Kehilanganmu Muara Segala Duka | Puisi Azeez Naviel Malakian

Posted on Posted in Puisi, Santri

Oleh : Azeez Naviel Malakian

Para ksatria terdahulu menyebut namamu dalam kitab sakralnya
Hari lahirmu dirayakan seantero dunia
Namun hari tiadamu, satu pun yang memperingati tak ada
Bukan lantas berarti engkau tak lebih mulia dari mereka
Justru kehilanganmu, sungguh muara segala duka
Setiap kali mendengar kisahmu
Entah mengapa hati ini terenyuh, bergetar
Bahkan getarannya mengalahkan bumi
Yang diterkam gempa berfrekuensi tinggi
Mengungguli gejolak samudra yang membuatnya sunami
Pendar segala cahaya sontak meredup tatkala engkau melintas
Alam semesta menaburimu jura
Kau tak lantas jumawa
Orang-orang menghujani caci dan cerca
Pun tak membuatmu nista
Malah kau balas dengan doa dan tutur kata mesra
Yogyakarta, 2016

“Diktum Anomali”

Katamu aku harus menghentikan jejak
Namun hati ini masih ingin terus bersajak
Kutelisik kumandang itu dari jauh
Bukan dengan telinga atau pun mata
Tapi dengan rasa
Menera segala yang tak berupa
Kupahatkan bait-bait kata, kau patahkan semuanya
Kau kupu-kupu bersayap sembilu,
Kau gerhana berparas purnama
Yogyakarta, 2017

“Senandung Alam”

Tak ada yang lebih syahdu
daripada bersenandung dengan alam
Sebab ia
kendati penuh rupa,
tapi tak pernah pura-pura
Randusari, 2017

“Senyum Abu-abu”

O engkau yang duduk lenggang kangkung di kursi malasmu
Kau paksa martir syahidmu menjadi apa yang kau mau
Kau jejal dengan ayat sucimu, lalu
kau nikmatinya dengan senyum syahdu
Sembari menyeruput kopi susu
Kau iming-imingi mereka dengan bidadari surga
Sebenarnya kau ini manusia atau dewa
Kau sihir mereka yang religius taat menjadi ambisius bejat
Khotbah jumat jadi ajang mengumpat
Kau jadikan mereka pengantin
Dengan terus-terusan menyemai doktrin
Memporakporandakan nalar otak
Memekik fatwa sampai pekak
Kau buat mereka memandang dengan mata terpejam
Kau ukir wajahnya dengan senyum
Senyum ambigu
Senyum kelabu
Senyum abu-abu
Yogyakarta, 2017

“Bianglala Menyambut”
(bersama Alia)

Sekawanan burung jalak terbang berarak
menyerupai awan gelap
Menutup hampir semua cakrawala
yang menghampar tegap
Satu demi satu kutelusuri,
barangkali ada ruang bagi mentari
Tuk sekedar melepas rindu pada bumi

Tak terasa langit mulai lindap
Isyarat bulir hujan segera menyelinap
Awan-awan menggumpal pekat
Bulir-bulir pun luruh
Menghunjam sayap-sayap burung jalak
Menggenangi pelataran sabana yang terserak
Namun, tahukah engkau
Di balik setiap awan gelap dan hujan lebat
Akan datang bianglala
yang setia menyambutmu dengan hangat
Kasongan, 2018

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *