Urgensi Literasi dalam Putaran Bonus Demografi

Posted on Posted in Aktif, Artikel, Santri

Oleh Ahmad Radhitya Alam

 

Puluhan tahun terakhir, Indonesia yang notabene akan menghadapi bonus demografi diguncang oleh berbagai bentuk masalah, salah satunya adalah literasi. Literasi merupakan salah satu wadah penyampaian aspirasi yang penting bagi negeri ini, bahkan dunia ini. Jika kemampuan literasi para pemuda lemah, maka akan sia-sia bonus demografi yang akan didapatkan oleh Indonesia. Napoleon Bonaparte pun pernah berkata, “aku lebih takut dengan pena seorang jurnalis daripada dikepung seribu bedil musuh”. Seorang pemimpin revolusi besar yang terkenal sangat tangguh pun takluk oleh ihwal literasi ini, maka di sinilah peran pelajar dibutuhkan untuk memulai pergerakan. Banyak sumber yang menyatakan bahwa rata-rata orang Indonesia membaca 1 buku selama 1 tahun, atau jika ada 1.000 orang, maka hanya ada 1 orang yang membaca. Sangat ironis jika dikaitkan dengan bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia mendatang. Begitu juga dengan semakin banyaknya opini merusak yang ditanamkan pada budaya ilmu kita. Lalu, apakah kita hanya akan diam saja?

 

Mari kita jawab dengan sebuah gerakan perubahan. Bukan hanya ekspektasi, melainkan aksi. Bukan hanya sekadar untuk eksistensi, tapi karena peduli. Karena itulah hakekat hidup yang sejati, untuk memberi manfaat kepada diri sendiri dan orang lain. Maka detik ini juga pelajar harus bisa membuktikan status pelajar mereka dengan membangun sinergi untuk seluruh penghuni Ibu Pertiwi, cukup dimulai dari yang kecil dan dengan ketulusan hati serta konsistensi. Maka gunung tertinggi pun bukanah hal yang mustahil untuk kita daki. Kunci dari sebuah sinergi adalah memulai, jika sudah berani memulai maka tugas kita sebagai pelajarlah yang harus mengembangkannya. Bapak Proklamator sempat berkata, apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang trsebut aalah tidak bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun. Jadi, jika bukan mulai sekarang, lalu kapan lagi?

 

Sekaranglah saatnya untuk bangkit menuju permukaan dengan penuh kerja keras. Mari kita abdikan diri kita untuk para anak bangsa yang masih buta terhadap literasi, mari kita adakan kegiatan untuk membangkitkan kesadaran mereka. Karena seorang pelajar harus bisa mengamalkan ilmu yang didapatkannya untuk kemaslahatan umat hingga bangsa, dan sekali lagi mari kita teriakkan budaya literasi. Tanamkan budaya literasi sejak dini, agar generasi berikutnya semakin cerdas, serta berkarakter. Kitalah pelajar berkemajuan yang akan mewujudkan gerakan kebangkitan literasi, untuk itu di antara pelajar harus saling berdiskusi agar terciptanya sebuah wadah yang bisa menampung masyarakat untuk mengembangkan kemampuan mereka, misalkan sebuah organisasi atau komunitas literasi yang memberikan wadah berekspresi serta pelatihan literasi. Karena, yang masyarakat butuhkan adalah solusi, dari kalangan generasi mudalah salah satunya. Walaupun tidak dapat menetapkan undang-undang, tapi aspirasi kita berkemungminan mengubah kebijakan.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *