Wahib dan Spirit Kebebasan Berpikir*

Posted on Posted in Esai, Uncategorized

 (Catatan untuk Hari Lahir Ahmad Wahib, 9 November)

Oleh : Muhammad Muhibbuddin**

 

“…Tuhan murkakah Engkau bila aku berbicara dengan-MU dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan kepadaku dengan kemampuan-kemampuan bebasnya sekali? Tuhan murkakah Kau, bila otak dengan kemampuan-kemampuan mengenalnya yang Engkau berikan itu, menggunakan sepenuh-penuhnya kemampuan itu?”  (Wahib, 2003:31)

 

Itulah percikan perenungan Ahmad Wahib pada 1969 yang terrekam dalam catatan hariannya. Wahib menuliskannya itu dengan penuh rintihan, ratapan, pengharapan tetapi sekaligus dengan nada gugatan bahkan pemberontakan. Apa kira-kira yang dibela Wahib? Apa yang diperjuangkan dan diharapkan Wahib? Apa yang dibrontak Wahib dalam “curhat”nya kepada Tuhan tersebut? Pada prinsipnya satu: kebebasan berpikir.

Wahib adalah sosok pemuda yang senantiasa gelisah, terutama menyangkut tradisi kebebasan berpikir bagi persoalan-persoalan keagamaan (keislaman). Wahib melihat munculnya arus besar di kalangan umat Islam yang takut menggunakan nalarnya dalam memahami ajaran-ajaran agama, termasuk memahami konsep Tuhan.

Agama (baca:Islam) oleh para pemeluknya lebih diposisikan sebagai serangkaian doktrin atau dogma mati yang ‘haram’dipersoalkan dan/ atau apalagi digugat. Agama cukup dipandang sebagai sesuatu yang serta merta turun dari langit tanpa proses refleksi, pergumulan dan dialektika dalam ruang sejarah. Akhirnya pola kehidupan keberagamaan umat Islam menjadi dogmatis dan tidak dilandasi oleh nalar kritis. Umat Islam cukup meyakini begitu saja (taken for granted) apa yang disebut dengan ajaran agama tanpa bersedia melakukan reinterpretasi, koreksi, kritik atau bahkan mungkin seperti kata Nietzsche tranvaluasi nilai-nilai agama tersebut.

Alih-alih mengkritisi dan mengkoreksi, orientasi besar umat Islam justru cenderung mempakemkan, mematrikan dan mengabsolutkan ajaran-ajaran itu. Konsekuensinya, nalar yang menjadi ruh dalam mencerap nilai-nilai agama menjadi mati dan tersingkirkan. Fenomena inilah yang diberontak Wahib. Bagaimana mungkin seseorang bisa beragama tanpa melalui proses berpikir? Bukankah Islam sendiri yang bilang: agama adalah akal dan tidak ada agama bagi mereka yang tak berakal?

Semangat gerakan pemberontakan Wahib dalam upaya membela kebebasan berpikir-kritis tersebut tidak bisa dilepaskan dari latar kulturalnya. Ia dilahirkan di Sampang, Madura, pada 09 November 1942. Ia tumbuh dan besar di lingkungan yang sangat kental tradisi keagamaan. Ayahnya sendiri seorang pendiri pesantren dan dikenal luas di masyarakatnya.[1] Namun, meskipun hidup di lingkungan muslim tradisional yang sangat mengagungkan tradisi keislaman, ayah Wahib adalah seorang tokoh berpandangan luas yang telah membaca dan memahami pemikiran tokoh pembaharu Islam asal Mesir, Muhammad Abduh.

Madura sebagai lumbung masyarakat Islam tradisional, tentu kaya dengan praktik-praktik tradisi keislaman. Praktik keislaman Islam tradisional yang tumbuh dan berkembang di Pulau Garam inilah yang digugat oleh ayah Wahib. Salah satu tradisi yang diperkarakan ayahnya Wahib adalah tentang kepercayaan masyarakat Madura akan hari baik dan hari buruk. Dengan pola pemikirannya yang demikian itu, ayah Wahib berani menyebrang dan melampaui batas-batas tradisi yang sudah dipakemkan masyarakat sekitarnya dari generasi ke generasi.

Begitu juga dalam hal pendidikan, ayah Wahib memilih untuk melawan arus. Tidak sebagaimana masyarakat Madura umumnya yang mengirimkan anaknya untuk belajar di pesantren-pesantren salaf, ayah Wahib lebih suka mengirimkan anak-anaknya untuk belajar di sekolah “sekuler” yang dikelola oleh pemerintah.

Wahib sendiri dikirim oleh ayahnya untuk belajar di SMA Pamekasan dan memilih jurusan ilmu pasti. Setamat dari SMA, Wahib kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya di UGM jurusan Fisika, fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA). Namun pendidikan Wahib di UGM ini putus di tengah jalan sehingga dirinya gagal menggondol gelar sarjana.

Semasa menjadi mahasiswa, Wahib juga aktif di organisasi HMI dan ia juga tercatat sebagai senior di tubuh organisasi yang didirikan oleh Lefrend Pane tersebut. Di HMI inilah   intelektual Wahib mulai bersinar. Melalui training-training HMI, ia giat mengasah pemikirannya dengan teman-teman seorganisasinya. Namun setelah lama bergeliat di HMI, pada 30 September 1969 Wahib bersama teman akrabnya, Djohan Effendi, menyatakan keluar dari organisasi tersebut.

Selain itu, Wahib juga tercatat sebagai salah satu penggagas berdirinya forum diskusi  Limited Gorup yang diasuh oleh rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kala itu, Prof. Dr. Mukti Ali. Forum diskusi itu sengaja didesain sebagai arena “pertarungan intelektual”, adu argumen dan perbincangan intensif seputar persoalan-persoalan keagamaan yang mendasar, yang biasanya tidak boleh bahkan tabu dibicarakan oleh masyarakat umum. Orang-orang yang terlibat dalam forum tersebut adalah pemikir-pemikir muda yang cemerlang. Selain Wahib juga ada Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, Saifullah Mahyudin, Syu’ba Asa, Rendra dan yang lainnya. Melalui pergulatannya di Limited Group, Wahib semakin berani meliberalkan pemikiran-pemikirannya hingga mendobrak bentuk-bentuk wacana keagamaan yang sudah terpatri menjadi bangunan dogma yang ‘haram’ dipertanyakan.

Namun, sejarah akhirnya memaksa Wahib untuk meninggalkan Yogya. Pada 1971, ia pindah ke Jakarta. Di ibu kota ini, ia bekerja menjadi reporter Majalah Tempo dan kuliah di STF Driyarkara. Semangat Wahib untuk mendiskusikan tema-tema agama dan sosial tetap hidup. Di Jakarta, ia masih terus melakukan pertemuan-pertemuan dengan para sahabatnya, terutama para eks-HMI, untuk berdiskusi tentang persoalan-persoalan sosial dan keagamaan. Ia bahkan sempat mempunyai rencana untuk membentuk forum diskusi mengenai soal teologi, politik dan budaya, dengan topik-topik kajian yang sudah disusun secara sistematis.[2]

Namun sayang rencana itu tidak sampai. Karena Tuhan yang kerab dia ajak sebagai sahabat berbicara dan bercengkrama telah keburu memanggilnya.  Pada 31 Maret 1973, saat tengah malam, di persimpangan jalan Senen Raya-Kalileo, Jakarta, Wahib yang saat itu baru keluar dari kantor Majalah Tempo tertabrak motor yang melaju kencang. Akibat peristiwa naas ini, nyawa Wahib tidak tertolong. Dia mati muda, dalam usia 31 tahun.

 

 

Seruan berpikir bebas

Wahib adalah sosok anak muda yang tak pernah lelah untuk bertanya dan mencari tahu. Refleksinya soal agama (Islam) begitu mendalam dan menukik tajam pada persoalan-persoalan yang pantang dan tabu untuk diperbincangkan apalagi dipersoalkan. Wahib merasa tidak puas dengan prinsip tentang Islam sebagai agama yang sudah baku dan perfect. Ia terus berusaha menerabas dan melampaui batas-batas “kesempurnaan’ dan ‘kemutlakan’ yang sudah terpatenkan dalam sejumlah doktrin dan dogma agama. Beragama bagi Wahib adalah pergumulan yang terus menerus; sebuah pencarian akan kebenaran yang tiada henti. Karena itu tiada kata final bagi Wahib untuk merefleksikan agama selama hayat masih di kandung badan.

Secara das sollen,  kata Wahib, Islam itu universal dan abadi, namun secara das sein, Islam kata Wahib sangat berubah-ubah, yang menunjukkan bahwa Islam belum sempurna.[3] Perhatian Wahib lebih banyak tertuju pada Islam dalam ruang historis yang senantiasa tumbuh, berkembang dan bersinggungan secara dialektis dengan persoalan-persoalan lain di muka bumi, bukan pada Islam dalam kerangka idealistik yang sudah serba baku, statis dan paripurna.

Wahib terlihat sangat ambisius dalam proses pencariannya, sehingga Mukti Ali menyebutnya sebagai anak muda yang bergulat dalam pencarian.[4] Wahib senantiasa mencari dan mencari ‘cahaya kebenaran’ itu melalui pengerahan seluruh potensi intelektualnya dengan harapan dan kehendak bisa merengkuhnya. Ia tidak puas dan tidak serta merta menerima begitu saja kebenaran yang dikabarkan oleh para tokoh-tokoh agama; ia ingin mengalaminya sendiri. Karena itu, pencarian Wahib ini mencerminkan fenomena eksistensialisme relijiusitas. Hal ini tercermin dari tulisannya yang ada di catatan hariannya,

 

“Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain. Terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yakni Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung dari studi al-Qur’an dan Sunnah? Akan kucoba. Tetapi orang-ornag lain pun beranggapan bahwa yang kudapat itu adalah Islam menurut Aku sendiri. tapi, biar yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah Islam menurut Allah. Aku harus yakin itu, (Wahib,2003:27)

 

Dari uraian kata-katanya itu terlihat jelas refleksi kritis Wahib bahwa Islam yang selama ini kita terima pada prinsipnya adalah Islam yang sebatas perspektif. Apa yang kita terima sebaga kebenaran adalah hasil dari perenungan dari orang lain. Dan kita? Kita sendiri belum turut serta merenungkan dengan nalar kita sendiri, dengan akal kita sendiri untuk mencapai kebenaran itu. Maka Wahib mencoba menerobos model dan pola keberagamaan seperti ini. Ia tidak mau tunduk dengan bentuk-bentuk pemikiran yang telah dipikirkan oleh orang-orang disekelilingnya tanpa bersedia mencarinya sendiri.

Karena memang dalam kehidupan, termasuk kehidupan beragama, manusia tidak akan eksis kalau ia hanya menganut dan berada di bawah bayang-bayang pemikiran orang lain. Ini seperti yang dikatakan oleh Kierkegard, filsof eksistensialis dari Norwegia, bahwa “saya menjadi sebagaimana yang saya percayai”.[5] Artinya, orang seperti Wahib maupun Kierkegard berpandangan bahwa eksistensi seseorang dalam beragama bisa tegak ketika dia berani memilih untuk berpikir dan mencari sendiri ihwal kebenaran agama itu. Tanpa keberanian untuk memilih dan mencari secara mandiri, atau masih berada dalam pengaruh pemikiran orang lain, maka orang seperti itu tidak eksis; keberagamaan yang tidak ditegakkan di atas pilihan dan pencarian sendiri adalah tipe keberagamaan yang tidak otentik. Otentisitas dalam laku beragama merupakan cita-cita eksistensialisme Wahib.

Apa kemudian sarana yang digunakan oleh Wahib untuk mencari kebenaran itu? Tidak lain adalah akal. Manusia, bisa menemukan kebenaran agamanya, bagi Wahib selama dia mampu dan berani menggunakan akalnya secara maksimal untuk membaca ulang, mereinterpretasi, merekonstruksi bahkan mendekonstruksi ajaran-ajaran agama yang sudah mapan, terutama ajaran-ajaran agama yang sudah mengkristal menjadi dogma. Wahib benar-benar merasa bahwa ada yang janggal dan kontradiktif ketika dia melihat pola keberagamaan orang Islam secara umum. Umat Islam, dalam garis besarnya justru menafikan potensi akal yang menurut Wahib harus dimaksimalkan untuk mencapai kebenaran. Karena itu, dalam rangka melawan arus pola keberagamaan yang asal percaya; melawan pola keberagamaan yang tidak otentik, Wahib semakin meliarkan pikirannya hingga menyentuh ranah yang paling ultim.

Dia bahkan mempertanyakan pembatasan akal manusia untuk menemukan Tuhan. “Mengapa akal harus dibatasi, apakah Tuhan sendiri takut dengan akal yang merupakan ciptaannya sendiri? begitulah pertanyaan Wahib. Memang sebuah paradoks ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang berusaha membatasi pikirannya. Siapa yang bisa membatasi pikiran?. Pikiran itu sendiri tak ubahnya dengan alam semesta. Ia sulit ditentukan batas-batasnya secara pasti. Batas akal atau pikiran adalah kemampuan berpikir itu sendiri. Sejauh mana sesorang berpikir, di situlah batas pikirannya. Karena itu, pikiran atau imajinasi tidak mungkin bisa dibatasi geraknya melalui ukuran-ukuran umum dan mutlak.

Dengan keyakinannya pada kebebasan berpikir itu, Wahib sebagaimana para pemikir liberal Islam lainnya, secara eksplisit menegaskan bahwa Islam bukanlah agama yang mengharamkan umatnya untuk berpikir; berpikir secara bebas, bahkan sebebas-bebasnya, bukanlah larangan dalam Islam, karena akal yang diciptakan oleh Allah memang harus digunakan secara maksimal untuk berpikir dan memahami ayat-ayat-Nya. Meminjam bahasa Ibn Rusyd, filsafat (akal) secara esensial tidaklah bertentangan dengan syariat (agama/wahyu), begitu pula sebaliknya.[6] Sesuatu yang dibuktikan berdasarkaan argumen demonstratif rasionl, kata Ibn Hazm dalam mengelaborasi metode berpikirnya Ibn Rusyd, maka baik di dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi pasti telah di-nash-kan.[7]

Artinya, akal di dalam Islam sesungguhnya sangat dijunjung tinggi. Kita tidak akan mampu memahami dan menangkap pesan wahyu Tuhan baik yang Qouliyah mupun Kauniyah tanpa bantuan akal. Karena itu, sungguh problematis dan kontradiktif, jika ada sebagian umat Islam memposisikan akal dan wahyu secara hirarkhis. Karena kedua sumber kebenaran itu dalam praktiknya saling membutuhkan. Wahyu tak akan bisa bicara jika tidak disentuh dan direspon oleh akal.

Karenanya, jika wahyu Tuhan tidak terbatas, akal sebagai sarana memahami wahyu pun juga tak terbatas. Sebab, sekali akal terbatas, maka saat itu pula, wahyu menjadi barang yang tak tersentuh oleh pemhaman sehingga menjadi realitas yang mati. Membatasi pikiran dalam menafsirkan ajaran-ajaran keagamaan, dengan demikian, hanya akan membunuh agama itu sendiri. Agama tidak mungkin diaktualisasikan secara maksimal atau menjadi kekuatan yang minimal bisa mengantarkan pemeluknya pada realitas kebenaran tertinggi manakala perangkat intelektual untuk memahaminya, yakni akal itu sendiri, dibatasi.

Selain itu, pemahaman agama juga harus peka dengan situasi dan kondisi sosial yang ada. Maka Asghar Ali Enginer mengatakan, Islam merupakan sebuah agama yang tujuan dasarnya persaudaraan universal, kesetaraan dan keadilan sosial.[8] Secara implisit ini menegaskan bahwa Islam harus kritis dan peka dengan kondisi sosial yang terjadi. Untuk bisa kritis dan peka terhadap realitas sosial, tentunya dibutuhkan kebebasan berpikir. Tidak mungkin budaya berpikir kritis bisa tegak kalau kebebasan berpikir dibatasi.

Karena itu menurut Wahib, kebebasan berpikir bukan saja sesuatu yang absah dan memiliki referensi teologisnya; lebih dari itu merupakan kewajiban bagi umat Islam.[9] Jika kita yakin bahwa Tuhan adalah Realitas atau Wujud yang Mahasegala-galanya, tentu Ia tidak akan “runtuh” oleh ciptaan-Nya sendiri termasuk oleh akal pikiran yang digunakan secara bebas. Dalam konteks inilah tidak ada gunanya dan tidak ada relevansinya mengkriminalkan pemikiran bebas dengn dalih untuk membela Tuhan, sebab, sebagai wujud yang sesungguhnya, Tuhan sendiri tidak akan terpengaruh oleh seluruh makhluknya, termasuk oleh akal manusia. Jangankan cuma liberalisme dalam pemikiran, andaikan seluruh makhluk di dunia ini ateis pun tidak akan mampu mempengaruhi atau apalagi menurunkan derajat Tuhan.

 

Ragukan Dulu Kebenaranmu!

Selanjutnya, bagaimana Wahib mempraktikkan semangat kebebasannya itu? Dalam hal keagamaan Wahib yang lebih diilhami oleh semangat berpikir bebas, lebih mendahulukan sikap ragu (skeptis) terhadap bentuk-bentuk nilai yang sudah dikonstruksi. Wahib lebih memilih jalan ragu dulu terhadap tatanan dan sistem nilai Islam daripada cepat-cepat mereguknya sebagai sebuah kebenaran. Sikap skeptis ini merupakan bagian dari sikap kritisnya. Keraguan Wahib bukanlah sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk menemukan keyakinan atas kebenaran hakiki.  Wahib menjadikan sikap skeptis sebagai sarana mengeksplorasi kebenaran hakiki yang dibayangkannya. Hal ini tercermin dari tulisannya, pada 9 Juni 1969:

 

“Tuhan, bisakah aku menerima hukummu tanpa meragukannya terlebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumlah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukummu. Jika kau tak suka hal itu, berilah aku pengertan-pengertian sehingga keraguan itu hilang dan cepat-cepatlah aku dibawa dari tahap keragu-raguan kepada tahap penerimaan,” (Wahib, 2003:30).

 

Dari catatan tersebut, betapa Wahib tidak mudah untuk menerima konstruksi nilai yang sudah kadung ada. Ia tidak puas dengan apa yang oleh orang lain katakan atau fatwakan sebagai kebenaran Tuhan. Kebenaran itu sendiri, sebelum dipercayai sebagai sebuah kebenaran, maka terlebih dahulu harus diuji dan difalsifikasi dahulu dalam ruang skeptisisme. Kebenaran bisa dikatakan sebagai kebenaran, jika dan hanya jika ia terbuka untuk bisa diragukan. Untuk meragukannya jelas dibutuhkan sebuah keberanian berpikir bebas dan tidak cukup mempercayai begitu saja (taken for granted) norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada sebagai sebuah kebenaran.

Dengan demikian, Wahib merupakan sosok yang dalam hidupnya tidak lelah meyakinkan pentingnya kebebasan berpikir dalam mencerap dan menginterpretasikan berbagai fakta dan nilai yang menjadi dasar hidup manusia, termasuk nilai-nilai agama. Kebenaran apapun dalam ruang sejarah adalah kebenaran yang terkonstruks dalam ruang dan waktu (spacio-temporal), kebenaran yang spacio-temporal sifatnya tentu saja relatif. Maka, diperlukan kebebasan berpikir untuk mereinterpretasi, merekonstruksi dan bahkan mendekonstruksinya. Tradisi berpikir bebas inilah yang menjadi semangat Wahib sepanjang hidupnya.

Dari penjelasan tentang semangat kebebasan berpikir yang diusung oleh Wahib tersebut, kita bisa menarik sebuah tesis sebagai penutup dari tulisan ini: “Agama bisa hidup jika dijaga oleh akal yang menyala dan menggeliat-geliat, bukan oleh dogma yang menjadikan akal tak berdaya dan sekarat”.

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

 

al-Jabiri, Muhammad Abed, “Nalar Filsafat dan Nalar Kalam: Sebuah Upaya membentengi Pengetahuan      dan Kebebasan Berkehendak”,  dalam Ibnu Rusyd, Kritik Nalar Agama,  (Penj.), Aksin Wijaya,             Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2016

Ali, Mukti, “Ahmad Wahib:Anak Muda yang bergulat dalam Pencarian” (Kata Pengantar) dalam Ahmad .    Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam, Cet.ke-VI, Jakarta: LP3ES, 2003

Engineer, Asghar Ali, Islam dan Teologi pembebasan, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1999

Munawar Rahman, Budhy, “Pergulatan Mencari Islam; Refleksi Kritis AhmadWahib dalam          terang Soren Kierkegard”, dalam Islam Pluralis, 228-240

Johns, A.H.,   Sistem atau Nilai-Nilai Islam? Dari Balik  Catatan Harian Ahmad Wahib, dalam     Pembaharuan Tanpa Apologia, Esai-Esai Tentang Ahmad Wahib, Jakarta: Yayasan          Paramadian dan HIVOS, 2010

Rusyd, Ibnu, Kritik Nalar Agama,  (Penj.), Aksin Wijaya, Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2016.

Wahib, Ahmad, Pergolakan Pemikiran Islam, Cet.ke-VI, Jakarta: LP3ES, 2003..

*Makalah ini telah dipresentasikan dalam forum diskusi rutin malam Sabtu oleh  ZAT COMMUNITY di PP.Mahasiswa Hasyim Asy’ari, Cabeyan, Bantul, Yogyakarta, (15/7/2011)

 

**Muhammad Muhibbuddin adalah penulis lepas, tinggal di Krapyak, Yogyakarta.

 

[1] A.H.Johns, Sistem atau Nilai-Nilai Islam? Dari Balik  Catatan Harian Ahmad Wahib, dalam Pembaharuan Tanpa Apologia, Esai-Esai Tentang Ahmad Wahib, (Jakarta:Yayasan Paramadian dan HIVOS, 2010), hlm.216

[2]Ibid, hlm.222

[3] Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam, Cet.ke-VI, (Jakarta: LP3ES, 2003), hlm.19.

[4] Mukti Ali, “Ahmad Wahib:Anak Muda yang bergulat dalam Pencarian” (Kata Pengantar) dalam Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam, Cet.ke-VI, (Jakarta: LP3ES, 2003), hlm.vii

[5] Seperti yang dikutip oleh Budhy-Munawar Rahman, “Pergulatan Mencari Islam; Refleksi Kritis Ahmad Wahib dalam teang Soren Kierkegard”, dalam  Islam Pluralis,228-240

[6]Bagi Ibn Rusyd, orang atau golongan yang meyakini filsafat dan syariat bertentangan, menandakan orang atau golongan tersebut tidak berpegang pada esensi keduanya secara hakiki, yaitu esensi syariat dan filsafat. Di samping itu, lanjut Ibn Rusyd, pendapat yang meyakini bahwa syariat bertentangan dengn filsafat adalah pendapat yang terkadang yang membuat bid’ah dalam syariat yang tidak bersumber pada prinsip-prinsipnya, dalam arti melakukan interpretasi yang salah terhadap filsafat, seperti halnya pendapat soal pengetahuan Tuhan tentng hal-hal yang partikular dan yang lainnya. Lihat, Ibnu Rusyd, Kritik Nalar Agama,  (Penj.), Aksin Wijaya, (Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2016),hlm.206-207

[7] Muhammad Abed al-Jabiri, “Nalar Filsafat dan Nalar Kalam: Sebuah Upaya membentengi Pengetahuan dan Kebebasan Berkehendak”,  dalam Ibnu Rusyd, Kritik Nalar Agama,  (Penj.), Aksin Wijaya, (Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2016), hlm.49

[8]  Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi pembebasan, (Yogykarta:Pustaka Pelajar,1999),.hlm.20

[9] Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam,…….hlm.23

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *