600 Detik

Posted on Posted in Aktif, Cerpen, Karya, Santri

Oleh: Yoga Ardli A.

 

Pagi itu adalah pagi yang biasa, tidak berbeda dengan pagi lainnya. Matahari masih terbit dari timur, angin materialisme masih bertiup di penjuru dunia modern. anak-anak masih berlarian menuju sekolah, sebagian tertidur kelelahan dengan baju lusuh dan longgar dengan celana yang sobek di bagian lutut. Orang-orang masih berhamburan pergi menuju tempat-tempat kerja, pemerintah masih sibuk memikirkan cara untuk menipu rakyatnya, Dan semua aktifitas masih dilakukan dengan tujuan yang sama, uang.

 

Tak bisa dipungkiri, kehidupan semacam inilah yang sedang dijalani manusia-manusia modern. Lengkap dengan unsur-unsur seperti tipu daya, fitnah, dan pengkhianatan. Semua orang pasti akan mengalami ketiga hal itu. Kehidupan gelap tanpa tujuan yang jelas selain memupuk harta.

 

Namun suasana pagi dunia modern yang gelap ini terasa berbeda di belahan bumi lain. Di mana rasa panas globalisasi tidak berasa.  Ya benar, orang-orang bisa mati karena kedinginan disini. Hebat kan? Kau pasti tidak tau kalau masih ada bagian bumi yang dingin, meskipun tempat ini sudah tercemar dengan sampah. Di sini angin materialisme bertiup dengan lebih kencang, bahkan disertai kemegahan dan kemewahan yang menyesakkan dada ketika dihirup.

 

“Hey bangun”. Sebuah suara menggema dari sebuah celah sempit. Terdapat lubang kecil dari muasal suara itu, jika diintip dari dalam akan mengarah pada sebuah padang salju dengan sebuah celah jurang yang lebih dalam.

 

“Arrghh.. D-di mana ini? “. Sebuah suara menanggapi suara pertama dengan suara serak seperti paku yang digoreskan ke kaca. Refleks suaranya lebih dulu daripada indra penglihatannya, sehingga ketika membuka mata, ia mendapati dirinya sangat terkejut.

 

“ Bodoh, jangan bergerak Rei ”. Suara pertama melarang Rei yang mencoba berfokus pada lubang yang berada di atas mereka. Jauh di atas, mereka seperti tenggelam dalam air beku.

 

“ Arghh. Badanku sakit sekali ”. Rei mengerang.

 

“ Jangan bergerak”. Bentak suara pertama. “ Atau kau akan mati “.

 

“ Kenap- . Belum selesai kata itu dikeluarkan, Rei dengan ujung matanya melihat sebuah benda berwarna coklat pucat dengan ujung tajamnya menembus jaket tebal berwarna kuning yang dia kenakan, tentu saja menembus tubuhnya juga, tidak mengenai bagian vitalnya namun cukup untuk menyiksa. Ujung coklatnya kini bersemu darah dengan sepuhan warna putih salju pucat.

 

 

“ Kita terjatuh dari tangga ketika menyeberang “. Jawab suara pertama.

 

Rei mengerjap dengan cepat, darahnya yang tinggal sedikit ia paksakan bergerak menuju otak untuk membantunya berpikir jernih. Dia kemudian mengingat semua kejadian, terlebih mengenai perjalanan wisata mereka.

 

Mereka dan koleganya mendapat kesampatan berwisata menuju sebuah daerah yang dikenal dengan sebutan puncak dunia. Ribuan orang berbondong-bondong kesana untuk mendapatkan kemegahan dan kemewahan menaklukan puncaknya. Tidak mengherankan untuk perusahaan terkenal memberi mereka libur wisata mewah. Namun kini, mereka terjebak disebuah tempat yang bernama Khumbu Icefall, tepatnya di sebuah celah selebar 3 tangga lipat.

 

“Astaga. Apa yang sebenarnya terjadi”. Tangannya bergerak lemah menyentuh batu tajam itu. “ Rowan, apa yang terjadi pada kita ? ”.

 

“Ingat sendiri pecundang, aku malas menceritakannya. Astaga disini dingin sekali”

 

Di atas mereka angin menderu-deru, menyayat kulit dengan teror Frostbite yang bahkan mampu membuat Suku Sherpa menangis di balik ketiak ibu mereka. Teror-teror itu bergerak dengan sangat cepat, menghajar dan mencabik jaket tebal para pencari kemegahan.

 

“Masih ada 10 menit, tenang ”. Rowan melihat Rei dengan tatapan sendu. “ Gunakan untuk hal yang lebih berharga “.

 

“Apa yang kau maksud dengan 10 menit ? ahh, baiklah “.

 

Rei mencoba mengangkat punggungnya demi mendapatkan penglihatan lebih baik dari keadaannya yang menyedihkan, namun meringis kesakitan ketika bagian dalam tubuhnya bergesek dengan bagian kasar batu yang menembus tubuhnya, Kaki kirinya pun sudah tidak bisa ia rasakan lagi, serta jari-jari terasa direbus dalam air panas. Sementara itu di atas mereka, cahaya matahari bersinar dengan guratan sedih, sinarnya tidak mampu menggapai tempat mereka. Namun angin dengan semangatnya masih menemani mereka. Bersemangat untuk mengantarkan mereka pada ajalnya.

 

“Hey Rowan, apakah aku sudah menjalani hidup dengan baik ?”. Tanya Rei dengan suara parau, namun dia serius kali ini.

 

“Ya, kurasa. Untuk ukuran sampah, hidupmu cukup luar biasa”. Rowan sinis dengan perkataannya. “ Tapi aku juga tidak berhak menjustifikasi tindakanmu hahaha. Kau selalu mengikuti mimpi dan bergerak dengan logis. Ketika orang-orang disekitarmu mengeluh, kau terus maju. Meskipun itu artinya mengorbankan orang lain ”.

 

“Kau benar, kita memang sampah”. Jawab Rei dengan senyum kecut.

 

“Terserah Rei, katakan permintaan terakhirmu, katakan semua hal yang ingin kau katakan, katakan semua hal yang ingin kau sampaikan para orang-orang “.

 

“Apa kau pikir Tuhan akan mengampuni kita Rowan?”.

 

“Bahahah. Kau serius percaya dengan Tuhan? Tak kusangka kau sangat menyedihkan seperti ini.” Rowan menatap dengan tajam.

 

“Maksudku, ayolah Rei.  Kau tak mungkin percaya pada hal-hal bodoh dan tak berguna seperti itu kan ?  Tuhan jelas-jelas temuan terbesar manusia, dipakai untuk mengebiri pengetahuan orang-orang bodoh. Tapi eksistensinya? Aku yakin hanyalah omong kosong.“

 

“Berhenti menceramahiku tentang Tuhan”. Suara Rei ketus. “ Terserah kau saja Rowan, tapi aku sangat ingin meminta maaf dan pertolongan pada Tuhan saat ini”.

 

Hembusan angin semakin kuat. Diatas sana, arak-arakan awan dan kabut berbondong-bondong. Seperti domba-domba gemuk yang mengikuti penggembala astral. Puluhan orang masih berjalan kokoh diatas awan-awan itu demi mencari kemegahan atap dunia, seolah tak peduli dengan alam yang beraliansi menghajar mereka.

 

“Aku rindu dengan orangtuaku “. Suara Rei lirih, kemudian menghembuskan nafas berat. “ Apa yang sedang mereka lakukan saat ini”.

 

“Meskipun kau yang memutus hubungan dengan mereka? Meskipun kau yang menolak permintaan mereka karena egomu yang terlalu berat? Meskipun mereka sudah meminta dan memohon namun tetap kau abaikan ? “.

 

“Aku rindu dengan adikku “.

 

“Meskipun kau yang melarang dia untuk dekat denganmu selama 10 tahun terakhir ini? Meskipun kau yang merobek surat yang dia tulis bahkan tanpa membacanya. Meskipun kau sendiri yang membentaknya dan mengatakan kalau kau tak mengakuinya sebagai adikmu karena rasa iri ?”.

 

“Aku rindu dengan teman-temanku “.

 

“Meskipun mereka menyiksamu ? meskipun semua hal-hal berharga darimu diambil, direbut, dan dilecehkan ? meskipun kekasihmu pergi, menyelingkuhimu dan merampas hartamu dengan licik ? “.

 

“Kenapa hal ini terjadi padaku “. Rei menutup matanya.

 

“Biar kukatakan padamu Rei, sebenarnya semua kekacauan ini berawal ketika kau mencoba berubah dan mengikuti idealisme teman-temanmu “. Rowan menatap tajam ke mata Rei, seakan tatapan itu menghujam tubuhnya. “Kehidupan sehari-hari yang monoton, bukanlah hal yang membosankan dan memalukan. Itu salah satu hal yang luar biasa yang diberikan Tuhan jika ia memang ada“.

 

“Bayangkan kau hidup dalam keadaan aman tanpa masalah yang berarti”. Lanjutnya. “ Dan bandingkan dengan dirimu sekarang, lihatlah wajah bodohmu sekarang ! LIHATLAH !. KAU HIDUP DALAM PENYESALAN BANGSAT !!. Kau bahkan tidak tau apa yang kau cari, kau membuang apa yang sudah kau miliki. Dan kau masih berani bersikap religius ? menjijikkan “.

 

Rei menutup matanya dengan lengan tangan. Perlahan dia mulai mengisak. “ Apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupanku ini hah “. Air mata meleleh dari kedua matanya. “ Orang-orang membenciku ketika aku menjalankan hari-hari biasa, ya kau benar Rowan. Mereka bahkan tidak mengerti apa yang aku lalui, tapi berani memberi komentar seolah paling tau “.

 

“Ketika aku mencoba berubah menjadi seperti mereka, aku malah kehilangan diriku sendiri. Bahkan aku membenci diriku sendiri demi semua yang kudapat selama ini”. Rowan menatapnya dengan iba. “ Katakan padaku Rowan, apa yang harus aku lakukan seharusnya hah, APA ? “.

 

“Jika kau tidak mengerti jawabannya, apalagi aku yang hanya sekedar alat ini “. Jawab Rowan. “ Paling tidak, kau berhasil menyelamatkan orang-orang sebelum kau jatuh dari sini “.

 

“Ya, terimakasih sudah mendorongku hingga jatuh ke jurang, paling tidak aku berhasil menjadi contoh agar rombongan kita tidak melalui celah ini “.

 

“Hey Rei, jika kau terlahir kembali. Apa yang kau ingin lakukan ? “.

 

“Tidak ada. Aku tidak ingin terlahir kembali untuk hidup dalam dunia yang menyedihkan ini”. Jawab Rei padat. “ Hidup di dunia gelap yang dipenuhi dengan tipu daya, aku lelah hidup dalam dunia ini “.

 

“Sudah kuduga ”. Rowan tersenyum. “ Bagaimana ? sekarang ? “.

 

“Ya, aku sudah sangat lelah, lakukan sekarang “.

 

“Baiklah “.

 

Badai terbentuk tepat di atas puncak tertinggi dunia. Disertai dengan angin-angin dan hawa dingin pembawa teror. Menghempaskan puluhan orang yang mencoba menjajaki track terakhir. Puluhan pendaki lain dengan masker oksigen yang keren dan jaket warna-warni bersembunyi di celah-celah kecil yang tidak terlalu dalam.

 

Badai terhenti lima belas menit kemudian. Puluhan pendaki sudah hampir mencapai puncak dan menambah kecepatan mereka. Tidak ada lagi kabut tebal yang menghalangi, seolah badai membawa sampah pemandangan yang mengganggu. Mereka sampai di puncak dengan wajah gembira. Mereka berhasil mendapatkan cerita ! dan kemegahan !. Puluhan orang itu tertawa-tawa dengan perasaan puas dan bangga. Mereka akan pulang membawa cerita yang keren dan luar biasa. Sedangkan di sebuah tempat di Khumbu Icefall. Terbaring mayat dengan bekas sayatan di nadi, sebuah pisau kecil belapis emas tergeletak di sampingnya, dengan ukiran yang indah sekali bertuliskan “ROWAN”. Mayat yang tidak akan mampu menceritakan sebuah kisah, sebuah kisah pilu tentang manusia dengan dua kepribadian yang saling menyalahkan.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *