Ningrum III | Puisi Reya de Brueyere

Posted on Posted in Aktif, Karya, Puisi, Santri

Oleh: Reya de Brueyere

Burung merak dan gagak
Berbeda bulu keyakinan
Bila membangkai kelak
Yang tersisa aroma kebusukan.

Telah tanggal pakaian dari badan
Dan selamat dikau dari riasan
Hari esok jangan perih jangan peram.

Bangunlah dari tidurmu
Akal sadar jangan membatu
Hujan lahir dari rahim awan
Dalam ranting kering, api tersimpan;
Di jari-jari kelingking kita
Masih melingkar cinta setia.

Bukankah sudah lama
Kita mengaji puisi Zawawi;
Bila mendung gelap di langit
Tak salah hujan turun
Bila terik mencekik
Tak salah gugur daun-daun.
Mengapa sampai terlupakan
Agar senyum bermekaran?

Sungai air mata di Kediri
Dada dara retak; runtuh bertubi-tubi
Dan dari liang yang sangat dalam
Gema rindu bagai genderang perang.

Salakan, 2019.

 

Ningrum IV

Sejuta puisi telah kuaji
Tak satu pun seindah bibirmu.
Kelak bila kumati
Tulis di atas nisanku :

“Terbaring seorang kekasih yang setia”

Bila malaikat datang menanyaiku:
“Siapa dirimu?”

“Anak Eva”

“Siapa Tuhanmu?”

“Pencipta Eva”

“Siapa Nabimu?”

“Putra Eva”

“Apa agamamu”

“Ajaran Eva”

Bila malaikat belum mengerti
Biar Tuhan datang mewakili
Sebab telah bersabda Sang Nabi :

“syahid lah dia, mati karena cinta”

Salakan, 2019

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *