Cawet Hitam

Posted on Posted in Cerpen

Oleh: Achmad Chasan Mas’udi

Lelaki berwajah bulat yang mengantarkan saya pada ruang kamar paling ujung asrama, dengan sopan membuka pintu kamar. Tampak, bukan hanya lelaki berwajah bulat saja yang menempati -Pikir saya. berwajah tirus pun ada. Eeeh. Setelah lelaki berwajah bulat tadi melepaskan peci. Ternyata, berwajah tirus juga dia. Brengsek. Teman kecilku ternyata. Anda namanya.

Para lelaki tersebut. Mempersilahkan saya duduk dengan keramahan yang tidak dibuat-buat. Sebelum sempat saya ucapkan sepatah kata. Canggung rasanya, menjadi objek pandang setiap pasang mata yang ada. Kemudian menjadi cukup sulit, seakan mulut tersumbat cawet. Anyir namun sulit meludahkan kata. Anda mengetahui gelagat kikuk saya. Segera. Anda memperkenalkan saya.

Untung. Saya kira Anda telah melupakan persahabatan dulu yang terjalin, atas dasar ketidak sengajaan menemukan cawet hitam. Tergeletak pada persimpangan Jalan Kuntul, yang tak jauh dari SMP Karang Wetan. Waktu itu, Saya dan Anda berjalan sepulang sekolah. Berdampingan? Tentu tidak, saya belum mengenalnya. Anda di depan, sedang Saya membuntut di belakangnya. Hingga setiba di persimpangan itu. Tergeletak sebuah cawet hitam. Anda mengetahui, melirik kanan dan kiri, lalu mengambil dan diciuminya. Saya mendekat, menepuk punggungnya. Anda kaget, terlepaslah cawet hitam itu dari genggamannya. Lantas apa maksud dari ciuman yang didaratkan Anda kepada cawet hitam itu? Tentu tak mudah mendapatkan jawabannya. Di situlah perdebatan panjang saya dan Anda berawal. Dan berakhir dengan air mata dan pertukaran nama.

Tidak lama Kemudian. Saya menawarkan diri untuk diajak Anda berkunjung ke rumah dan bertemu saudaranya. Anda bergeleng. Menjelaskan, bila rumahnya tidah jauh. Tapi, berada di perkampungan kumuh, kotor dan banyak tikus yang berkeliaran. “Tikus? Itu hewan yang mengerikan”. Anda tersenyum.

“Ya udah, aku pulang dulu” ucap Anda tiba-tiba membuyarkan ketakutan saya pada tikus.

“Berkunjunglah kerumahku, di perumahan Kolor nomer 11” ucap saya meninggalkan anda.

Setelah pertemuan itu. Kadang kala saya teringat Anda. Memikirkan dan bersimpati padanya. Sebab dari perdebatan panjang dengan Anda. Saya baru tahu, orang tuanya tak mampu membelikan cawet untuk adiknya. Bagi saya, Anda seorang kakak yang tangguh, mencintai dan bertanggung jawab pada adiknya. Sedang saya acuh pada Ranti. Adik saya yang masih bayi. Lahir pertengahan September bulan lalu.

*****

Kehidupan di asrama tidak selama menjadi momok bagi sebagian calon penghuninya. Penasaran dan ketakutan untuk beradaptasi, memulai pertemanan, kadang bermunculan tak karuan. Mengalir namun tak kunjung berlabuh. Dikucilkan menempati tempat tersendiri dalam beberapa halusinasi yang saya lalui. Halusinasi seperti itu harusnya tidak menempel pada kepala saya. Skizofrenia? Apa itu? Tak kenal saya. Alzheimer? Bahkan riwayat keluarga saya belum pernah melahirkannya. Sesungguhnya itu hanya pembacaan implus listrik yang salah. Nyatanya. Setelah Anda memperkenalkan saya. Saya ingat betul nama-nama penghuni kamar asrama itu. Dan mereka ingat betul dengan nama saya. Buktinya. Panggilan mas cawet hitam selalu melayang pada saya. Padahal yang lebih pantas adalah Anda –pembawa cawet hitam. Bukan saya. Tak apalah. Mungkin ini cara Anda memperkenalkan saya dengan mengubah alur cerita kenangan itu. Toh kecanggungan saya telah hilang berkat Anda.

Kamar asrama berukuran 3×5 meter itu cukup sesak untuk menampung kami berlima. Beralas tikar bergambar ultramen, pahlawan super yang bertukar tinju dengan moster, selalu menang dan itu yang membuat saya membenci karakter itu. Sering saya berdoa akan kematiannya. Selalu tak sampai pada Eiji Tsuburaya –penciptanya. Satu yang saya suka berlama-lama menetap di kamar itu. Gambar Anggelina Jolie membawa pistol, jas hitam, serta bercawet hitam tak bercelana. Sungguh saya menyukainya. Dan bahkan waktu itu saya benar-benar ingin seperti dia, bercita-cita menumpas koruptor, perampok dengan sekali tembak. Dor. Darah bercucuran.

Hari-hari selama di asrama, selalu terulang kembali. Berangkat sekolah. Pulang berdiam di kamar asrama. Belajar malam hari bila PR mengantil sampai kamar. Sedang untuk makan sudah tersedia dalam bungkusan kotak yang siap santap. 3 kali sehari dan susu segar siap kentot di pagi hari yang terbungkus plastik putih. Lagi-lagi hal yang saya suka, ketika malam tanpa PR mengantil. Kami berlima duduk melingkar. Bertukar obrolan. Bercerita aktifitas di sekolah sampai aktifitas di toilet. Yah ini. Setiap akhir cerita. Pasti bersautan tawa yang panjang, yang membuat persahabatan kami semakin dekat. Tentunya aktifitas ini tak dilakukan setiap malam. Hanya malam minggu. Ketika PR tak lagi mengantil.

Setahun telah kami lalui di kamar asrama itu. Berbagi suka dan duka. Saling pinjam dan meminjam cawet. Saat musim hujan mengguyur membuat pakian dan cawet kami yang terjemur belum sampai kering. Bawa dan curi cawet hal yang lumrah, namun kembali dengan sempurna, bau parfum laundri yang wangi. Suatu malam asrama di hebohkan dengan hilangnya semuanyacawetyang berada pada jemuran atap asrama. Semuanya saling cari, saling curiga, menuduh si anu dan si anu. Tidak lama petugas keamanan asrama mengumpulkan seluruh penghuni asrama, menenangkan, namun tetap panasaran, siapakah pelakunya? Tentu saya tak tahu. Sepintas ingatan saya menuduh Anda. Mungkinkah seluruh cawet itu dia berikan pada adiknya? Terdengar terikan dari arah belakang. “Anda pelakunya, Anda, Anda!”. Jadi sunguh betul Anda pelakunya. Petugas keamanan segera bertanya padanya. Anda menolak tuduhan itu berkali-kali dan berteriak “Supri pelakunya”.  Segera petugas mencari supri menanyakan hal yang sama. Belum sempat supri menjawab. Anda berteriak “kemarin malam aku melihat Supri membawa banyak cawet ke dalam kamarnya”. Suasana semakin heboh. Berbagai hujatan cacian terlempar pada Supri. “TENAAANG” Petugas berteriak. Suasana kembali tenang. Supri tetap menolak tuduhan itu. Petugas lantas menggeledah kamar Supri. 29 cawet di temukan di lemarinya. Tak ayal Supri digelandang petugas. Menangis, meronta dan tetap menolak, bukan dia pelukanya.

Semenjak kejadian itu, Supri tidak pernah kelihatan di asrama maupun di sekolah. Beredar kabar bahwa Supri melarikan diri dan tak pernah kembali lagi. Bahkan sampai kini ketika saya akan menghadapi ujian kenaikan kelas 3 SMA. Seminggu sebelum pelaksanan ujian. Kegiatan belajar saya semakin meningkat. Sebetulnya bukan karna ujian telah dekat tapi Kehadiran dialah yang membuat belajar saya menjadi giat berkali-kali lipat. Keysah namanya. Gadis cantik, idola pria seisi SMA.

Pada hari sabtu. 2 hari sebelum ujian dimulai. Selekas jam pelajaran berakhir. Keysah mengajak saya berkencan untuk pertama kalinya. Bertemu di sebuah taman sekolah. Kami duduk berdua. Mengobrol ringan namun masih menyisahkan kegugupan. Di akhir pembicaraan. Keysah memberikan sesuatu kepada saya. “Gelang keberuntungan”, katanya. Saya merasa beruntung.

“Seharian ini sungguh panas”. Ucap Keysah sambil mengipas tangan di dadanya.

Buru-buru saya ambilkan botol minum dalam tasku. Tak segaja tas tersebut terguling. Isi tak keluar semua. Keysah terbelalak. Sebuahcawethitam terjatuh dari tasku. Keysah bertanya-tanya.

“cawet siapa?”

“cawetku”

“sungguh?”

“sungguh, kenapa?”

“ini cawetku yang hilang di jemuran asrama putri seminggu yang lalu” Keysah menampar saya dan pergi tanpa menoleh sedikitpun.

***

“Masih ingatkah kejadian itu?”

“Brengsek kamu”

“Cawet hitam Keysah masih kau simpan?”

“Aahh sudah lah”

“Siaap Mascawethitam”

“Sialan”

Anda tertawa panjang dalam telphone

“Kapan main ke rumahku, rindu berbincang kenangan dulu” Ucap Anda

“Minggu depan asal lupakan soal cawet”

“Siap Mas cawet”

“Setan, mana alamat rumahmu?”

“Perumahan Majilannomer 3”

“okke” lantas saya tutup telphone itu.

Namun, karena pekerjaan kantor yang sangat padat. Satu sebulan kemudian saya baru bisa berkunjung ke rumah Anda. Rumahnya kelihatan sepi. Berkali-kali bel saya tekan. Tiada yang keluar.

“Orangnya tidak di rumah mas” kata tetangga dari rumah sebelah.

“Kemana? Pindah?”

“Ketangkap Polisi”

“Lho kok bisa?”

“Dia maling cawet mas”

***

Anda tertunduk lesuh tanpa berani menatap saya.

“cukup susah mencari tempatmu tertahan”

“Aku tak habis pikir”

Anda masih menunduk

“Aku bekerja di Pabrik cawet Trendy

Anda tetap menunduk

“Jika kau mau, aku bisa mengirimkan cawet-cawet hingga memenuhi rumahmu”

“Maaf waktu berkunjungmu telah habis” Ucap Anda

“Brengsek”cawethitam saya lempar tepat di mukanya.

“Hanya karnacawetsialan kau harus berakhir seperti ini”

9 tahun kemudian. Saya dipenjara karna tuduhan korupsi. Tapi itu untuk membiayai kuliah Ranti di luar negeri. Gaji bulanan saya takkan cukup, sedang saya tak ingin Ranti putus kuliah. Tak lama setelah penangkapan saya. Anda menjengukku. “ini kukembalikan milikmu” sambil memasangkancawethitam pada kepala saya.

 

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *