Menata Ulang Niat Menuntut Ilmu di Era Revolusi Industri 4.0

Posted on Posted in Aktif, Artikel, Karya, Santri

Oleh: Muchammad Qosim FN

Saat ini Indonesia memasuki era revolusi industri baru yang ditandai dengan era digitalisasi di pelbagai tatanan kehidupan. Para pakar menyebut ini sebagai era revolusi industri 4.0. Penelitian dari McKinsey pada tahun 2016, bahwa dampak dari digital Technology menuju revolusi industri 4.0 dalam lima tahun ke depan akan ada 52,6 juta jenis pekerjaan akan mengalami pergeseran atau hilang di muka bumi.

Hasil penelitian ini memberikan pesan bahwa setiap diri yang masih ingin mempunyai eksistensi diri dalam kompetisi global harus mempersiapkan mental dan skillyang mempunyai keunggulan persaingan (competitiveadvantage) dari lainnya. Jalan utama mempersiapkan skill yang paling mudah ditempuh adalah mempunyai perilaku yang baik (behavioralattitude), meningkatkan kompetensi diri dan memiliki semangat literasi. Bekal persiapan diri tersebutsalah satunya dapat dilalui denganjalur pendidikan (longlifeeducation) yang diaplikasikan dalam bentuk belajar/menuntut ilmu (thalabal-‘ilmi).

Menuntut ilmu atau thalabal-’ilmi adalah suatu kewajiban. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu AbdilBarr :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

“Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”.

Dalam kitab ta’limulmuta’alim karya Syaikhal-Zarnuji menyebutkan bahwa orang muslim wajib mempelajari ilmu yang diperlukan untuk menghadapi tugas dan kondisinya. Kita semua tahu bahwa penekanan wajib belajar di Indonesia 9 atau 12 tahun.Namun, seiring berkembangnya zaman dan munculnya revolusi industri 4.0, banyak muncul dan berkembangnya konsep dan praktik pendidikan baru dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan yang ada. Sehingga outputnya akan menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai daya saing kerja tinggi.

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kaidah fikhiyah yang sangat populer ini “Al-Umurubimaqoshidiha” (Setiap perkara tergantung dengan maksudnya). Syaikh ‘Abdurrahman bin NashirAs-Sa’diyrahmatullah berkata dalam Manzhumahnya : “Niat adalah syarat bagi seluruh amalan, pada niatlah benar atau rusaknya amalan. Kebanyakan ulama mutaakhirinSyafi’iyah mengartikan niat syar’iyah (niat yang dipandang syara’) dengan “menghendaki sesuatu, bersamaan dengan mengerjakannya”.

Seharusnya dalam kondisi seperti ini, sesekali kita melakukan perenungan terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Banyak dari kita yang saat ini berniat mencari ilmu hanya untuk mengejar keduniawian; mencari pekerjaan yang mapan, mencari pangkat yang tinggi, mendapat kehormatan dari orang, dst.

Menurut Syaikhal-Zarnuji dalam kitab Ta’limulMuta’alim, niat menuntut ilmu yaitu harus bertujuan mengharap  Ridha Allah Swt, mecari kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, menghidupkan agama, dan melestarikan Islam.  Tentu, di era revolusi Industri 4.0 ini, perlu kiranya kita menata ulang niat menuntut ilmu sesuai apa yang terdapat di dalam kitab Ta’limulMuta’alim, misalnya dalam kutipan Syarh kitab Ta’limulMuta’alim;Seseorang yang menuntut ilmu haruslah didasari atas mensyukui nikmat akal dan kesehatan badan. Dan dia tidak boleh bertujuan supaya dihormati manusia dan tidak pula untuk mendapatkan harta dunia dan mendapatkan kehormatan di hadapan pejabat dan yang lainnya“.

Namun, Syaikhal-Zarnuji juga memperbolehkan apabila memiliki tujuan menuntut ilmu untuk urusan dunia. Akan tetapi, tujuan keduniawian tersebut harus menjadi pendukung dalam mencapai tujuan akhirat, seperti kutipan di dalam  Syarh kitab Ta’limulMuta’alim, “Seseorang boleh memperoleh ilmu dengan tujuan untuk memperoleh kedudukan, kalau kedudukan tersebut  digunakan untuk amar makruf nahimunkar, untuk melaksanakan kebenaran dan untuk menegakkan agama Allah. Tetapi, menuntut ilmu bukan untuk mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, dan tidak pula karena menuruti nafsunya. Seharusnya, ini menjadi bagi renungan, supaya ilmu yang dia cari dengan susah payah tidak menjadi sia-sia.”

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *