Wasiat Lelaki Tua untuk Tikus-tikus Jalanan

Posted on Posted in Aktif, Cerpen, Gallery, Karya, Santri

Oleh: Yasir

Mentari mulai merangkak naik. Sinarnya mulai menyebar hingga menerobos sela-sela kecil setiap bangunan. Namun tidak untuk gang kumuh itu. Gang sempit di sudut kota, terhimpit dua bangunan besar yang sudah tua dan tetap suram meski mentari bersinar terang di timur sana.

Di sana, masih terbaring seorang lelaki tua di atas kardus lusuh. Jika dilihat dari jauh, mungkin orang tidak menyadari itu karena warna kulit dan bajunya hampir menyerupai sampah di sekitarnya. Ia masih enggan beranjak, seperti warga kota umumnya yang kesal berjumpa pagi. Namun bukan karena mimpi indahnya terganggu, melainkan karena ia tahu pagi-malam itu sama saja. Meski di luar mentari bersinar cerah, namun dunianya tetap saja gelap karena perutnya terus bergemuruh.

Lelaki tua itu mulai terbangun setelah mendengar derap langkah rombongan tikus mendekatinya. Satu-satunya yang mungkin bisa ia anggap kawan di tempat kumuh itu. Meski lelaki tua itu tidak mengerti cara berkomunikasi dengan mereka, selalu ia coba menyapa mereka tiap pagi hari, “Hai, selamat pagi. Semoga kalian mati di jalan.” Tikus-tikus itu tidak menghiraukan dan terus berjalan.

Tikus-tikus itu setidaknya memberikan lelaki tua itu 1% harapan untuk tetap hidup. Matanya kini memandang ke arah tong sampah terdekatnya. Pandangannya penuh harap bahwa akan ada harta karun di balik tumpukan sampah itu. Sekelompok lalat yang berkerubung di atasnya seolah memberi isyarat bahwa di sana ada makanan yang lezat. Entah, ia tidak paham bahasa lalat.

Ia mencoba mendekati tong sampah itu. Makanan lezat bagi lalat mungkin saja lezat juga bagi orang susah sepertinya. Ia mencoba mengais-ngais seluruh isi tong sampah namun hanya menemukan sebungkus nasi yang sudah basi. “Nasi basi lagi”, keluhnya. Ia kesal sambil menendang tong sampah itu sampai terjungkal dan berserakan isinya, namun kemudian ia mengaduh karena kakinya yang sudah rapuh terasa mau patah.

“DASAR SAMPAH!!”, makinya sambil mengelus-elus kakinya yang rapuh. Ia berjalan gontai menuju tempat tidurnya, kardus lusuh. Lelaki tua itu mungkin berpikir lalat-lalat tadi menertawainya, “Dasar Payah!”

Lelaki tua itu teringat kursi mewahnya dulu. Ketika itu usianya belum begitu tua. Tempat ia duduk santai menikmati hidup sambil menatap kota dengan tenang lewat jendela. Hingga suatu hari namanya mulai muncul di berbagai media karena disinyalir terjerat kasus korupsi proyek besar untuk kesejahteraan rakyat. Setelah berita itu tersebar, kursi mewah itu tidak lagi memberinya ketenangan. Di luar, rakyat berteriak ingin menemuinya. Bahkan ia sempat mendengar mereka akan membunuhnya jika ia tidak keluar.

Lelaki tua itu ketakutan. Ingin bersembunyi. Ingin mencari sunyi. Hingga akhirnya sampailah ia di gang kumuh itu, yang sekarang hanyalah tempat pembuangan sampah.

Berpuluh tahun sudah lelaki tua itu bersembunyi hingga ia menjadi sangat tua. Ia mulai berpikir ingin keluar dari gang kumuh itu sekedar untuk mencari makanan enak, karena pikirnya orang-orang sudah tidak lagi mengenali sosoknya dan kasus puluhan tahun silam.

Sejak saat itu, si lelaki tua mulai hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sekedar bernaung di depan toko untuk semalam, atau di bangku taman kota selain malam minggu. Dan terkadang itu membuatnya diperhatikan banyak warga kota dan mungkin membuat mereka jijik padanya. Mereka mungkin tidak lagi mengenalinya, tapi mereka membenci gelandangan. Hingga ia selalu dihunjam cercaan, ujaran kebencian bahkan ancaman akan dibunuh kalau tidak enyah dari kota itu.

Sejak saat itu, ia selalu terngiang masa lalunya. Ketakutan yang sama. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada kota ini setelah puluhan tahun silam. Akhirnya, lelaki tua itu kembali lagi di gang kumuh itu. Di sana ia merasa lebih aman karena pikirnya tidak akan ada yang lewat kecuali para tikus.

Di atas kardus lusuhnya, lelaki tua itu masih saja membayangkan makanan lezat akan turun dari langit. Di sela waktu berandainya, ia dikejutkan oleh sebungkus plastik yang terlempar ke tong sampah di dekatnya. Memang kebiasaan orang di sana hanya lewat untuk sekedar membuang sampah. Tapi ia mulai penasaran dan segera menghampiri bungkusan itu karena ia mencium aroma yang cukup lezat.

Benar saja, ia menemukan sebungkus nasi kotak. Setelah diperiksa, nasinya masih segar dan hangat. Lelaki tua itu terharu, ia menganggap alam masih mau mengasihinya, mau mengabulkan permintaan bodohnya. Tanpa pikir panjang ia langsung melahap makanan itu. Karena terlalu lahap, ia hampir saja memakan secarik kertas yang tersembunyi di suapan terakhir. “Ada suratnya?” Pikirnya heran.

Matanya kini menerawang jauh ke atas langit, menerka kemungkinan isi surat tersebut. Masih dipegangnya secarik kertas yang terlipat dan kepalanya diliputi berbagai asumsi yang masih mengambang. Tidak ingin pusing berlama-lama, akhirnya ia memberanikan diri membuka lipatan itu. “Mungkin hanya kertas kosong”, pikirnya sederhana.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Ia sontak terkejut, matanya terbelalak melihat isi surat itu.

MATILAH KAU BERSAMA TIKUS-TIKUS JALANAN!!

“Apakah pesan ini benar ditujukan kepadanya? Kenapa pula ada surat di dalam nasi?” Pikirannya mulai kacau. Isi surat yang singkat ini cukup untuk membunuh jiwa seorang yang bodoh dan sengsara sepertinya.

Sesaat kemudian, perutnya bergejolak serasa ingin hancur. Lelaki tua itu mulai panik. Ia kembali menatap surat itu. Betapa terkejutnya ia menyadari surat itu ditulis di atas bungkus produk racun tikus. Mungkin surat itu benar untukku”, pikirnya menyimpulkan.

Sekarang ia tahu hidupnya akan segera berakhir. Ia mencoba menikmati saat-saat terakhir hidupnya dengan mengabaikan perutnya yang terus bergejolak. Ia menelentangkan tubuhnya, matanya yang sayu memandang langit yang cerah dengan tenang. Ia ingin melihat siang dan malam untuk terakhir kalinya. Hingga malam hari tiba, langit menjadi gulita, waktu di mana tikus-tikus kembali dari pengembaraan mereka.

Lelaki tua itu merasa akan segera kehilangan semuanya, meskipun sebenarnya ia tidak merasa memiliki apapun yang berharga, ataupun melakukan sesuatu yang bisa dikenang. Namun, ketika mendengar rombongan tikus-tikus mendekatinya, ia sempat berpikir mungkin hanya itu yang dimilkinya. Lelaki tua itu mencoba bangkit menyapa tikus-tikus itu,“Hai, selamat datang. Selamat, kalian masih hidup!” Tikus-tikus itu masih tidak menghiraukan. “Aku punya wasiat untuk kalian.” Ia melanjutkan. Kali ini tikus-tikus itu berhenti dan memerhatikan si lelaki tua.

“Aku hanya ingin, jika kalian melihatku tidak bangun esok hari, biarkan aku menjadi berarti bagi kalian dengan menjadi makanan kalian.”

Dan benar saja, keesokan harinya lelaki tua itu ditemukan sedang dicabik-cabik kumpulan tikus-tikus liar di gang kumuh itu. Seseorang yang hendak membuang sampah di sana sangat terkejut melihat fenomena ini. Para wartawan mulai berdatangan saling berebut informasi mencari kebenaran di balik kematian si lelaki tua.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *