Laut Dan Bibir Yang Bertahi Lalat

Posted on Posted in Cerpen, Karya

Cerpen

[Empati pada Illa]

Oleh : Aguk Irawan Mn

WAJAH yang bertengger tahi lalat di bibirnya itu melemparkanku cukup lama dan tajam, menghentakkan masa silamku, gadis kecil, sebuah kampung halaman dengan pohon-pohon yang lebat di setiap tikungan jalan, kupu-kupu, kicau burung berkejaran dengan nyiur daun kelapa, pantai yang diselimuti pasir, gemuruh ombak, dan laut membentang seperti garis yang menelanjangi bumi.

Aku seperti terpelanting dalam laut, terombang-ambingkan oleh arus yang dahsyat, dengan badai ombaknya, dan anginnya yang sering menerjang air dengan kencang dari pada menyepoikan suasana dan menyisir daun-daun dengan lembut. Aku terkapar dengan sesak dada yang hampir tak tertahankan. Masa lalu berputar, seperti memutar sebuah lagu rindu dan getar nada cinta. Lalu, mulai berloncatan bayangan masa kanak-kanakku, yang lamat mulai teringat di pikiranku, dan pikiran itu beranak-pinak, seorang gadis kecil yang cerewet membuka lembaran cerita.

oOo

IA adalah gadis kecil, yang pernah menyelami kehidupan bersama saat masa kanak-kanak kami yang paling segar. Tak bisa diingat sejak kapan aku mulai berkenalan serta mengenalnya, barangkali tak mungkin bisa tercatat pada kurun waktu, seperti hari, tanggal, dan tahun tertentu. Tak ada yang mampu mengingatnya, bahkan sekalipun orang dewasa, termasuk orang tuaku, maka bisa kupastikan tak ada satu orangpun yang mampu mengingatnya, sejak kapan aku mengenali gadis kecil itu. Ia ada dalam kehidupanku, seperti adanya rumahku beserta berandanya, seperti kupu-kupu yang kudapatkan saat senggang waktu, atau seperti sebuah pantai luas yang menjulang di pinggiran rumahku, juga pohon-pohon yang lebat tegak tinggi menjulang ke laut.

Di masa kanakku, aku memanggil namanya dengan sebutan “Andeng”. Aku tak ingat persis mulai kapan nama itu melekat pada dirinya, padahal yang kutahu Ayah Ibunya selalu memanggilnya dengan nama “Sulis”, tapi aku tak perduli dengan nama itu, sebab dari banyak teman kanak- kanakku ia selalu dipanggil Andeng, sehingga tak salah, jika aku juga ikut memanggilnya Andeng. Aku teringat. Mula-mula saat kupanggil Andeng, betapa ia marah dan geram, sambil menghardik dan menyumpahi serapah kami. Tapi apa boleh buat, teman kanak-kanakku yang lain seakan sudah mengutuknya dengan nama itu.

Melalui mulut temanku Tardji, ketika kami sedang bermain di pantai mengumpulkan karang dan belalang, aku baru mengerti kenapa ia dipanggil Andeng, dan bukan nama aslinya Sulis sebagaimana Ayah- Ibunya dan guru ngaji kami di surau memanggilnya. Ternyata nama itu melekat lantaran di bibirnya bertengger tahi lalat, dan oleh penduduk kampung kami, benda itu dinamakan “andeng-andeng”. Dan orang tuaku bilang, bahwa tahi lalat di bibir itu pertanda pemiliknya ceriwis. akupun diam-diam menyetujui pendapat itu, sebab selama kami berteman, memang Andenglah yang paling sering ceriwis, usil dan suka berteriak, suaranya menyusup sayup-sayup, melengking lantang, mampu mengalahkan suara debur ombak, sekalipun di musim hujan.

Dalam kanakku, aku hidup di masa yang paling menyenangkan, meskipun orangtuaku seorang buruh nelayan, dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang terkadang ikut membantu mencari uang dengan kerja menjemur ikan yang tak laku di tengkulak sebelah rumahku, tapi rasanya tak ada yang perlu dirisaukan. Dan nyatanya, di keluargaku uang bukanlah bagian yang terlalu penting dalam menentukan kebahagiaan, semuanya terasa cukup dan mengalir segar dengan ketenangan. Apalagi saat datangnya musim kemarau, dengan luas pantai yang mengelilingi kampungku, banyak hilir mudik teman kanak-kanakku yang senantiasa memberi kebahagiaan, bermain dengan layang-layang, atau bermain petak umpet diantara gundukan pasir dan rerumputan pandan yang menggerombol di samping batu-batu besar yang berjajar berserakan, kadang juga berenang bersama sambil bertelanjang bulat, tak perduli laki atau perempuan. Lantas kami mengumpulkan karang dan kepiting, serta membuat patung-patung rumah yang terbuat dari pasir laut secara gotong-royong, dan kami biarkan patung itu sampai ombak datang merusaknya. Menyapu bersih gundukan pasir yang berbentuk patung itu.

Di musim penghujan, pantai dan laut kamipun tak pernah sepi dan lengang oleh permainan dan kelekar anak-anak, bahkan disaat turun hujan deras sekalipun, kedatangan air yang jatuh itu bagaikan surga di masa kanak-kanak kami, yang kami sering menyambutnya dengan buka pakaian, bertelanjang bulat. Di saat hujan begitu aku biasanya bersama dengan enam temanku yang lain, yang dua adalah perempuan, Andeng dan Yuli, sementara yang keempatnya adalah laki-laki, Tardji, Kairil, Keswono, dan Imam. Sudah bisa dipastikan, yang selalu tak tahan bermain sepanjang hujan di pantai adalah Andeng, lalu ia terus merengek dan minta berhenti dari permainan. Dan yang membuatku paling kesal, saat tidak dituruti keinginannya, ia menangis sekonyong- konyong, karena suaranya yang keras melantang, tangisan itu akhirnya didengar orang tuanya, dan inilah yang paling membuat kami berlima merasa takut, ya takut sekali, kalau-kalau orang tuanya yang paling kaya di desa kami itu memarahi kami dan kedua orang tua kami. Karena suatu waktu Ayah pernah bilang padaku, kalau bermain jangan sampai

membuat Andeng menangis, karena perahu yang buat mengail ikan sehari-hari ini adalah milik Ayahnya, nanti bisa-bisa Ayah tidak pergi ke laut. Dan kata-kata itu selalu kuingat saat sedang bagaimanapun keadaan kami bermain. Maklum Ayah Andeng adalah seorang tengkulak yang paling sukses di desa kami.

Mungkin karena aku sering memergoki Ayah dimarahin Ayah Andeng tengkulak yang kaya itu, lantaran telat membayar sewa perahu, kejadian itu telah merubah sikapku dalam bermain dengan Andeng, dan kemudian kami selalu turut memanjakannya, bahkan tidak jarang kami menggendongnya untuk mengantarnya pulang, dan sikap seperti ini juga sering dilakukan oleh teman-teman sebaya kami. Tentu saja dengan tidak keberatan, meski dalam gendongan Andeng sering membuat kesal, dengan ceriwisnya yang tak habis. Namun, sampai di rumahnya, Ayah Andeng melihatku dengan senyuman yang lebar, sambil memujiku, bahwa aku adalah anak yang baik, dan pintar, sambil ia keluarkan ketela rebus yang jarang sekali aku dapatkan dari orang tua. Itu yang selalu membuat aku tak bosan-bosan menggendongnya. Betapa beruntungnya aku. Laut dengan pantai, Andeng dan hujan di masa kanakku semua kurasakan begitu sempurna membahagiakan.

Di desa terpencil itulah, kami tumbuh besar, sebagai anak laut. Dalam bimbingan pantai, ombak dan hujan, sehingga aku terus tumbuh dengan kecintaan yang teramat dalam pada laut. Ketika pasang, aku sering memperhatikan di setiap pagi, ikan-ikan yang kadang tak tahu diri, berani sekali ke tepian, melongok. Dan saat surut, di senja hari, kami banyak menemukan karang dan kepiting mati bergeletakan di pasir pantai, juga pergantian musim dari hujan menuju kemarau yang sangat pelan, semua benar-benar kurasakan utuh dengan keindahan yang paling sempurna.

Dan, di kampung itu pula, aku mengenal seorang anak tengkulak yang oleh banyak orang dipanggil dengan nama Andeng, karena tahi lalatnya yang bertengger di bibir.

Suatu saat pada musim kemarau, ketika laut telah surut, dan gundukan pasir melengkuk seperti alis perempuan, aku bersama teman-teman lain sering berkumpul dan bermain petak umpet. Seperti biasanya, oleh teman-temanku aku dianggap yang yang paling pintar mengumpat, karena aku selalu memilih batu besar buat bersembunyi di antara deretan semak-semak ilalang yang agak jauh dari permainan. Namun saat itu, betapa terkejutnya aku, Andeng yang tidak ikut petak umpet, tiba-tiba memergoki persembunyianku, kemudian dengan teriakannya yang melengking itu ia bilang, ini Agus, hoii, ini Agus! Kesinilah Kairil, Tardji..!! Sungguh ingin segera aku menyumpal mulut yang ceriwis itu, dan menamparnya dengan keras-keras. Dan lagi, belum juga selesai kesalku, namun wajah Andeng kulihat tak ada ketakukan sedikitpun, bahkan yang paling membuatku kesal, bibir yang bertengger tahi lalat itu masih saja terus ceriwis dan tertawa sambil menuding-nudingku. Tapi apa boleh buat, aku selalu ingat perkataan Ayah, jangan sampai membuat Andeng menangis.

Di musim kemarau yang lain, ketika di suatu sore, dengan cuaca yang sangat cerah, kami bersama teman-teman yang lain sedang mencari belalang, kupu-kupu dan capung. Kami memang suka menangkap binatang yang menyenangkan itu, dan kami saling berlomba mengumpulkannya, dengan taruhan, siapa yang paling banyak diantara kami mendapatkan kupu-kupu, belalang, atau capung, akan mendapatkan hadiah gendongan dari temam kami, sampai pada batas tertentu. Dan seringkali, dalam jarak beberapa senti meter, saat aku sedang membidik capung dari belakang, Andeng datang dengan tiba-tiba, sambil berteriak-teriak, dan teriakannya yang keras itu menghentakkan capung, lalu terbang dengan terbirit-birit. Saat melihat capung yang terbang itulah, Andeng kudapati tertawa dengan kelekar. Dan betapa kesalnya aku. Di musim kemarau itu, Andeng yang bertahi lalat di bibirnya semakin sering membuatku kesal. Dan Aku selalu dibuat dungu di hadapannya.

SEWAKTU aku sudah mulai masuk Sekolah Dasar, aku sudah mulai jarang bermain ke pantai, tapi, aku sering ikut Ayah berhari-hari di laut, mengail ikan, membantu pekerjaanya demi kebutuhan keluarga, jajan adik-adikku, juga buat beli baju baru saat lebaran mulai dekat. Sekalipun demikian, seingatku, aku tak pernah protes pada Ayah, kenapa keluarga kami begitu miskin? Suatu saat, ketika perahu kami merapat ke pantai, sesekali aku lama termenung sendiri menatap pantai dan laut yang menghampar itu, sambil bertanya pada diri sendiri, dan pertanyaan itu seperti sebuah protes pada kehidupan; kenapa manusia cepat menjadi tua? Ya andai saja waktu bisa berhenti, tentu aku memilih menjadi kanak-kanak yang selalu akrab dengan pantai dan laut. Tapi apa boleh buat, nyatanya waktu terus merenggut hidup kami setiap saat dan dimana saja.

Saat merenung seperti itu, di sana aku melihat keramaian dan kerumunan penduduk yang panik, dan pandangan ini tentu saja mencuri perhatianku, tak lama dari itu akupun mendekatnya, pada kerumunan yang berjubal orang itu, lamat aku kenali, di sebuah kerumunan itu di tengahnya ada tubuh kaku tergeletak, dan alangkah terkejutnya aku, yang tergeletak adalah Andeng, gadis cantik yang bertengger tahi lalat di bibirnya itu, ia rebah terkapar di tengah kerumunan masa. Belum sempat aku bertanya, kenapa seperti itu? Tapi dorongan lain yang lebih cepat dari yang kuinginkan bergerak. Aku memeluknya sambil meraung seperti ingin melepaskan semua beban, aku juga tak mengerti entah kenapa tiba-tiba saja aku meraung seperti orang kesurupan, dengan sekuat tenaga. Namun kerumunan masa itu menghadang tenagaku untuk terus memeluknya.

Di pantai dengan segala cinta kami pada laut, Andeng menjemput maut, banyak sekali saksi. Diantaranya adalahTardji temanku yang sedang merapatkan perahu ke pantai, yang tempatnya tak jauh dari kejadian itu bilang. Kalau-kalau ia melihat seorang gadis kecil, tapi tidak mengerti kalau itu Andeng, sedang termenung di sebuah batu besar, sendiri menghadap ke laut. Sementara warga lain, seorang penjala ikan, bahkan lebih dekat dari kejadian itu bilang, sore itu melihat seorang gadis cantik, mengenakan kaos lengan panjang, dan memakai rok, berjalan lenggang dengan pandangan lurus menuju ke laut dari arah batu besar di tempat situ. Sementara hanya penjala ikan yang mendengar teriakannya saat tubuh gadis cantik itu terseret gelombang laut. Namun, tenaga penjala ikan yang lemah itu tak mampu melawan kecepatan arus laut yang pasang, dan tubuh gadis itu semakin menjauh, kemudian lenyap ditelan laut. Dan ketika jasadnya ditemukan, maut itu benar-benar telah menjemput pemilik bibir yang bertengger tahi lalat itu.

PEREMPUAN tadi siang, yang kutemui di sebuah deretan kursi, tempat ruang tunggu, gedung birokrasi Negara, perempuan dengan tahi lalat tipis yang bertengger di bibirnya, entah wajah itu dalam pikiranku terasa sunyi, nyinyir dan memutar perasaan yang perih, aku seperti terpelanting lagi ke dalam laut, tersayat gelombang, dan terlemparkan arus badai, sekitar lima belas tahun yang lalu, masa lalu itu berulang, berputar seperti album kehidupan, sebuah kampung halaman dengan laut, kehidupan kanak yang indah sempurna membayang, seraut wajah Andeng yang bertengger tahi lalat di bibirnya, dengan segala ceriwis saat turun hujan. Tapi kini semuanya hilang begitu saja dalam senyap yang mencekam ditikam misteri laut, tidak hanya Andeng, tapi sekitar tiga bulan yang lalu juga kampung halaman kami, beserta pantainya yang indah, ketika gelombang laut menerjang, menghanyutkan dan menenggelamkan. Badai laut itu memporakporandakkan. Pepohonan tumbang, serupa -daun-daun yang gugur sebelum waktunya, semua hilang terseret oleh laut, terbelah oleh gelombang dan gempa yang berkekuatan tinggi, dan gelombang itu telah menjadikan kuburan massal bagi penduduk kampung kami, jatuh terhempas. Gedung-gedung roboh, tak ada tiang yang mampu menyanggahnya. Semua menjadi sampah dan puing- puing tak berharga. Dan tak mampu lagi aku mengingatnya.

Dan sejak itu awan-awan berarak gelisah. Tak ada kupu-kupu dan seekor pun burung yang melintas berkicau. Dan suasana seperti ini tentu saja menjadikan aku benci dengan laut, karena sekali lagi, ya saat mengingat patahan tulang teman kami tergeletak di bawah reruntuhan pohon-pohon dan bangunan, air mata yang membeku dalam erengan tangisan, darah yang telah habis mengalir, beribu-ribu wajah hilang di beranda senja, dicabik-cabik duka sunyi memberhentikan ziarah dan perjalanan pulang penduduknya, menelan begitu saja nyawa jauh dari hidup yang didambakannya, aku sungguh terlampau benci pada laut, juga benci dengan perempuan yang bertengger tahi lalat di bibirnya itu. Tapi bukannya kebencian dan kemarahan tak perlu diutarakan terlalu panjang. Dan nyatanya, toh aku tidak bisa melupakannya, begitu saja, kemudian padanya kukatakan via sms:

Seperti pelangi bayanganmu menyisakan warna saat langit mulai cerah,
namun engkau misteri yang terperih. Dan senyummu yang sekejap tadi,
seperti warna pink yang membelah hati.

 

Kairo, 28 Maret 2005.

Ikuti, Suka, dan Bagikan :
20

4 thoughts on “Laut Dan Bibir Yang Bertahi Lalat

  1. Ini di kumcer “Sungai yang memerah” kalo tidak salah.
    Paling suka juga yg “Bibir yang sama sepertimu bertahi lalat di bibirnya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *