Guyon Maton | Puisi Ahmad Radhitya Alam

Posted on Posted in Aktif, Karya, Puisi, Santri

Dalam sebuah tobong tua
tiap sepelan memintal logika
mengental pada sulur saraf otak
playon dengan segenap mata pasak

Telah cukup lama dendam diperam
dalam gumam penuh pupur campur lumpur
melipat duka yang dikerat pada ujung kelambu

Maka kemana lagi aku akan mengasah juang
Telah kugali gaung yang dalam untuk menggemakan pekikmu
Di sana sembilu meraut dendam paling biru

Krombongan telah memintal gigir
buat mendengar strategi perang bestir
tanpa pedang, sebab darah tak lagi
menjadi simbol kematian
; semiotika lebur dikoyak zaman

Kuingat Cak Durasim, serupa kuingat gigir
yang menyisakan titik nadir, menoreh tangis tanpa
mata berair, dan kenang yang terus
melekat hingga akhir

Ia tak goyah dalam setiap langkah
merobek keangkuhan dengan gagah
guyon maton dituturkan
gatra parikan didendangkan

Ingatan pelor berdesak, merusak logika
kewarasan yang kian risak, ketakutan menanam
pasak pada mata yang berontak, namun harap
tak jua beranjak, memburu kebenaran
dalam tiap denyar sulur saraf otak,
menggulung lidah hingga tersedak

Tekanan telah membakar sajak paling gigil
Keluar masuk kepala tanpa kalimat sapa

Sebab hidup penuh dengan guyonan
Ludruk melahirkan kembali kewarasan

Blitar, 2018

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *