ENAM MADRASAH DARI RAMADHAN

Posted on Posted in Artikel

ENAM MADRASAH DARI RAMADHAN

[Khotbah Idhul Fithri 1439 H; Oleh Aguk Irawan MN]

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,

Begitu matahari tenggelam kemarin sore dan terbitlah hilal Syawwal, ada rasa berkecamuk dalam diri kita antara bahagia dan sedih. Sedih, karena kita semua ditingalkan Ramadhan, tetapi sukacita karena Idhul Fitri, hari kemangan itu tiba. Menetes air mata ini karena berpisalah kita dengan bulan yang barokah itu, bulan yang di dalamnya terdapat malam lailatul qadar, yang jika kita beribadah pada malam itu, maka kita mendapatkan keutamaan ibadah yang lebih baik daripada ibadah seribu bulan.

Bulan diturunkannya al-Quran, sebagai pedoman hidup kita. Bulan yang mungkin aktifitas kita lebih banyak ada di sekitar atau di dalam masjid, untuk berbuka bersama, shalat terawih bersama, tadarus bersama dan shalat lima waktu. Hilang sudah momentum keriangan ibadah itu. Pepatah mengatakan: Jika kau merasakan nikmatnya kebersamaan, pasti kau juga akan menderita saat berpisah.

Apakah masih ada Ramadhan tahun depan? Insyallah, Ramadhan akan terus ada, selagi di bumi ini masih ada yang mengingat Allah. Tetapi, apakah kita akan bertemu lagi tahun depan? Belum tentu. Sebab tidak ada jaminan, bahwa kita akan bertemu lagi dengan bulan yang penuh dengan berkah itu. Kita semua yang pagi ini berkumpul, hanya bisa berdoa dan bermunajat, mudah-mudahan kita semua dipanjangkan umurya dan masih bertemu dengan Ramadhan-Ramadhan lagi. Allahumma amin.

اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.

Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah.

Apapun kesedihan takbirlah, terus gemakan nama Allah yang Maha besar itu, hingga diri kita ini hanya menjadi sebutir debu dikeharibaanNya. Sehingga sedih, cemas dan sebesar apapun masalah kita akah luruh dan lebur dengan kemahaesaan dan rahmat-Nya. Betapapun sedih kita sudah ditinggalkan Ramadhan karena bukti keimanan kita, hari ini patutlah juga kita bersyukur dan berbahagia. Kenapa? Karena hari ini adalah hari kemenangan, setelah sebulan penuh shaimin dan shaimat telah berperang untuk mengendalikan hawa nafsunya. Karena hari ini pula kita dijanjikan akan kembali kesucian diri kita sebagaimana bayi yang terlahir di dunia tanpa dosa.

Kita juga patur bersyukur dan berbahagia, kenapa? Karena hari ini betapa banyak saudara-saudara kita yang sebenarnya sangat ingin merayakan idhul fitri bersama, bersimpuh beribadah seperti kita di pagi ini, tetapi karena ada satu dan lain hal, mungkin sedang sakit, atau terjebak macet di jalan dan lain sebagainya, mereka gagal mewujudkannya. Allah berfirman:

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ “Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Qs. Luqman [31]: 12).

Semoga dengan bersyukur, Allah menambah nikmat-Nya kepada kita semua, sesuai janji-Nya:  لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim [14]: 7).

Maka syukur itulah kunci kita untuk bahagia hidup di dunia fana ini. Lebih-lebih pada hari ini, patutlah kita bersyukur dan berbahagia, kenapa? Mari kita tengok ke kanan, kiri, belakang dan depan kita. Orang-orang yang kita kasihi dan kita sayangi, mungkin saudara, kerabat dan para tetangga. Idhul Fitri tahun lalu mereka masih bersama-sama dengan kita, tetapi hari ini telah tiada.

Kemana mereka? Mereka ada, tapi tempatnya sudah berpindah dari alam dunia ini ke alam barzkah. Tahukah kita, bahwa sebenarnya meraka juga sangat ingin seperti kita, menyambut idhul fitri bersama-sama dengan kita. Tetapi apa daya umur tidak bisa ditunda dan dicepatkan barang sedikitpun. Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-Araf, 7)

Diantara orang yang kita cintai itu, mungkin ada istri atau suami kita, atau salah satu dari kedua orang tua kita, bahkan mungkin keduanya yang sudah mendahului kita. Masih terbayang senyuman mereka di pelupuk mata. Masih terkenang bagaimana tutur-kata dan semua pengorbanannya untuk kita. Bahkan mungkin masih terasa hangat belaian kasih dan telapak tangannya saat kita mencium tangannya ketika meminta restu. Tetapi hari ini, mereka sudah tidak bisa bersama dengan kita. Hari ini tidak ada lagi tempat kita untuk mencurahkan isi hati ini, tidak ada lagi….

Lalu sebagai anak, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? Padahal pengorbanannya tiada tara untuk kita. Seorang ibu harus mengandung sembilan bulan sepuluh hari lamannya dengan susah payah. Ketika ia melahirkan, nyawanya menjadi taruhannya? Lalu ia menyususui dengan sepenuh hati, tengah malam tanpa harus tidur, demi menjaga sang bayi. Melindungi dari gigitan nyamuk dan lain sebagainya. Sementara seorang ayah bekerja tiada henti, berladang atau bersawah tanpa mempedulikan lagi panas dan hujan, bahkan kesenangannya sendiri, semua itu demi anak-anaknya bisa sekolah dan hidup yang layak. Ketika sekarang kita sudah dewasa, dan hidup kita lebih baik dari mereka, apa yang bisa kita korbankan untuk mereka?

Di hari fitri ini, mari kita ketuk hati yang barangkali terlampau lupa ini, lalu bertanya, sudah sepadankah balasan kita pada mereka? Padahal Allah memerintahkan:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ

 (Dan Tuhanmu memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtuamu dengan ikhsan, QS. Al-Israa’, 23). Kata ikhsan lebih mulia dari kata ma’rufan dan khairan. Karena ikhsan adalah kebaikan yang bersifat khusus dan permenan, sementara khairan bersifat universal dan ma’rufan bersifat situasional. Kenapa bersifat khusus? Karena dalam diri kita ada airan darahnya. Karena dalam diri kita ada dagingnya. Karena dalam diri kita bahkan ada degupan jantungnya? Jika kita merasa ada sedikit rezeki, maka hendaklah sedekahkan rezeki itu dijalan Allah, dengan atas namanya. Dan, jika kita belum bisa, sekurang-kurangnya, marilah kita doakan mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَيَانَا صِغَارًا

“Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kami kecil.”

اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.

Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah.

Ramadhan yang sudah kita tinggalkan adalah saat-saat dilimpahkannya rahmat (rahmah), ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari api neraka (itqun minan nâr). Mudah-mudah kita semua mendapatkannya. Amin. Lebih dari itu Ramadhan juga wahana atau madrasah penempaan diri. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari pendidikan Ramadhan, tetapi pada kesempatan yang terbatas ini, Khotib yang dloif ini akan menyampaikan lima hal.

Pertama: Adalah Tertanamnya Ketaqwaan.

Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa). QS. Al-Baqarah, 183.

Allah Swt. mengakhiri ayat tersebut dengan “agar kalian bertakwa”. Dalam hal ini, Syekh Musthafa Shaudiq al-Rafi’ie (w. 1356 H/1937 M) dalam bukunya Wahyu al-Qalam, mentakwil kata “taqwa” hampir sama dengan kata ittiqa, yakni kuat menjaga diri dari segala bentuk nafsu bahimiyyah (kebinatangan) yang menjadikan perut sebagai tuhan. Perut adalah lambang dari hubbudunya atau materi. Karenanya jika seseorang hidup hanya demi mementingkan “perut” atau materi kapan pun dan dimana pun maka disitulah sifat kebinatangan akan tumbuh.

Karenanya dengan pendidikan Ramadhan, kita seharusnya makin kuat untuk terhindar dari perbuatan bahimiyah (kebinatangan) yang bisa merugikan dirinya sendiri juga dapat merugikan orang lain. Sebulan penuh kita sudah belajar tidak makan dan minum saat berpuasa, padahal makanan dan minuman itu kita beli dengan uang yang halal. Juga kita tidak menyentuh istri atau suami, padaha mereka kita nikahi secara sah dan halal. Maka jika kita kuat mengendalikan dari yang halal, Insyaallah setelah Ramadahan ini kita akan kuat dengan yang haram.

Selain itu, kata fithri secara maknawi ada juga yang mentakwil dengan arti memakai pakain. Tentu yang dimaksud memakai pakaian disini adalah pakaian takwa, sebagaimana yang disyaratkan dalam surat Al-Baqarah, ayat 183, bahwa tujuan berpuasa adalah supaya kita bertakwa. Selama Ramahdhan kita sudah menenun takwa sepanjang hari, dan saat idul fitri itulah kita memakai pakaian takwa agar meningkat (Syawal) jati diri kita. Dalam konteks ini kita mengingat pesan Ilahi: Janganlah kita menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, ia mengurai kembali hasil tenunanya yang rapi sehelai benang demi sehelai sehingga tercerai-berai (an-Nahl, 92). Artinya madrasah puasa selama sebulan itu harus terus kita pakai (fithri) sampai setahun mendatang, bahkan lebih.

Puasa diibaratkan seperti menenun atau menjahit pakaian ini juga seperti yang sudah dicontohkan ulat yang bertapa dalam tenunannya (kepompong), setelah selesai menenun, ia memakai sayapnya yang indah untuk terbang (kupu-kupu), atau bisa juga diibaratkan sang laba-laba yang menenun rumahnya sehelai demi helai, kemudian ia memakai (fithri) agar ia menjadi tenang hidupnya. Allah Swt bercerita tentang balasan yang telah Ia siapkan untuk orang-orang yang bertakwa: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Qs. Al ‘Imran [3]: 33).

اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.

Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah.

Kedua, Meningkatkan Kepekaan Sosial

Dengan berpuasa, seorang diajarkan bagaimana ia bisa merasakan lapar dan dahaga, agar sensitifas sosialnya peka, dengan berpuasa seorang juga diajak untuk menyelami dunia spritualitas-humanisme, misalnya dengan penekanan pentingnya jujur pada diri sendiri, karena berpuasa mengharuskan orang bisa menahan dari makan dan minum, baik ada orang maupun dalam keadaan sendiri, serta pantang bicara yang kotor, berbuat yang tercela dan tak berguna.

Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasanya “cinta” timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa. Jadi, jika cinta antara orang kaya yang merasa lapar terhadap orang miskin yang lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam dirinya  menemukan kekuasaannya sebagai “sang mesias”, juru selamat. Orang yang punya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya akan menghidupkan hubungan batin mendengar suara sang fakir yang merintih. Ia tidak serta merta mendengar itu sebagai suara mohon pengharapan, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang tidak ada jalan lain untuk disambut, direngkuh atau direspon, akan makna tangisannya itu. Orang yang kaya harta akan memaknai itu semua atas pengabdian yang tulus, imaanan wahtisaaban, yang semua ikhlas hanya karena Allah.

Allah berfirman: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Nabi Muhammad Saw. juga bersabda: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Kamu tidak beriman, hingga kamu menyayangi saudaramu seperti menyayangi diri sendiri”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Maka, orang yang mengaku beriman, tapi tidak mau berbagi, maka diragukan keimanannya, ليس بالمؤمن الذى يبيت شبعانا وجاره جائع إلى جنبه “Bukan orang beriman, orang yang sanggup tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya di sampingnya dalam keadaan lapar.” (HR. al-Hakim).

Ketiga, Qiyamulail.

Bangun malam amat sangat sulit, tapi selama Ramadhan kita selau diajari bagaimana indahnya bangun malam itu. Bukan hanya untuk makan sahur semata. Tapi untuk melaksanakan Qiyamullail. Allah Swt berfirman,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Qs. al-Isra’ [17]: 79).

Surga dijanjikan Allah Swt untuk orang yang melaksanakan tahajjud di waktu malam, أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makanan kepada orang miskin, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang banyak tidur, maka kamu akan masuk surga dengan selamat.” (HR. at-Tirmidzi).

Ketiga, Menjalin Silaturahmi.

Selama Ramadhan setiap malam kita bertemu dengan keluarga, teman dan sahabat. Mungkin dalam tarawih, ‘itikaf dan tadarus. Hubungan baik dengan keluarga kita lanjutkan dalam Silaturrahim. Hubungan baik dengan sahabat kita lanjutkan dalam Ukhuwwah Islamiyyah. Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya, orang-orang yang memutus silaturrahim. Maka Rasulullah Saw memberikan ancaman, لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ “Orang yang memutuskan silaturrahim tidak akan masuk surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, tidak ada momentum yang paling indah untuk berjabat tangan memohon maaf, apapun itu masalah dan salah, baik dilukai atau melukai, dikhianati atau menkhianati, maka inilah hari yang indah untuk mempererat silaturahmi. bahkan, hubungan yang baik dapat mengampuni dosa-dosa, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا “Dua orang muslim yang bertemu, bersalaman, Allah mengampuni dosa-dosa mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Keempat, Istiqamah membaca Al-Qur’an

Selama Ramadhan barangkali kita lebih dari sekail atau dua kali menghatamkan al-Qur’an, selepas Ramadhan bukan berarti kita meninggalkan al-Qur’an. Tetapi perlu menjaga momentum istiqamah itu. Kenapa? Karena al-Qur’an adalah penyembuh hati yang sakit dan peluas hati yang sempit. Kenapa demikian? Menurut Allusi dan Al-Jilani, karena tiap huruf dari Al-Quran itu mempunyai jiwa. Oleh karena itu saat orang sedang membaca Al-Quran, saat itu pula ada jamuan kerinduan, antara jiwa mutma’inah orang dengan jiwa-jiwa muqaddasah Al-Quran, maka pantaslah jika orang dibuat sembuh jika sakit, atau tentram dan tenang.

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Isra’ [17]: 82).

Jika di dunia ini kita membutuhkan pertolongan, maka kita bisa meminta tolong kepada saudara-saudara kita, kerabat dan para sahabat. Akan tetapi akan ada suatu masa nanti, seperti yang difirman  Allah dalam surat ‘Abasa: يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya.” (Qs. ‘Abasa [80]: 34-36).

Mengapa semua orang melarikan diri dari orang-orang yang mereka kasihi?! Padahal di dunia dahulu mereka tidak bisa berpisah walau sedetik pun. لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (Qs. ‘Abasa [80]: 37).

Karena itu istiqamahkan kita dalam membaca Al-Qur’an sebab kelak dia akan datang menolong kita, sebagaimana firman Allah: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim).

اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.

Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah.

Kelima, Mecintai Masjid

Selama sebulan penuh aktifitas kita ada di sekitar Masjid, untuk melaksanakan berbagai ibadah, maka selepas Ramadhan harus kita pertahankan. Kenapa? Karena masjid bagi orang yang beriman adalah taman surga. Maka, siapa yang mendatangi masjid, berarti ia hadir ke taman surga.

اِذَا مَرَرْتُمُ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا قِيْلَ : يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَارِيَاضُ الْجَنَّةِ ، قَالَ  الْمَسَاجِذُ

“Rasulullah SAW bersabda: Jika kamu sekalian melewati taman-taman surga, maka kata beliau, Hendaklah kalian masuk untuk bersenang-senang (rihlah) di taman-taman surga itu. Ya Rasulallah, Para sahabat bertanya,  Apakah yang dimaksud dengan taman-taman surga itu : Rasulullah SAW menjawab, Yaitu, masjid-masjid.” (HR. Imam At-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Sebelum kita akhiri khutbah idul fitri ini, kami mengajak kita semua untuk menjadi bagian dari orang-orang yang memakmurkan masjid, menjadi orang yang selalu mundar-mandir dari masjid ke masjid setiap hari, menjadi orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Marilah kita menjadi ahlu masjid.

Akhirnya, sudah berapa kali puasa kita lewati sepanjang kita hidup? Sudahkah ciri-ciri sukses Ramadhan tersebut melekat dalam diri kita? Wallahu a’lam bish shawab.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ 7×، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

One thought on “ENAM MADRASAH DARI RAMADHAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *