Kembali Hitam

Posted on Posted in Aktif, Cerpen, Karya, Santri

Oleh: Ahmad Kafi

Dengan doran yang terpaut erat pada genggaman serta peluh yang bercucuran dari dagunya, Rusman dengan perkasa dan begitu lincah memperkosa hamparan tanah yang terbentang sepanjang batas pandangannya. Hamparan tanah berlumpur dengan galengan-galengan yang saling menyilang seperti kumpulan perempatan di jalan.

Rusman memang sudah bersahabat dengan dunia barunya. Antara sawah, doran, dan dirinya seperti sebuah satu kesatuan. Di mana ada sawah-sawah terhampar, di sanalah ada Rusman yang berdiri tegak dengan doran pacul yang tampak menyeringai. Tonjolan otot yang meliuk-liuk di bahu, cukup menggambarkan betapa akrabnya ia dengan pekerjaannya.

Tapi Rusman bukanlah orang yang sudah mapan, dan hamparan tanah di hadapannya juga bukan miliknya. Ya, sawah itu memang bukan miliknya tapi milik orang lain. Lebih persisnya milik kang Kurdi –sang juragan tanah dengan puluhan anak buah –dan Rusman adalah salah satunya.

Sudah tiga tahun lebih ia bekerja dengan kang Kurdi, tepatnya sejak mereka mulai saling kenal. Pertemuan mereka pun sesungguhnya bukan hanya kebetulan dan tanpa sebab, melainkan karena seorang wanita, Rahma namanya. Seorang gadis yang menyita siang dan malam Rusman. Memenuhi semua sudut lamunannya.

Mungkin sepertinya masih membingungkan antara Rahma dan pertemuan Rusman dengan kang Kurdi. Baiklah akan ku ceritakan dulu awal mulanya.

Dulu, Rusman bukanlah orang yang semangat dan giat bekerja seperti sekarang. Bila saja ada yang bertanya siapa pemuda yang paling malas di kampungnya, siapa pemuda yang menyandang predikat tukang mbangkong di kampungnya, dan siapa pemuda yang paling sering menjadi bahan gunjingan orang-orang? Tidak lain dan tidak salah Rusman lah orangnya.

Hari-hari yang berlalu, hanya dijalaninya dengan tidur, makan, dan tidur lagi. Tak perlu bertanya bagaimana sholatnya! Jangankan sholat, menyentuh air untuk wudhu pun ia sangat enggan.

Apalagi jika ia harus berpanas-panas membantu bapaknya menyiram mbako di ladang, Ngangsu di sumur tetangga tiap pagi, atau naik-turun pohon mengumpulkan ranting-ranting kering.

Tentang bagaimana perasaan kedua orang tuanya juga jangan ditanya? Orang tua mana yang bisa tenang melihat anaknya yang sudah semakin dewasa tapi tidak mau melakukan apa-apa. Rukmini ibu Rusman, sudah sangat lelah untuk menasihati anaknya setiap hari.

Entah bagaimana lagi cara yang harus digunakan untuk menghadapi tingkah anaknya yang kian hari kian malas. Belum lagi bila ia membayangkan jawaban apa yang harus diberikan ketika orang-orang bertanya tentang Rusman. Mending kalau hanya bertanya, tidak jarang para warga mengata-ngatai Rusman dengan kata-kata yang sangat tidak enak didengar.

Penuh sudah kuping Rukmini dengan cacian-cacian dan celaan dari para tetangga.

“Mbak yu, anakmu itu mau jadi apa? Wong urip kok gak gelem lahpo-lahpo”

“Kalau saya mending gak nduwe anak, nek dapurane koyo Rusman”

“Mending orang mati ketimbang anakmu yu. Rusman iku di arani urip kok gak lah popo, di arani mati kok isek doyan opo-opo”

“Siapa juga yu, yang mau punya mantu koyo’ Rusman begitu”

Begitulah celaan-celaan yang setiap hari senantiasa memenuhi telinga Rukmini. Tidak jarang dirinya mengatakan hal itu pada anaknya. Tapi, yah… Rusman tetaplah Rusman, apalah artinya ucapan orang bagi dirinya.

“Toh mereka ndak pernah ngasih aku makan to buk, bisanya yo mung ngrasani tok”. Begitulah jawaban Rusman setiap kali ibunya menasihatinya. Sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan dari kehidupannya sehari-hari. Yang ada hanyalah kesan membosankan, memuakkan, dan tanpa gairah.

Namun semuanya berubah sejak Rusman berencana melamar seorang gadis yang telah lama mencuri hatinya. Rahma lah orangnya, putri seorang kepala desa dan tentu saja rencananya di tentang oleh keluarganya.

“Le, ibuk ini wes cukup malu karo tingkahmu, jangan buat ibuk lebih malu lagi dengan karepmu melamar Rahma. Kamu tau kan le siapa Rahma itu dan bagaimana kelurganya?” kata Rukmini ketika Rusman mengatakan keinginannya.

“Aku tau kok buk siapa Rahma, dia gadis yang menyukaiku”

“Kamu itu sekali-kali mbok yo mikir seng luweh waras. Para tetangga saja banyak yang ndak suka sama kamu. Apalagi pak lurah. Mana mungkin dia mau ngambil kamu mantu kalau sifatmu kayak begini”

“Buk, aku ini anakmu. Jadi orang tua mbok yo mendukung kemauan anaknya”

“Apanya yang mau didukung? Lagipula mana mungkin Rahma suka sama kamu. Dia itu gadis sholehah, anak orang terpandang. Tentunya dia juga bakal memilih jodoh yang sepadan. Lah kamu?”

“Halah buk, sudahlah. Biar Rusman sendiri yang njalani rencana Rusman.” Pekik Rusman sambil pergi meninggalkan rumah.

Di jalan, Rusman masih menggerutu tentang tanggapan ibunya. Ia merasa bahwa ibunya tidak lagi menyayanginya, tentunya dengan bukti kalau ibunya tidak mendukung keinginannya melamar Rahma.

“Ibu itu memang ndak tau kalau Rahma menyukaiku. Buktinya setiap kali bertemu, ia selalu tersenyum. Dulu juga pas dia jatuh ketika belajar sepeda motor, dia juga tersenyum ketika aku tolong. Mana mungkin ia tak menyukaiku.”

Ketika Rusman masih sibuk dengan gerutuanya dari kejauhan lamat-lamat ia melihat beberapa gadis yang berjalan beriringan. Tampaknya mereka baru dari masjid setelah berjamaah sholat isya’. Salah seorang dengan mukena yang masih dikenakan dibagian atasnya dan tangan mendekap bagian bawah mukena yang telah dilipat, berjalan tertunduk di antara teman-temannya. Tidak perlu menunggu lama, Rusman sudah dapat mengenali gadis itu.

“Nah, itu Rahma” pekik Rusman.

Tanpa banyak berfikir, Rusman berjalan setengah berlari menghampiri gadis-gadis yang tampaknya sudah menyadari keberadaan dirinya. Dilihatnya beberapa dari mereka tertawa kecil sambil menutupi bibirnya dengan mukena. Rahma hanya tertunduk.

“Dek, abang mau bicara sesuatu.” Ucap Rusman tanpa basa-basi.

“Bicara apa bang?” jawab Rahma pelan.

“Eemm, abang mau melamar adek, adek mau kan jadi istri abang? Adek suka kan, sama abang?”

Sontak saja, teman Rahma yang mendengar perbincangan itu tertawa seketika.

“Eh bang, punya kaca ndak?” celetuk gadis tinggi kurus di samping Rahma.

“Jangan terlalu tinggi lah bang, mimpinya. Kalau jatuh sakit bang.” Sahut gadis yang berkacamata.

“Kalau mas memang serius, datang saja ke rumah. Nanti bicara sendiri sama bapak” jawab Rahma sambil berlalu pergi.

****

Tak berapa lama, berita tentang lamaran Rusman tersebar keseluruh kampung. Ayah Rahma begitu geram ketika mendengar hal tersebut. Dengan wajah yang merah padam didatangilah rumah lelaki kurang ajar yang berani melamar putrinya. Seperti sebuah kebetulah, ketika itu Rusman sedang duduk santai di dipan depan rumah.

“Brraaak” ditendangnya dipan itu keras-keras oleh pak lurah.

“Loh, kenopo pak. Kok tiba-tiba mengamuk seperti ini?” tanya Rusman yang kaget dengan tindakan pak lurah.

“Berani-beraninya kau berbicara seperti itu pada anakku. Koe iku sopo le. Ngaca dulu! Keluargamu dengan keluargaku itu berbeda. Sama sekali tidak sepadan. Lihatlah dirimu! Wanita udik dan bodoh pun tidak akan mau denganmu, apalagi putriku. Pemuda malas dan tak punya masa depan sepertimu tidak akan layak bersanding dengan siapapun. Mulai sekarang jangan lagi kau bermimpi mendapatkan putriku. Melihat putriku saja itu sudah sangat mahal harganya bagimu.”

Seketika Rusman berdiri dari duduknya seraya menenangkan pak lurah.

“Sabar dulu pak, kita bisa bicara baik-baik. Tidak perlu membentak seperti itu.”

“Bagaimana aku bisa sabar dengan kelakuan goblokmu itu. Heh!.. camkan perkataanku baik-baik! Sampai kiamat pun aku tidak akan merelakan putriku untukmu. Ingat sekali lagi, derajatmu dan keluargaku terpaut teramat jauh. Paham!! Bilang pada orang tuamu nanti kalau pulang. Suruh mereka mengajari sopan santun pada anaknya yang tidak tau diri ini”

Setelah berkata demikian, pak lurah pergi meninggalkan Rusman yang masih mematung tanpa sempat membela diri.

Dampratan ayah Rahma begitu menyakitkan bagi Rusman. Baru kali ini ia merasa tersakiti dengan perkataan orang lain. Entah karena perkataan itu dari ayah orang yang dicintainya, atau karena perkataan itu ia dengar langsung di kupingnya bukan dari ibunya. Entahlah.

Setelah kejadian itu, berhari-hari Rusman sering termenung. Diingat kembali kata-kata pak lurah. “mungkin memang benar apa kata pak lurah” gumamnya.

“Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan Rahma kalau keadaanku saja seperti ini. Baiklah, akan ku buktikan kalau aku pantas bersanding dengan Rahma. Akan ku bungkam mulut pak lurah nanti dengan kesuksesanku. Lihat saja nanti.”

Akhirnya, ia pun memutuskan untuk merantau meninggalkan kampung halamannya. Karena tidak mungkin baginya meraih kesuksesan kalau masih tinggal di rumah. Baginya bekerja di kampung sama saja berjalan di tempat. Tidak akan merubah apapun.

Sampai kemudian ia bertemu dengan kang Kurdi dalam perantauannya. Singkat cerita Rusman diangkat menjadi satu anak buahnya.

Kini, waktu tiga tahun sudah merubah semua kehidupan Rusman. Tidak hanya sifat malasnya saja yang hilang, ia pun telah menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab, bahkan sangat bertanggung jawab. Bukan hanya bertanggung jawab atas dirinya dan pekerjaannya saja, melainkan tanggung jawabnya terhadap Robb-Nya.

Sebelum mentari membangunkan rerumputan Rusman sudah menyiangi rumput-rumput yang bersembunyi di balik punggung padi, menggendong ember-ember air dari sumur sawah, menyiram jagung satu persatu tanpa terkecuali.

Setiap adzan dhuhur berkumandang, segera ia tinggalkan segenap aktivitasnya, membersihkan diri seadannya, mengelar helaian daun pisang, kemudian bertakbir, rukuk, sujud, menghadapkan diri sepenuhnya pada sang kuasa.

Pengajian mbah Umar yang selalu ia ikuti bakda maghrib, benar-benar menerangi sudut-sudut gelap hatinya. Dengan mbah Umar ia belajar bagaimana memaknai hidup, seperti apa berharganya nafas demi nafas yang terhembus, bekal apa yang dibawa ketika dunia bukan lagi menjadi tempat tinggal.

Rusman telah berubah. Sekarang yang ada adalah Rusman yang rajin, Rusman yang pekerja keras, Rusman yang tak kenal lelah, Rusman yang saleh.

Suatu ketika tebersit keriduan di hatinya. Kerinduan akan kampung halamannya, kedua orang tuanya, dan kerinduan pada sang pujaan hati tentunya.

“Bagaimana ya kabar Rahma, apakah ia semakin cantik, semakin anggun, atau malah semakin tua” ucap Rusman dalam lamunan. Akhirnya ia pun berencana untuk pulang.

Keesokan paginya, setelah mengemasi perlengkapan yang akan dibawa, Rusman berpamitan kepada kang Kurdi untuk pulang beberapa waktu.

***

Kepulangan Rusman membuat suasana kampung menjadi riuh. Riuh bukan karena Rusman yang telah lama baru pulang, tapi karena perubahan yang terjadi pada dirinya. Para pemuda yang menjauhinya kini berkumpul ramai di depan rumah Rusman. Rusman yang dulu dianggap memalukan, kini tampak bercahaya di antara mereka.

“Wah… lama gak ketemu malah manteb wae awakmu” ujar Yadi, lelaki yang lebih tua dua tahun dari Rusman.

“Pye… isek doyan turu ora?” tanya Suryo sambil menepuk pundak Rusman.

“Ooo,.. yo malah nemen turuku” jawab Rusman sambil tertawa.

Sekilas teringat oleh Rusman tentang Rahma.

“Oh iya, bagaimana kabarnya Rahma?” tanya Rusman.

“Wah… Rus, bagaimana ya? Tolong kamu jangan terkejut ya?” jawab Suryo.

“Lo memang kenapa?” tanya Rusman.

“Rahma baik-baik saja. Tapi dia sudah dikawinkan bapaknya sama pemuda kampung sebelah. Kabarnya dia anak kamituo. Kita tau dulu kau sempat ingin melamarnya. Tapi semoga saja kau sudah melupakan hal itu.” terang Suryo.

Seketika itu, semua terasa gelap bagi Rusman. Terselinap kehampaan yang teramat dalam di hatinya. Wajahnya tertunduk lesu. Matanya menerawang kosong seolah tiada apapun yang dapat dilihatnya. Para teman yang menyadari reaksi Rusman berusaha menenangkan perasaannya.

“Kuatkan hatimu Rus, dia memang bukan jodohmu. Ini bukanlah sebuah akhir. Yakinlah kelak kau akan mendapatkan yang terbaik.” Kata Yadi sambil mengelus pundak Rusman.

***

Sejak mendengar penyataan Suryo, Rusman kehilangan gairah hidupnya. Sudah beberapa ia menyendiri. Dari pagi sampai petang tidak pernah ia terlihat di rumah. Waktunya hanya ia habiskan di gubuk di tengah ladang bapaknya. Ibunya yang menyadari sikap Rusman berusaha menghibur, tapi apalah daya Rusman tetap saja murung.

Suatu petang ketika Rusman masih termangu di gubuk, Yadi temannya yang sempat berkunjung di rumah, mencoba mengampiri. Entah dari mana ia tau kalau Rusman berada di gubuk. Dengan kalimat yang dibuat sehalus mungkin ia mencoba membujuk.

“Rus, mbok yo jangan begitu terus. Westalah, jodoh itu gusti Allah seng ngatur. Sekarang sudah hampir maghrib lho, ayo kita pulang. Kita sholat berjamaah di langgar. Kita minta pada gusti Allah supaya memberikan yang terbaik bagi kita dan kita tetap dalam lindungannya.”

“Ndak kang. Aku wes gak sholat.” Jawab Rusman.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *