari tanggung jawab ICMI dalam menjaga keutuhan dan integralisme bangsa. Sebagai wadah intelektual Islam Indonesia, para eksponen ICMI bukan hanya bertanggung jawab atas masalah keislaman, tetapi juga masalah kebangsaan. Wujud tanggung jawab di kedua bidang ini, titik simpulnya ada pada sikap dan komitemen idiologi Islam yang moderat dan membebaskan.

 

Geliat terorisme

Kebutuhan terhadap idiologi Islam moderat sekarang semakin menuntut seiring dengan maraknya terorisme di level nasional dan global, khususnya di Indonesia. Jaringan terorisme global kini semakin meneguhkan eksistensinya di Indonesia. Terbukti, 17 Juli 2009 lalu aksi bom bunuh diri terjadi di Mega Kuningan Jakarta, menewaskan sembilan jiwa dan melukai puluhan orang. Lalu di tahun 2019 Indonesia juga digegerkan serangan bom bunuh diri di Gereja di Surabaya dan belakangan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Isu terorisme ini semakin menggeliat dan bertambah kompleks seiring hadirnya dinamika politik mutakhir di Timur Tengah seperti lahirnya ISIS— yang berdasarkan berita, pemimpin tertingginya, Abu Bakar al-Baghdadi telah tewas.

 

Secara ideologis, aksi terorisme itu merupakan cermin dari menguatnya arus ekstremisme yang dilatarbelakangi oleh pemikiran keagamaan yang cenderung menghalalkan pembunuhan secara keji. Ekstrimisme itu lahir lebih dikarenakan oleh kesalahan para teroris dalam menafsirkan agama. Sebagaimana kata Prof. Quraish Shihab dalam sebuah stasiun TV swasta bahwa terorisme atas nama Islam itu terjadi karena kesalahan tafsir saja. Mereka memaknai istilah jihad dalam Qur’an itu seenaknya saja. Tentu saja ini merupakan salah satu faktor dan masih ada banyak faktor lainnya yang menjadi pemicu lahirnya aksi terorisme.

 

Selain kesalahan tafsir, menguatnya arus ekstrimisme yang melahirkan terorisme di Indonesia itu juga ditopang oleh idiologi impor, yakni idiologi wahhabisme, yang akhir-akhir ini mulai merebak di Indonesia. Idiologi khas Arab Saudi ini terkenal keras dan tidak toleran dengan kelompok lain, termasuk kelompok sesama Islam. Jelasnya, wahhabi adalah gerakan idologi yang anti keragaman dan pluralitas. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Nur Khaliq Ridwan (Membedah Kekerasan Idiologi Wahhabi:2009) bahwa rangka berpikir wahhabi tidak memberi ruang hidup berbudaya di dalam keragaman sipil dan politik, bahkan wahhabi ortodok tidak menerima adanya pendirian partai politik dan pendirian-pendirian organisasi-organisasi Islam, karena semua itu dianggap menyalahi manhaj salafiyah dan praktik itu disebut sebagai hizbiyun.

 

Faktor lainnya seperti kemiskinan struktural, ketidakadilan sosial, penindasan dan perampasan hak secara sewenang-wenang juga menjadi penyebab bagi tumbuh suburnya ideologi ekstrimisme dan terorisme. Persoalan-persoalan ketidakadilan struktural ini membuat orang mudah terpapar idiologi terorisme. Di sinilah perlunya model keislaman yang moderat sekaligus membebaskan demi terciptanya sistem kehidupan sosial yang berkeadilan dan berkeadaban. Islam moderat dan membebaskan dengan demikian jelas keberpihakannya yakni berpihak kepada kaum tertindas, kaum mustadh’afin, kaum yang miskin dan dimiskinkan, barisan wong cilik.

 

ICMI—dan tentu saja organisasi-organisasi keislaman lainnya—yang para pengurus dan anggotanya terdiri dari kaum terdidik; kaum intelektual; bisa membangun semangat moderasi dan liberasi Islam sebagai bagian dari upaya melakukan deradikalisasi dan menutup setiap celah bagi tumbuh dan berkembangnya ideologi ekstrimisme dan terorisme. Lebih dari itu, juga dalam rangka memperjuangkan kehidupan masyarakat kecil dan tertindas, sebab kum intelektual dan terpelajar mempunyai tanggung jawab moral untuk berpihak kepada mereka yang lemah, tertindas dan tak berdaya, bukan malah menjadi hamba penguasa, pemodal bahkan ikut-ikutan sebagai penindas wong cilik.

 

Di ulang tahunnya yang ke 29 ini ICMI hendaknya bisa semakin aktif dalam memerangi gerakan terorisme dan menegakkan keadilan di Indonesia. Dan ini akan berhasil apabila idiologi Islam moderat dan membebaskan tertanam kuat di dalam tubuh ICMI.

 

*Muhammad Muhibbuddin adalah penulis lepas, tinggal di Krapyak, Yogyakarta.

 

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *